Luruh dan Lara yang tidak mendengar sahutan apapun dari Rajan membuat mereka berusaha menanyakan apakah Rajan keberatan dengan ide ini lalu dengan cepat Rajan menjelaskan jika ia sedang memikirkan persiapan yang terbaik untuk saran dari Luruh ini agar ia tidak melakukan kesalahan yang terulang seperti Giran.
"Loh kok Rajan diam aja? Apakah kamu keberatan dengan ide kami ya? Kalau sekiranya ada hal yang ingin kamu katakan bilang saja pada kami, Rajan! Ada sesuatu yang mengganggu hatimu atau bagaimana? Hm? Aku tidak akan mengerti jika kamu diam saja begini?" tanya Lara bingung.
"Sepertinya ide aku dan kakak terlalu terburu-buru untukmu ya, kak Rajan? Jika memang kamu keberatan atau tidak setuju dengan ide kami silahkan katakan saja! Apakah kamu baik-baik saja? Aku jadi merasa keterlaluan jika kamu diam saja seperti ini, sebenarnya ada masalah apa kak Rajan?" tanya Luruh khawatir.
"Tidak! Aku tidak merasa keberatan atau apapun kok jadi sejak tadi aku tuh sedang berpikir untuk menyiapkan segala kebutuhan dan hal yang terbaik untuk Lara! Maaf jika aku terlihat seperti orang yang banyak masalah ya? Tenang saja aku baik-baik saja kok! Kepercayaan yang kalian berikan padaku membuat aku tidak ingin melakukan kesalahan yang terulang seperti apa yang dulu pernah di lakukan Giran," tutur Rajan lembut.
Mendengar ucapan Rajan yang semangat membuat Luruh dan Lara tersenyum senang dan tak lama dokter yang biasa memeriksa keadaan Lara masuk ke ruangan Lara untuk melihat sudah sejauh mana gadis itu melawan penyakit yang menyakiti setiap bagian yang ada di tubuhnya karena hanya Lara satu-satunya pasien yang bertahan.
"Selamat pagi nona Lara! Wah syukurlah nona di temani keluarga dan teman-temannya ya? Kalau begitu saya akan memeriksa keadaan nona Lara ya? Silahkan nona duduk sini biar kami melihat perkembangan apakah nona sudah boleh pulang hari ini? Pasti nona Lara sudah rindu rumah ya," ujar dokter itu santai.
Tak banyak kata yang terucap dari Luruh, Lara dan Rajan sebab rasanya mereka sudah lelah dengan hasil pemeriksaan yang tak jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya lalu benar saja tidak lama dokter meminta Lara untuk di rawat beberapa hari lagi karena keadaanya masih belum juga membaik dari pertama kali ia di bawa ke rumah sakit ini.
"Sudah selesai pemeriksaannya nona Lara, saya mohon maaf jika untuk beberapa hari nona masih harus dirawat di rumah sakit karena keadaan nona masiu belum stabil dan beberapa terapi juga pengobatan akan nona jalani demi meminimalisir perkembangan penyakit nona yang semakin serius jadi mohon istirahat yang cukup ya," ucap dokter itu serius.
Kepergian dokter itu membuat Rajan memukul tangannya ke dinding yang ada di dekat dirinya sedangkan Lara tersenyum memandang langit yang saat ini terlihat cerah dan Luruh sangat mengerti jika kakaknya berpura-pura tegar di hadapan mereka padahal hatinya sedang hancur saat ini.
"Apanya yang meminimalisir?! Pengobatan dan terapi yang dijalani Lara selalu menyakitinya dan mereka masih mau Lara melakukan hal seperti itu lagi! Tidak mengertikah mereka jika selama ini Lara sudah berjuang demi kesembuhannya! Masa mereka tak bisa menyembuhkan Lara! Sebenarnya apa yang mereka lakukan selama ini sih!!" batin Rajan geram.
"Obat dan terapi lagi ya? Sepertinya hal itu seperti pengulangan yang harus selalu aku lakukan entah sampai kapan, tapi setidaknya aku bertahan demi diriku dan orang-orang yang ingin aku bahagiakan! Tidak apa-apa, Lara! Kuatlah kamu pasti mampu melalui semua ini! Tak apa ini hanya masalah waktu saja kok," batin Lara tegar.
"Sebenarnya apakah mereka sungguh-sungguh menyembuhkan kak Lara? Kenapa rasanya hasil pemeriksaan Lara selalu mengabarkan jika keadaannya memburuk? Sudah seberapa parah sakit yang kakakku tahan selama ini? Tidakkah mereka meringankan rasa sakitnya? Aku hanya ingin melihat ia bahagia bukan menderita begini," batin Luruh sendu.
Di saat keadaan ruangan ini terasa cukup campur aduk tiba-tiba saja Giran masuk ke ruangan itu seolah-olah ia adalah orang yang penting di sana lalu ketika Giran hendak menghampiri Lara tak lama Rajan mendorongnya menjauhi Lara bahkan pemuda itu memperingatkan Giran untuk jangan menguji kesabarannya.
"Bukankah sudah aku peringatkan beberapa waktu lalu ya? Tidakkah kamu mengerti bahasa manusia? Apakah rasa malumu telah hilang sampai masih berani kamu menemui Lara! Pintu keluar ada di sana silahkan jauhi Lara dan jangan menguji kesabaranku! Kami sedang tidak ingin berurusan dengan mahluk sepertimu," ujar Rajan datar.
Sayangnya Giran tak dibiarkan oleh Lara untuk membalas ulah Rajan padanya bahkan gadis itu menyuruhnya untuk meninggalkan ruangan ini karena ia sedang tidak dalam emosi yang baik dan Giran bukanlah hal yang mudah menurut jadi ia malah berbicara omong kosong perihal jika dirinya ingin memperbaiki dirinya.
"Ini rumah sakit tolong jangan buat keributan dan silahkan pergi saja dari sini, Giran! Aku tidak ingin menerima tamu siapapun sekarang! Lagipula sudah aku katakan jika sejak awal sudah tak ada hal yang perlu lu bicarakan lagi sama gue! Cepat pergi dari sini, Giran! Bukankah kamu yang bilang jika setelah kita putus tak perlu bertemu lagi," tutur Lara serius.
"Aku memang mengatakan hal demikian, tetapi bukankah manusia berhak memperbaiki diri mereka masing-masing? Tak ada salahnya juga jika aku ingin memperbaiki kesalahan yang pernah aku perbuat bukan? Aku memahami jika aku memang salah dan setidaknya biarkan aku mengulang semuanya dari awal Lara," sahut Giran santai.
Manusia memang terkadang tempatnya salah dan dosa, tetapi Luruh ingin tertawa di telinga Giran agar ia mengerti bahwa omongannya benar-benar tidak masuk akal bahkan bisa-bisa kucing juga akan menertawakan janji dari buaya darat satu ini bahkan setelah luka yang Giran berikan pada Lara baru sekarang ia memperbaikinya.
"Ya emang iya sih manusia berhak memperbaiki diri mereka masing-masing, tetapi manusia model lu malah agak konyol sampe bikin gue mau ketawa tau gak! Baru kali ini gue denger buaya darat kayak lu mau memperbaiki diri? Kucing juga ngakak kalo dengar omong kosong lu ini! Semudah itu lu bilang perbaiki tanpa tau luka yang di pikul kak Lara?!" ucap Luruh geram.
Ucapan tiba-tiba dari Luruh membuat Lara dan Rajan tersenyum senang sementara Giran malah memarahi Luruh membuat Lara tidak sanggup lagi menahan kemarahannya dan gadis itu menyuruh Giran menghilang saja dari hidupnya karena ia tak akan terima jika adiknya di marahi di hadapannya.
"Lu menghina gue hah! Tau apa lu soal gue! Ingat baik-baik ya ini bukan urusan lu jadi lu gak usah ikut campur apalagi menyimpulkan sesuatu hal seenak mulut lu aja dah! Bocah seperti lu mana paham soal hubungan gue sama Lara! Sebaiknya lu tutup aja dah mulut lu yang gak layak berbicara apapun dalam masalah orang lain tau gak?!" omel Giran kesal.
"Satu-satunya orang yang harus tutup mulut di sini tuh lu, Rajan! Gue gak pernah mengizinkan lu masuk ke ruangan ini
terus sekarang lu memarahi adik gue? Lu gak punya hak apapun jadi sebaiknya lu tau diri dah! Sejak awal emang lu yang mau gue pergi bukan? Yaudah sekarang gue udah pergi jadi silahkan urus aja hidup lu sendiri! Jangan ganggu Luruh?!" murka Lara geram.
Giran terdiam karena baru kali ini mendengar gadis itu marah sampai seperti ini dan Rajan yang tidak ingin kondisi Lara semakin memburuk membuatnya menarik kerah baju Giran menjauhi Luruh dan Lara karena Rajan tidak ingin pria semacam Giran datang hanya untuk menyakiti hati Lara lagi.
"Baru kali ini gue lihat Lara marah sampai seperti ini? Biasanya dia terlihat lemah lembut dan gak pernah berniat melawan gue? Terus sekarang kenapa gue merasa melihat orang yang lain? Datang darimana keberaniannya ini? Benar-benar tidak aku sangka sama sekali kalau Lara bisa menjadi seperti ini," batin Giran terkejut.
Dalam diam Giran berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Rajan, tetapi pria itu benar-benar menahan kerah bajunya dengan cukup kuat hingga tak lama ia dibawa ke taman belakang rumah sakit lalu di sana Rajan memukul Giran dan memperingatkan pemuda itu untuk jangan mengulangi kesalahan yang sama lagi pada Lara.
"Perlukah kamu saya bawa pergi keluar dari ruangan ini!! Sudah jelas Lara menyuruhmu keluar dari ruangan ini jadi sudah tak ada alasan apapun untuk kamu tetap di sini! Pergi sebelum kesabaran saya habis dan jangan mengulangi kesahan yang sama lagi karena saya tidak akan menjamin kamu akan baik-baik saja jika memaksakan diri begini?!" murka Rajan kesal.
Tidak cukup hanya di sana saja Rajan kembali memukuli Giran karena rasanya ia benar-benar harus membuat Giran mengerti jika pemuda itu telah cukup dalam melukai Lara dan tanpa bisa Giran abaikan, mereka berdua terlibat perkelahian dan perdebatan tentang keinginan masing-masing dan keributan tersebut terdengar sampai ke kamar rawat Lara.
"Ingatlah lagi kamu tidak berhak mengatur diriku, Rajan! Apapun yang aku lakukan itu terserah padaku!! Bukan urusanmu jadi jangan bersikap seolah-olah kamu ini adalah pahlawan!! Lagipula kamu tidak ada urusannya dengan hubungan kami?! Sebaiknya orang luar diam saja dan jangan terlalu ikut campur!!" murka Giran kesal.
"Orang luar katamu! Kamu yang merasa memiliki hubungan saja tidak bisa melindungi Lara lalu sekarang berbicara tentang hal ini! Berhentti berbicara omong kosong dan urus saja hidupmu sendiri! Aku tak akan membiarkan kamu menyakiti Lara lagi!! Luka yang kamu berikan padanya sudah cukup berakhir sampai di sini saja asal kamu tau?!" omel Rajan geram.
"Nona, Lara! Di taman belakang rumah sakit ada keributan! Kedua teman nona sedang berkelahi dan beberapa orang berkumpul mencoba memisahkan mereka nona! Tolong nona bantu untuk memisahkan mereka nona! Khawatirnya sesuatu yang buruk terjadi pada mereka karena yang namanya emosikan akan sulit di pisahkan," ucap perawat itu panik.
Mendengar Rajan dalam masalah membuat Lara berlari ke arah taman belakang rumah sakit sebab Lara tidak ingin Giran melukai teman baiknya dan sesampainya di sana benar saja ada banyak orang yang berusaha memisahkan Giran dan Rajan yang masih saling memukul satu sama lain.
"Ya ampun, Rajan! Giran! Apa yang mereka lakukan di sini? Kenapa mereka harus sampai begini? Bukankah perkelahian seperti ini tidak ada gunanya?! Lalu kenapa masih saja berkelahi saja sih mereka ini? Tidakkah mereka menggunakan akal mereka di banding emosi," batin Lara terkejut.
Sayangnya orang-orang itu tidak mampu memisahkan perkelahian dua pemuda itu hingga Lara bergegas menghentikan dua pria tersebut dengan tangannya sendiri dan sebelum gadis cantik itu sampai dihadapan Giran dan Rajan tidak lama terdengar perdebatan mereka berdua yang begitu serius.