CHAPTER LIMA

3157 Kata
Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Sudah cukup kesabaran Anna. Ia meraih lengan Jullian dengan kasar lalu berdiri. “Sudah cukup Jullian, ayo pulang.” Anna dengan terpaksa mengangkat tubuh besar Jullian yang hampir limbung. “Ayolah nona, biarkan kami merayakan kembalinya Jullian ke New York.” “Diam atau aku patahkan hidungmu.” Anna menampakkan wajah benar-benar marah dan melotot kepada yang lain. “Maaf kalau kami mengganggu waktu kebersamaanmu dengan Jullian. Tapi bisakah kau biarkan Jullian minum beberapa gelas lagi bersama kami. Setelahnya, Jullian milikmu.” Salah satu temannya seakan tidak ingin membiarkan Jullian benar-benar pergi. “Berhenti melempar kata-kata penghinaan itu padaku. Aku bukan w************n seperti yang kalian pikirkan.” “Jullian memang begitu tampan dan hebat. Tidak ada wanita yang mau melepaskan malam-malam bersama Jullian begitu saja.” Tatapan mereka bersirobok. Anna bisa melihat kilatan kebencian dan melecehkan dalam mata Jessica. “Maaf nona, tapi aku tidak berminat untuk tidur dengan pria menyebalkan ini.” Tanpa memedulikan yang lain, Anna tergopoh-gopoh dan sedikit menyeret tubuh jangkung Jullian keluar dan menyetop taksi. Ia mendorong tubuh Jullian ke dalam taksi dan menyuruh supir taksi mengantarkannya ke alamat yang dimaksud setelah ia menyerahkan beberapa lembar uang. Ia sendiri lantas menyetop taksi yang lain dan beranjak pulang. Tak peduli dengan mobil Jullian yang masih terparkir di bar. *** Anna termangu menatap Jullian yang sampai di klinik dengan senyum sumringah. Tidak habis pikir karena Anna mengira Jullian akan datang dengan mood yang sangat jelek. Bagaimanapun seharusnya dr. Steve memberi Jullian pelajaran karena pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat. Tapi bagaimana mungkin Jullian bisa terlihat seakan tidak terjadi apa-apa. Anna masih menatap Jullian yang sudah mulai masuk ke dalam ruangannya. “Kau mulai terpesona rupanya?” Maria menyenggol lengannya dan membuatnya menggeleng dengan cepat. “Pria itu terlalu mengerikan untuk membuatku tertarik.” “MENGERIKAN? Ya ampun Anna, apakah kau tidak melihat senyumnya tadi. Dia... dia seperti malaikat.” Mata Maria menatap ke langit-langit seakan Jullian benar-benar turun dari langit. Anna mendengus dan memaki dalam hati dan kejadian semalam terlintas dalam pikirannya. Bagaimana mungkin seorang pria berpendidikan berlaku seperti seorang berandalan. Membuat keributan di rumah orang tengah malam. “dr. Jullian menyuruhmu ke ruangannya.” Anna melirik ke ruang tunggu yang masih kosong lalu beralih menuju ruangan yang dimaksud. Hanya dengan sekali ketuk, suara di dalam sudah mempersilahkannya masuk. Jullian duduk di sana dengan tatapan angkuhnya. “Duduklah, pertama aku mau berterima kasih karena kau membuatku selamat sampai rumah.” Anna sudah duduk di depan Jullian yang mulai berbicara. “Kedua, aku pikir kau sebagai asistenku harus tahu apa yang aku suka dan apa yang aku tidak suka.” Ia mengetuk-ngetukan jarinya di meja, menimbulkan suara yang beraturan. “Pertama, aku tidak suka warna putih, bisakah kau mengganti warna ruanganku menjadi warna agak coklat?” “Tapi warna putih adalah warna standar di klinik dan rumah sakit. Aku pikir warna itu sudah cocok.” “Aku tidak peduli warna standar yang kau maksud, yang jelas aku tidak terlalu menyukai berada di ruangan dengan warna putih untuk waktu yang lama. Jadi aku pikir kau harus mulai memikirkan untuk mengganti warna lain.” Anna mengeluarkan buku sakunya dan mulai menulis apa yang harus diingatnya. “Yang kedua, aku pikir terlalu banyak poster penyakit di ruanganku. Bisakah kau mengantinya dengan lukisan lain atau mungkin menguranginya?” Permintaan Jullian kali ini benar-benar membuat alis Anna terangkat. Ia bahkan tidak percaya kalau Jullian benar-benar seorang dokter. “Yang ketiga, aku mau green tea setiap pagi dan bukan air putih. Kopi setiap jam dua siang. Aku tidak suka wangi ruangan ini, jadi gantilah dengan yang lain. Aku mau kau memesan sebuah lemari buku kecil. Aku sangat membutuhkanya.” Dengan telaten Anna menulis apa yang harus dilakukannya sebelum keluar dari ruangan itu. “Ada lagi, dok?” Ia menatap wajah Jullian yang melengkungkan senyuman tipis. “Untuk saat ini itu saja. Ada yang ingin kau tanyakan?” Anna buru-buru menggeleng. “Kau yakin? Kau tidak ingin bertanya kenapa aku bisa datang pagi ini dan senyum lebar padahal semalam aku sampai di rumah dalam keadaan mabuk berat?” Anna tersentak, bagaimana mungkin Jullian tahu apa yang ada di pikirannya. Ia berusaha tenang lalu menggeleng dan mencoba terlihat tidak peduli. “Aku pikir itu masalah pribadimu dan aku tidak berhak ikut campur.” Jullian mengangguk dengan mantap. “Kau benar. Tapi kau harus tahu kalau aku lebih cerdik dari yang kau bayangkan. Kau boleh keluar sekarang.” Anna keluar ruangan dan langsung menampakkan wajah sinis. Ia pergi ke dapur untuk membuat segelas green tea lalu kembali masuk ke ruangan Jullian dengan membawa pengharum ruangan lain. Ia meletakkan gelas lalu beralih ke pojok ruangan untuk mengganti sementara Jullian sibuk dengan ponselnya. Anna keluar dari ruangan Jullian beberapa menit sebelum pasien pertama masuk lalu kembali duduk di samping Maria dan menghubungi seorang tukang untuk mengganti warna wallpaper ruangan Jullian. “Apa menurutmu Jullian akan memperlakukan pasien itu dengan baik?” Anna menyikut lengan Maria dan langsung mendapatkan tatapan sarkastik dari temannya itu. “Sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang Jullian? Ayolah Anna, dia seorang dokter, aku pikir dia tahu persis bagaimana memperlakukan pasiennya. ya walaupun dia terlihat agak dingin.” Dingin.. Itulah yang dikhawatirkan Anna dan menurutnya Jullian benar-benar tidak mencerminkan seorang dokter. Jam menunjukkan waktu makan siang. Anna baru saja ingin masuk ke ruangan Jullian ketika pria itu sudah terlebih dulu keluar. “Aku akan makan di luar.” katanya sambil berjalan mendahului Anna. “Aah ya, kau harus ikut.” katanya lagi saat mengingat ia tidak memegang uang sepeserpun. Anna berbisik pada Maria lalu meraih tas yang tergeletak di bawah meja. Anna merangsek masuk ke dalam mobil. Sedetik kemudian roda berputar. “Kau hanya punya waktu satu setengah jam atau dua jam kalau dr. Steve sudah sampai di klinik.” kata Anna saat menyadari Jullian semakin menjauh dari klinik. Kalau hanya ingin makan siang bukankah di sekitar klinik ada beberapa kafe dan tempat makan yang bisa dijadikan pilihan. “Aku belum ada lima menit meninggalkan klinik dan kau sudah mengingatkan aku untuk kembali?” Ia tersenyum sinis sambil menggeleng. Sedangkan Anna hanya menggigit bibir bawahnya. “Apa kau selalu melakukan itu kepada ayahku?” tanyanya lagi. Anna mengangguk pelan. Ia mengatur semua jadwal dr. Steve dengan baik. Setiap menit dan detik tidak ada yang boleh meleset dari agendanya. Kecuali memang ada urusan mendadak. Mobil itu melewati tikungan tajam, Anna dengan refleks memegang erat safety beltnya karena tubuhnya bergoyang ke samping. Mobil Jullian meluncur mulus memasuki sebuah kafe di pusat kota. Ia turun dan berjalan keluar sedangkan Anna harus berjalan sedikit lebih cepat untuk mensejajarkan langkahnya. Jullian masuk dan langsung mengedarkan pandangan ke segala arah hingga seseorang terlihat melambaikan tangan ke arahnya. Ia tersenyum lalu beralih ke pojok ruangan. “Maaf menunggu lama, kau tahu kan aku tidak bisa meninggalkan pasienku begitu saja.” mereka berjabat tangan dan saling tersenyum. “Tidak apa dokter, aku mengerti.” Pria itu terkekeh. Anna menatap pria di depannya sambil tersenyum. Pria dengan kemeja hitam pedek itu membalas. “Oh ya, kenalkan, ini Anna asistenku, Anna, ini Samuel sahabatku.” Mereka saling berjabat dan duduk berhadapan. “Aku sudah pesan makanan, kau silahkan pesan dulu.” Jullian melambaikan tangan ke pelayan lalu memesan beberapa makanan sedangkan Anna hanya memesan steak dan segelas jus. “Jadi, kau menetap di sini sekarang?” tanya Jullian, Samuel menggeleng pelan. “Tidak, seperti yang kau tahu bahwa aku akan selalu berpindah-pindah.” Selama mereka berbicara, yang dilakukan Anna hanya mendengarkan tanpa tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi ia tahu bahwa mereka sibuk menceritakan masa lalunya. Dan benar saja, Anna tahu bahwa masa muda Jullian dihabiskan untuk menjadi anak berandalan. Pantas saja, sampai sekarangpun ia masih terlihat seperti itu. Makanan datang dan untuk beberapa menit mereka sibuk dengan makanannya. Beberapa kali Anna melirik pria tampan di depannya. Berbeda dengan Jullian, wajah pria itu terlihat ramah dan sering dihiasi senyum, wajahnya teduh dan menenangkan. “Berhenti menatapnya seperti itu, dia tidak akan tertarik padamu.” Jullian yang sedari tadi memperhatikan Anna menyentak gadis itu dengan kata-kata ketusnya. Anna buru-buru menggeleng dan mengalihkan pandangan ke segala arah. Ke ujung ruangan, ke samping dan terakhir ke makanan di depannya. “Jadi, bagaimana rasanya bekerja untuk Jullian?” Anna menatap Samuel yang tersenyum dan hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Seandainya saja Jullian tidak ada di sampingnya dan ia tidak membutuhkan pekerjaan. Mungkin ia akan bilang bahwa ini adalah hal yang paling mengerikan yang pernah terjadi dengan hidupnya. Dihari pertamanya saja ia sudah berani melakukan hal-hal yang tidak pantas. “Sepertinya aku harus bertanya saat Jullian tidak bersamamu.” Mereka berdua terkekeh sedangkan Jullian lebih suka menampakkan wajah menjengkelkan. Anna pamit sebentar untuk mengangkat telepon dari toko mengenai pesanan rak buku untuk Jullian lalu kembali saat Samuel berdiri dari kursinya. Begitu juga dengan Jullian. “Biar aku yang traktir.” katanya sambil menyerahkan kartu perak kepada pelayan. “Kalau tahu kau yang akan bayar aku akan datang ke sini sendiri.” Ia melirik Anna yang sudah berada di sampingnya, dan Anna hanya berkata dalam hati “kau pikir aku mau pergi denganmu?” Samuel tersenyum lalu mengangkat kamera yang sejak tadi ditaruh di bangku di sebelahnya. Mengutak-atiknya sebentar lalu mengarahkannya ke arah dua orang di depannya. “Say Cheese.” “Hey, siapa yang mengijinkanmu mengambil gambarku.” Jullian berkacak pinggang sementara Samuel tertawa melihat hasil jepretannya. “Kalian cocok.” katanya. Jullian dengan wajah juteknya dan Anna tergambar dengan raut wajah meneduhkan dan yang pasti mereka tidak siap untuk difoto. Tapi itu akan menjadi kenangan untuk Samuel. “Aku seorang fotografer Jullian. Akan merepotkan kalau harus meminta ijin setiap objek jika aku mau memotretnya. Kau ini ada-ada saja.” Samuel kembali mengulas senyum lalu melirik Anna yang ikut tersenyum. *** “Ada yang mengantar rak di sana.” kata Maria sambil menunjuk seorang berbaju hijau yang duduk di antara para pasien. Anna menghampiri dan orang itu terlihat memberikan instruksi kepada temannya untuk mengambil barang yang dibawanya. Anna beralih ke ruangan Jullian setelah mengetuknya selama dua kali. “Rak buku pesananmu sudah datang.” Pintu diketuk kembali dan dua orang masuk membawa apa yang dipesannya. “Taruh di sana.” katanya menunjuk sebuah lorong yang menyambung ke sebuah ruangan kecil di belakang ruangannya. “Oia Ann, tolong ambilkan kardus yang ada di ruangan ayahku. Aku sudah mengepak beberapa buku dan aku mau kau merapikannya.” Anna mengangguk lalu keluar dari ruangan. Setelah mengambil kunci dan membuka ruangan dr. Steve. Ia mencari kardus yang dimaksud. Dua kardus berukuran sedang tergeletak di bawah meja praktik. Ia mengangkat dan membawanya keluar. “Apa itu?” tanya Maria. Belum sempat ia menjawab. Perhatiannya teralihkan karena kedatangan dr. Steve. “Selamat siang dok.” kata mereka bersamaan. “Selamat Siang Ann, Maria.” “Buku-buku Jullian.” jawabnya setelah melihat dr. Steve menghilang dari pandangannya. Perlahan ia membuka kardus itu dan melihat debu mulai bertebaran. Ia dengan refleks menutup mulut dan hidungnya, begitu juga dengan Maria. Beberapa buku kedokteran dan satu buah roman klasik yang sudah disampul plastik rapi. Ia mengeluarkan semuanya lalu mengelap debu dengan tisu basah. Di tumpukan terakhir, sebuah buku masih terbungkus plastik, sepertinya belum sempat dibaca. Pasien berhenti datang saat jam menunjukkan pukul tujuh lebih. Maria mulai merapikan pekerjaannya dan siap berganti shift dengan Simon. Melihat ruang tunggu yang sudah sepi, ia mengangkat buku itu dan membawanya ke ruangan Jullian. Setelah dipersilahkan masuk ia membuka pintu dan melihat Jullian sedang sibuk membaca bukunya. “Aku mau membereskan buku-buku mu.” katanya sambil berlalu ke dalam ruangan tempat rak buku baru itu ditaruh. Jullian hanya melirik sekilas lalu kembali sibuk dengan bacaannya. “Jam berapa aku bisa pulang?” Pertanyaan itu terdengar saat Anna meletakkan buku terakhir. “Pasien di luar sudah sepi, lagipula dr. Steve dan dr. Raymond sudah datang. Kau boleh pergi sekarang kalau kau mau.” “Apa mereka akan berjaga sampai pagi?” “dr. Raymond yang akan berjaga sampai pagi. Kau besok bisa datang ke klinik agak siang.” Anna sudah berdiri di depan Jullian sesaat setelah Jullian menutup buku bacaannya. “Oke kalau begitu. Aku akan bersiap-siap untuk pulang dan beristirahat.” Ponsel Anna berbunyi saat ia berada diambang antara ruangannya dan ruangan Jullian. Ia kembali berbalik, membelakangi Jullian. Sekilas menatap rak buku yang sudah terisi di depannya. Nama dan wajah Logan terpampang dilayar. “Ya Logan, oohh, oke.. aku akan segera ke sana.” Setelah mematikan sambungan ia berbalik dan mendapati Jullian menatapnya dengan heran. “Karena kau sudah mau pulang. Aku juga akan segera pergi. Besok kau harus sampai di sini sebelum jam dua siang.” Anna berdiri dan bersiap keluar saat Jullian memanggilnya kembali. “Kau mau ke mana?” Ia berdiri dan menghampiri Anna. “Bukan urusanmu.” katanya cepat tapi masih menatap Jullian yang langsung mendengus. Ia menaiki bus tak jauh dari klinik. Di dalam bus hanya ada lima penumpang. Dua pria muda yang sedang tertidur pulas tanpa takut tempat tujuannya terlewat, wanita tua yang rambutnya sudah kelabu duduk di seberangnya sedang menikmati roti isi yang tinggal setengah. Di depannya seorang pria bertopi hitam sibuk berkutat dengan New York Times-nya, sedangkan satu lagi, wanita berambut pirang yang duduk tak jauh dari tempat duduknya sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Ia turun di 82nd street lalu berjalan menuju Toloache. Pramusaji hilir mudik dengan teratur dan di sudut kafe, ia melihat Logan yang masih terlihat rapi melambaikan tangan kepadanya. Ia mendekat, hampir menabrak pramusaji yang sedang membawa makanan di atas nampan cokelat. “Maaf membuatmu menunggu.” Logan berdiri mempersilahkan Anna duduk. “Apapun untukmu.” katanya sambil tersenyum tulus. Pramusaji menghampiri meja mereka dan mencatat pesanan mereka. Membacakan sekali lagi lalu menjauh. “Aku tadi ke ruangan dr. Steve dan Clara bilang kau sudah tidak di sana lagi.” Aahh yaa. Anna lupa memberitahu Logan apa yang terjadi. “Yaa..kau tahu kalau anak dr. Steve ada di sini sekarang. Dia menyuruhku menjadi asistennya.” Ia mengalihkan perhatiannya pada suara gemerincing yang datang dari gelang kaki seorang wanita berpakaian minim dengan gincu merah yang baru saja memasuki kafe. Wanita itu menggandeng pria yang dilihatnya jauh lebih tua dari si wanita. Pria dengan kacamata tebal yang mungkin ayahnya. “Oohh. aku harap aku tidak mengganggu jam kerjamu.” Kedatangan pramusaji menyela pembicaraan mereka. “Tidak, aku sudah selesai bertugas.” katanya setelah pramusaji pergi sehabis menghidangkan pesanan mereka. “Kau tahu, dia agak menyebalkan.” Anna tentu saja berbohong. Jullian tidak cuma menyebalkan tapi mengerikan. “Di mana dia bekerja?” Logan mulai menyantap tacos pesanannya. “Klinik, dia seorang dokter juga.” Kebersamaan mereka terpecah oleh dering ponsel Anna. “Sebentar.” katanya sambil merogoh ke dalam tasnya. Menemukan nomor baru dalam ponselnya, ia diam sejenak hingga akhirnya panggilan itu mati karena terlalu lama. Belum sempat ia meletakkan kembali ponselnya panggilan itu kembali berbunyi. “Kenapa lama sekali?” Suara bariton itu langsung menyembur saat Anna menekan tombol ‘jawab’ dan hanya dari suaranya ia tahu itu suara siapa. “Ada apa?” tanyanya tidak kalah galak. “Temui aku di Luke’s sekarang juga.” katanya dengan nada memerintah. “Tidak bisa, aku sedang sibuk.” Ia memelankan suaranya melihat raut wajah Logan yang berubah cemas. Menolak pergi walaupun ia tahu kalau tempat itu masih berada di 3rd avenue. Mungkin sekitar tiga blok dari tempatnya sekarang. “Kalau kau tidak datang sekarang. Aku akan memberi perhitungan untukmu.” Nadanya terdengar mengancam dan Anna langsung membayangkan wajah marah Jullian. “Pokoknya tidak bisa. Ini sudah bukan jam kerjaku. Jadi berhenti menjadi pengganggu.” Seketika itu juga ia mematikan sambungan. “Brengsek.” Jullian hampir saja membanting ponselnya saat sadar beberapa pasang mata pengunjung tertuju padanya. Sekali lagi ia menekan nomor Anna di ponselnya. Butuh waktu kurang lebih lima detik saat suara di seberang sana kembali terdengar. “Apa lagi?” “Kau harus datang ke sini kalau tidak aku akan di pukuli habis-habisan karena tidak bisa membayar makananku.” Ia menaikkan alis. Teringat dompet Jullian masih tersimpan rapi di dalam tasnya. Tapi bukankah sudah tahu tidak membawa uang, kenapa ia tidak menghabiskan waktu di rumah saja. Matanya kini tertuju pada Logan yang mulai mengalihkan pandangan, merasa tidak enak karena mungkin dikira sengaja menajamkan pendengarannya. “Demi tuhan Jullian, ini sudah bukan jam kerjaku.” keluhnya lagi. “Persetan dengan jam kerjamu. Ayahku menyuruhmu berada di sampingku setiap saat. Beruntung aku memberimu waktu keluar sebentar.” Ia bisa menebak-nebak raut wajah Jullian dari suaranya yang menyentak-nyentak di ujung sana. “Aku akan tiba di sana satu setengah jam lagi.” Setidaknya ia membutuhkan waktu untuk menghabiskan makanannya dan tidak membuat Logan terganggu. Biarlah Jullian menunggu sedikit lebih lama. “Lama sekali, memangnya kau di mana?” Anna tidak mungkin memberitahu sekarang ia ada di mana. Bisa-bisa pria itu akan semakin cerewet. Ia hanya bilang ia berada ber mil-mil jauhnya dari Lukes Bar & grill, tempat Jullian berada. “Ada masalah?” Logan mencoba tidak terlihat peduli dan beberapa detik sebelum Anna memutuskan sambungan telepon, ia sudah kembali fokus ke makanannya. “Tidak, hanya gangguan kecil. Aku harap kau tidak terganggu.” Anna mencoba kembali mencairkan suasana. Mengendurkan benang yang tadi terasa kencang. “Tidak apa-apa kalau kau memang ada urusan penting.” Logan menyesap minumannya. “Tidak..tidak… tidak ada yang lebih penting.” sahut Anna buru-buru. *** Anna telat lima belas menit dari janjinya untuk sampai di Luke’s. Luke’s bar & grill berada di tepi jalan diapit Scotttrade dan Due tepat di seberang Murreys, toko perhiasan. Dari luar tempat itu didominasi oleh warna hijau dan Anna langsung menemukan mata Jullian yang menyalang di salah satu meja. Jari-jari Jullian mengetuk-ngetuk meja sambil menunggu Anna yang kini berjalan ke arahnya. Sesaat setelah Anna duduk di depannya. Ia melemparkan tagihan yang sudah diberikan pelayan ke arah Anna. Hampir mengenai wajahnya lalu jatuh tepat di depannya. “Urus cepat, aku tunggu di depan.” Ia meninggalkan Anna di mejanya dengan tagihan itu lalu beranjak keluar kafe. Membuat Anna menghela napas panjang. Setelah menyelesaikan urusannya dengan pelayan. Ia bergegas keluar dan menemukan Jullian tengah menghisap rokoknya. Membuat asap mengumpul di sekelilingnya. Sebelah tangannya dimasukkan ke saku, bersandar pada tembok. “Sampai kapan akan terus begini?” Ia berdiri di samping Jullian. Melihat pria itu menoleh dan menghembuskan asap rokok ke arahnya, membuatnya terbatuk pelan. “Sampai aku mendapatkan dompetku kembali.” Ia mulai berjalan pelan dan Anna mengikutinya dengan langkah lebar-lebar. “Tapi aku akan sangat senang kalau kau mau membantuku mendapatkan dompetku kembali.” Ia membuang putung rokoknya yang sudah mati di tong sampah di depan Amber Lounge lalu menyetop taksi setelah berbelok. “Tidak kalau bukan karena dr. Steve yang menyuruh.” Tiba-tiba saja ia teringat kata-kata dr. Steve padanya. 'kalau begitu berjanjilah untuk bertahan apapun yang terjadi' Ia menutup pintu taksi setelah duduk di samping supir. “Kalau begitu biasakanlah dirimu.” kata Jullian setelah menyebutkan alamat kepada supir. Anna bisa melihat kilatan tatapan Jullian dari spion tengah. Raut wajahnya datar dan tidak dapat di tebak. To Be Continue LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN