Anna merasakan sakit luar biasa pada bagian kewanitaannya setelah semalam Jullian secara paksa mengambil keperawanannya. Tidak hanya tubuhnya yang sakit tapi hatinya juga sakit. Bahkan jauh lebih sakit. Tiap kata- kata Jullian melekat dengan cepat di otaknya. Bagaimana Jullian memperlakukannya seperti seorang p*****r. Aku harus pergi. kata Anna dalam hati. Ia menoleh dan melihat Jullian masih tertidur pulas dengan sebelah tangan memeluknya. Air mata kembali mengalir dari mata kecilnya. Ia menatap Jullian yang tertidur pulas. Wajah tampan dan terlihat tidak berdosa. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan perbuatan seperti itu. “Selamat pagi, sayang.” Tiba- tiba Jullian membuka matanya dan mata birunya langsung bertemu dengan matanya. Anna kikuk. Ia mengalihkan pandangannya ke langit- langit

