Sayangnya Geo dan Giran terlalu sibuk dengan amarah mereka tidak menyahuti ucapan Lara dan tangan Giran mendorong Lara yang berusaha memisahkan antara Giran dan Geo kemudian karena tenaga Giran dipenuhi amarah, ia sampai membuat Lara terjatuh bahkan infusannya tercabut dengan paksa membuat pergelangan tangan Lara terluka dan mengeluarkan warna merah yang cukup banyak.
Geo yang melihat hal ini membuat pemuda itu bergegas mengendong Lara ke ruang UGD sebab ia khawatir jika luka di tangan Lara tidak mendapat perawatan yang baik sedangkan Giran merasa kesal melihat ada orang lain yang mengambil Lara dari sisi Giran, tadinya pemuda itu ingin membantu Lara hanya saja ia kalah cepat.
"Apa-apaan pria itu sih?! Harusnya tuh aku yang menolong Lara! Kalau aku menolong dia bisa jadi Lara memikirkan lagi soal ucapanku, tapi karena cowok aneh itu aku jadi kehilangan kesempatan terus sekarang ngapain coba aku di sini!! Sia-sia jalan ke sini kalau ternyata buat bantuin Lara aja aku masih kalah cepat, dasar gak guna dia itu!!" gumam Giran geram.
Giran yang merasa tidak bisa melakukan apapun lagi di sini membuat pemuda itu pergi dari rumah sakit itu sementara Geo yang melihat Lara diobati berusaha menenangkan dirinya sebab ia masih kesal dengan Giran yang membuat teman baiknya terluka seperti ini, di tengah fikiran Geo yang bercampur aduk tak lama Lara berusaha menenangkan Geo untuk jangan sedih.
"Kenapa sih gue malah kepancing emosi! Gara-gara cowok gak jelas itu Lara jadi terluka begini kan! Baru tau kalau ada cowok yang sepayah itu dan jujur sampe sekarang rasanya gue masih kesal banget sama cowok modelan Giran itu!! Ada ya cowok bilang cinta taunya buat perduli sama Lara aja gak! Malah karena dia sekarang Lara jadi gini, dasar aneh?!" batin Geo geram.
"Jangan terlalu larut dalam emosi, Geo! Aku baik-baik saja ya namanya juga musibah mana bisa kita tau dan hal seperti ini sudah bukan hal baru untukku jadi kamu tidak pernah menyalahkan dirimu atau Giran, sebab aku yang salah karena tak bisa melindungi diriku sendiri dan salahku juga karena pernah mencintai orang seperti dia! Kamu tak usah sedih Geo," ucap Lara lembut.
Mendengar nada sendu dan lembut dari temannya membuat Geo menghela nafasnya pasrah lalu pemuda itu menanyakan bagaimana keadaan luka Lara pada dokter yang selesai menelpon seseorang lalu dengan lembut Lara menjelaskan jika dokter ini adalah dokter yang biasa untuk menangani Lara dan dokter ini juga mengenal Rajan.
"Ini Lara sudah baik-baik saja dokter? Bagaimana keadaan lukanya? Seriuskah? Atau nantinya akan memiliki efek untuk Lara? Sekiranya ada hal yang perlu lakukan sebaiknya dokter bilang saja biar Lara bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik! Apakah karena hal ini maka akan mempengaruhi penyakitnya, dokter?" tanya Geo serius.
"Alhamdulillah sudah baik-baik saja dan keadaan lukanya hanya perlu penanganan biasa seperti ganti perban dan nanti lukanya akan pulih, syukur alhamdulillah tidak ada hal serius ataupun efek samping dari kejadian ini dan soal lukanya tidak mempengaruhi penyakit Lara karena ini luka dari hal yang tidak bisa di sangka ya? Selebihnya Lara baik-baik saja," tutur dokter itu serius.
"Iya dokter namanya juga musibah ya, oh iya Geo! Kenalkan ini dokter yang biasa menangani aku dan dokter ini juga mengenal baik dengan Rajan! Sepertinya tadi dokter habis memberi tahu Rajan ya? Padahal aku tidak ingin membuat dia khawatir dan pergi ke taman karena bosan eh ternyata apa yang aku pikirkan tidak sama dengan kenyataan yang terjadi ya," ucap Lara lembut.
Pemuda itu mengerutkan dahinya bingung lalu tak lama Luruh berlarian ke ruang UGD dan ia memeluk kakaknya erat sambil menanyakan apa yang terjadi sampai Rajan menghubungi Luruh karena pemuda itu masih ada pekerjaan dan akan datang terlambat jadi ia meminta tolong pada Luruh untuk menjaga Lara sampai ia datang.
"Kak Lara! Astagfirullah kakak, kenapa kakak bisa masuk UGD begini? Aku kira kakak di jagain sama kak Rajan eh kok malah jadi seperti ini sih kak? Tadi kak Rajan telpon katanya dia dapat telpon dari dokter kalau kakak terluka terus dia akan datang terlambat karena ada pekerjaan dulu sebentar! Ya ampun kak, apa kakak baik-baik saja? Mana yang luka?" tangis Luruh khawatir.
Melihat adiknya menangis sampai seperti ini membuat Lara membalas pelukan Luruh sambil ia mengusap-usap punggung adiknya lembut dan menjelaskan jika dirinya hanya kehilangan keseimbangan makanya Lara terjatuh sedangkan Axton yang melihat Luruh menangis ketika mendapat telpon membuat dirinya mengerti bahwa istrinya sangat menyayangi kakaknya.
"Tenang, Luruh! Aku hanya sedang tidak beruntung saja bukan masalah besar kok jadi tadi tuh aku pergi ke taman karena bosan lalu tidak sengaja aku kehilangan keseimbangan lalu tak lama terjatuh deh! Hal seperti ini kan sudah bukan hal baru untuk kakak, dek! Sudah ya jangan sedih lagi nanti kalau kamu menangis kakak juga ikut menangis loh," ucap Lara lembut.
"Oh jadi karena ini tadi Luruh menangis sesegukan bahkan ketika mendapat telpon ia langsung minta di antar ke rumah sakit karena hatinya begitu menyayangi kakaknya! Sampai-sampai dia panik dan untuk menjelaskan padaku saja dia belum sempat, kalau keadaannya seperti ini Lara harus sembuh sebab khawatirnya Luruh bisa sangat terpukul jika Lara tiada," batin Axton sendu.
Di tengah-tengah situasi yang canggung itu Luruh membantu Lara kembali ke kamar rawatnya dan diikuti oleh Axton dan Geo, tetapi ketika Geo baru hendak membuka pintu ruangan rawat Lara tak lama tiba-tiba ponselnya berdering membuat Geo menjawab panggilan telepon yang ternyata dari Rafael yang menanyakan keberadaan abangnya.
"Halo, assalamualaikum! Ada apa, Rafael? Jangan bilang kamu mau mengomel sama abang gara-gara kamu merasa cemburu sama suami Luruh? Kalau hanya hal itu saja yang mau kamu bicarakan sebaiknya nanti saja kamu telpon abangnya karena saat ini abang sedang sibuk, Rafael! Setelah di sini selesai abang pulang kok," ujar Geo datar.
"Waalaikumsalam, bang! Ini bang aku mau nanya emang sekarang abang ada di mana? Padahal tadi sebelum sampai di sini abang bilang cuma mau liat kak Lara sebentar abis itu pulang terus kenapa sampe sekarang masih belum juga sampe? Nyamper cewek mana lagi sih lu, bang? Jangan bilang lu lagi jalan-jalan ya?" tanya Rafael serius.
Butuh beberapa menit untuk memahami alasan Rafael bertanya seperti ini kemudian Geo mulai menyahutinya bahwa ia masih di rumah sakit karena tadi mantan Lara membuat Lara terluka, Rafael yang masih merasa bersalah pada Lara membuat ia meminta izin pada Geo bahwa dirinya ingin menjenguk Lara.
"Apaan sih, Rafael! Ngapain juga gue jalan-jalan, cewek mana kepala lu! Iya emang niatnya gue tuh cuma liat Lara sebentar cuma ini gue masih di rumah sakit karena tadi mantan Lara dorong Lara sampai tangan Lara yang di infus terlepas terus jadi terluka nah gue lagi nemenin dia bareng sama Luruh! Lu gak usah ngadi-ngadi gak jelas dah Rafael," sahut Geo serius.
"Astagfirullah, emang cowok itu sih keterlaluan! Jujur Rafael masih merasa bersalah sama kak Lara karena tadi aku mungkin udah menyakiti perasaannya dan kalau boleh abang izinkan kira-kira aku boleh gak menjenguk kak Lara? Soalnya inikan aku sedang menerima kesalahanku untuk merenungi ucapanku jadi aku tidak boleh gegabah kan ya," gumam Rafael takut.
Sebenarnya Geo khawatir jika nantinya Rafael malah mencari masalah karena tadi Luruh datang bersama suaminya, tetapi di lain sisi Geo paham jika adiknya sudah merenungi kesalahannya dan bagaimanapun juga tidak salah jika Rafael bertemu teman lamanya meskipun status Luruh sudah tidak lagi sendiri.
"Baguslah jika kamu memahami kesalahanmu, sebenarnya abang agak khawatir nanti di sini kamu mencari masalah karena belum bisa mengendalikan kecemburuanmu, tapi karena kamu sudah paham dan merenungi kesalahanmu ya sudah kamu boleh ke sini dan tolong nanti jangan membuat keributan di sini ya," ucap Geo serius.
Mendengar ucapan abangnya yang mengizinkan Rafael menemui Lara membuat pemuda itu mengakhiri panggilan teleponnya sambil meminta maaf atas egonya yang Rafael pahami jika dirinya terlalu memaksakan perasaannya padahal Rafael tidak memiliki kuasa apapun atas kehidupan yang bukan miliknya.
"Baiklah aku mengerti, bang! Kalau begitu aku tutup panggilan teleponnya dan aku minta maaf karena tadi aku terlalu egois dan terlalu memaksakan perasaanku padahal manusia seperti aku ini gak memiliki kuasa apapun terhadap kesempatan hidup ini! Kalau di pikir-pikir aku merasa malu dengan ucapanku, maaf bang! Ya sudah assalamualaikum," ujar Rafael sendu.
Setelah selesai menelpon Rafael tak lama Geo melanjutkan langkahnya untuk menemani Lara dan di lain tempat Rajan sudah dalam perjalanan karena reservasi yang Rajan terima sudah selesai jadi dirinya bisa menemui Lara yang kata dokter gadis itu terluka, tatapannya terlihat serius hanya saja pikiran Rajan terus memikirkan Lara.
"Entah apa yang terjadi pada Lara tadi, tapi sekarang perasaanku jadi gelisah karena belum tau bagaimana keadaan Lara sekarang? Bisa-bisanya Lara terluka saat aku jauh darinya dan bagus sih reservasi restoran tidak lama jadi aku bisa langsung menemui Lara! Sudahlah Rajan, fokus dulu dan tenangkan dirimu karena Lara pasti baik-baik saja kan ya," gumam Rajan khawatir.
Beruntung jalanan tidak seramai biasanya jadi Rajan bisa sampai di rumah sakit tanpa ia perlu berlama-lama di perjalanan lalu dengan cepat pemuda itu berlari ke ruangan rawat Lara karena Rajan ingin melihat sendiri separah apa luka yang di derita Lara dan pemuda itu juga ingin mendengar kronologi Lara bisa terluka seperti ini.
Sesampainya di kamar rawat Lara tak lama Rajan terdiam dan tidak cukup sampai di sana saja, tetapi ia terkejut melihat kehadiran teman lamanya dan dua teman Luruh yang entah sejak kapan mereka bertiga kembali dari luar negeri karena seingat Rajan tiga orang itu tinggal di sana untuk waktu yang lama.
"Loh? Aku fikir aku salah ruangan karena melihat banyak orang di sini? Sejak kapan kalian datang? Bukannya Geo, Rafael dan Danuel tinggal di luar negeri dalam waktu yang lama ya? Terus kenapa bisa ada di sini?!" gumam Rajan terkejut.
Geo yang melihat ekspresi teman lamanya terlihat terkejut dan kebingungan membuat Geo bercerita bahwa ia sudah menyelesaikan urusannya di luar negeri dan ia mendengar kabar jika Lara masuk rumah sakit lagi jadi itulah alasan Geo ke sini dan tatapan Geo juga terlihat sekilas memberi kode ke arah Luruh membuat Rajan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Lama tidak bertemu ya, Rajan! Aku dan yang lainnya sudah menyelesaikan urusan kami di sana dan aku dengar kabar Lara masuk rumah sakit makanya kami ada di sini sekarang! Kalau soal Rafael mah kamu paham maksud ucapanku kan ya? Pokoknya di sana banyak hal yang terjadi dan kamu taulah maksud aku," tutur Geo serius.
Tak lama Luruh dan Lara terlihat sibuk dan nyaman mengobrol dengan tiga pemuda yang sudah Rajan perkiraan mereka akan membuat hati Rajan dan Axton merasakan kecemburuan yang tak di pahami oleh dua gadis yang asik saja berbincang dengan teman lama mereka seolah-olah dunia hanya tentang Geo, Rafael dan Danuel.
"Sepertinya bukan hanya soal Rafael saja deh, Geo! Bahkan aku juga paham bahwa saingan terberatku selain Giran ya kamu itu! Senang sih bisa melihat Lara tersenyum bahagia seperti ini hanya saja cemburulah gue, Lara! Dunia ini gak soal Geo doang loh masa iya lu secepat itu lupa sama gue sih," batin Rajan datar.
"Dua orang itu siapa sih, nempel mulu sama Luruh! Macam perangko bernyawa aja mereka itu, ini lagi Luruh! Suaminya ngeliatin dia terus sampe mata gue pedih eh dia malah asik aja ngobrol sama orang-orang asing ini bikin perasaan gue cemburu aja dah?! Ya bebas sih kalau dua orang itu temen cuma itu satu cowok ngeliatin Luruhnya beda gitu masalahnya!" batin Axton kesal.
Awalnya Rajan dan Axton berusaha untuk sabar hingga tak lama tatapan mereka hampir sama saat melihat Geo membantu Lara sementara Rafael berusaha menarik perhatian Luruh, rasanya Axton dan Rajan seperti ingin melempar kedua pria itu ke dalam lautan agar rasa panas dan cemburu dihati mereka tak terasa menyesakkan seperti ini.
"Ya ampun, sabar Axton! Tenangkan dirimu dan ingatlah bahwa bagaimanapun dua orang itu godain Luruh tetap aja gue yang sah sebagai suaminya! Cuma tuh ya gak bisa bohong juga kalau gue cemburu dan panas aja melihat kedekatan mereka! Rasanya pengen gue lenyapin dua orang itu dah," batin Axton geram.
"Ya gak salah sih kalau Geo baik banget bantuin Lara ya lota bertiga teman dan berkat Geo juga gue kenal Lara cuma astagfirullah! Hati gue panas Geo, gue cemburu liat lu deket sama Lara dan Lara keliatan bahagia banget sama lu! Ini laut di mana sih? Pengen gue cemplungin lu aja rasanya biar gak bikin gue emosi?!" batin Rajan kesal.
Rafael dan Geo mungkin tidak memahami tatapan Axton dan Rajan, tetapi Danuel yang merasa ada hal yang tak beres berusaha terlihat biasa saja sementara Lara yang melihat Danuel seperti takut akan sesuatu membuat gadis itu menanyakan apakah ada sesuatu yang menganggu pikiran Danuel saat ini.
"Aduh, rasanya kayak ada yang natap kita tajam dah? Paham sih mungkin mereka cemburu sama sikap kakak-beradik ini cuma kan kenapa gue jadi ikut-ikutan kenapa juga ya? Eh apa cuma perasaan aku aja kali ya? Asli di sini hawa sama atmosfer ruangannya bikin aku takut aja dah! Udahlah coba terlihat biasa aja biar gak ada yang sadar kali ya," batin Danuel khawatir.
"Eh? Danuel kenapa? Kok wajahnya terlihat tidak nyaman begitu? Kamu sakit perut, Danuel? Atau ada hal yang mengganggu pikiranmu ya? Kalau memang sekiranya sekarang ada hal yang mengganggu pikiranmu jangan di pendam sendiri, sini cerita saja padaku atau Geo! Kamu sudah makan belum? Pucat sekali wajahmu itu?" tanya Lara lembut.