29. ACHA TAKUT, YAH!

1226 Kata
"Menangislah dengan tenang, luapkan semua kekesalan dan tidurlah, walau masalah takkan hilang detik itu juga." Seandainya merubah keadaan bisa segampang membalikkan telapak tangan. Berbincang dengan Tuhan, bahwa kenyataan sekarang bukanlah keinginan. Bisa lebih sedikit bahagia? Ditaburi kembali canda tawa. Namun, bayangan yang didamba tidak pernah nyata dan berpihak kepada Acha. Akan ada banyak cacian dan makian untuknya. Siapa yang tidak bisa menahan emosi, kala orang yang selalu dilindungi, berkhianat bahkan mendiamkan kelakuannya sendiri. Waktu itu, Devid sadar, Acha tidak ada bersamanya. Hilang, bersembunyi di balik pohon rindang. Sayang, Devid harus berputar balik. Mengingat kehidupannya di Jakarta setelah kejadian tabrakan. Mengapa Dinda menciptakan hal bodoh kepadanya dan orang lain? Devid sadar, ayahnya masih ada, kecelakaan beruntun kapan? Semua hanya skenario ciptaan Dinda. Hingga, pil yang setiap hari harus dikonsumsi, nyatanya bukan penyembuh, tetapi penghambat mengingat kepingan masa lalu. Benar-benar gila memang. Terdiam di bawah guyuran air hujan, bimbang, pulang dalam keadaan telah mengingat segalanya, atau berpura-pura masih dalam pengaruh pil ciptaan dokter gilanya. Setelah Bram menuntun tubuh Acha yang basah kuyup sampai ambang pintu kosan, Acha pun masuk begitu saja. Tidak ada percakapan lagi, sampai dibantingnya pintu dengan cepat, sedangkan Bram, hanya menggigit bibir bawahnya pasrah. Apa yang terjadi kepada dua temannya itu? Apakah Devid menolak bahwa dirinya bukan sahabat Acha? Atau marah karena Acha baru datang untuknya? Suara hujan yang kejam menjadi iringan lagu malam itu, tersedu mengingat tatapan menahan amarah. Acha senang Devid benar-benar mengenalnya. Namun, bukan seperti itu akhir dari mengingatkan sang sahabat. Ia ingin semua selesai, kembali ke masa lalu yang banyak tawa. Selanjutnya, tubuh basah Acha berdiam diri di balik pintu kamar mandi. Menatap kosong ke depan, dengan keras menjambak rambutnya sendiri, kesal dengan keadaan yang terjadi. Ponselnya berdering keras, menambah suasana menjadi panas. Siapa lagi yang berani meneleponnya? Selain Sinta atau Arga yang tidak tahu diri masih saja mendekati. Karena berisik, Acha melempar ponselnya ke lantai dan semua isinya berhamburan pecah. "Kenapa derita selalu gua rasa! Kenapa? Kapan kebahagiaan itu datang? Apa perlu mati aja sekalian, ha!" Teriakan Acha tertahan oleh kerasnya air hujan di luar. Dadanya naik turun terasa sesak, orang yang dicari dan dicintai kembali menjauhi. Sampai kapan permainan Tuhan yang enggan selesai ini? Tidak bosankah menimpanya kepada Acha sendiri? Melihat ponselnya pecah tidak berbentuk lagi, Acha terduduk memeluk lututnya sendiri, tersedu tangisnya menjadi bukti bahwa ia lelah dengan kenyataan yang sama, sama seperti masa lalu menimpanya. "Tuhan ... satu keinginanku lagi, kembalikan ke masa lalu! Buang orang-orang baru karena mereka hanya pengganggu!" Acha meninju lantai yang keras. "Aku mau pulang, ayah ... mama gak lagi mikirin aku, kek, nek, boleh Acha akhiri segalanya, 'kan? Acha cape ...." Bayangan kakek dan neneknya yang selalu ada buat Acha saat kecil berdatangan. Ayahnya yang baik tidak seperti Sinta menjadi tumpuan kekuatan. Acha bisa menghadapi segalanya, tetapi tidakkah semua yang datang begitu berat? Seolah hukuman Tuhan hanya diberikan untuknya saja. "Ayah ... Acha rindu, Acha mau dipeluk, Acha mau tidur bareng, ada halilintar, Acha takut. Acha takut, Ayah!!!" Halilintar benar-benar datang mengejutkan. "Ayah! Ayah ... Acha takut, Acha mau dipeluk ...." Lagi, menangis menjadi akhir kekuatannya menahan beban. Tubuh Acha gemetar hebat, kepalanya terasa pening dan baju yang dipakainya masih basah kuyup. Namun, Acha tidak peduli, ia bergelung seperti bayi di lantai, memejamkan kelopak matanya yang basah oleh air mata. "Datang ke mimpi Acha, ya ... Acha kangen." Masih menahan dingin dan sesak, Acha tertidur tanpa alas di lantai. Suara hujan masih terdengar di luar. Acha juga lupa, tidak sempat mengunci pintu kamarnya. Ia sudah tidak sadarkan diri, perutnya juga bergemuruh, menahan perih dan memilih diam, sedangkan lelaki yang masih menikmati guyuran hujan sambil menjalankan motornya pelan, bimbang harus pulang atau mengulur waktu sampai pagi menjelang. Tatapannya kosong, jaket yang dipakainya sudah benar-benar menyerap air hujan yang lebat. Sampai ... ia memutuskan pergi pulang dalam keadaan yang dipastikan, Dinda akan berbicara panjang lebar lalu menanyakan apakah kepalanya sakit? Terlalu sakit bahkan, Devid tersenyum kecut, bisakah ia kembali membenturkan kepalanya sampai lupa ingatan lagi? Ia ingin melakukannya, setelah tahu bahwa kenyataan yang pahit harus terdengar. Namun, ada banyak kebohongan juga yang dilakukan ibunya sendiri. Apa tujuannya sampai dengan tidak berpikir ulang lagi, memberikan obat menolak mengingat kejadian dahulu? Sudah dipastikan, ada niat buruk dari ibunya itu. Motornya terparkir di depan halaman rumah, ia membuka helm lalu melangkahkan kaki yang terasa berat. Pintu tidak dikunci, lampu ruangan depan juga sudah dimatikan. Berarti Dinda telah tertidur dengan lelapnya. Langkah Devid diiringi tetesan air hujan dari bajunya, tetapi ia tidak peduli. Hingga, di saat kakinya siap melangkah menaiki anak tangga. Pintu kamar Dinda terbuka. "Kamu dari mana, Dev? Hujan-hujanan lagi, gak tau apa keadaan kamu nanti udahnya?" Semakin melupakan masa lalu, bukan? Itulah keinginan Dinda, agar anaknya menjauhi persoalan tentang Prabu sang mantan suami, juga Acha yang tidak diharapkannya. "Kehujan," balas Devid, seraya kembali berjalan tanpa menatap ibunya itu. Dinda mengernyit, tidak biasanya Devid bersikap demikian kepadanya. Punggung tegap Devid pun menghilang, seiring suara pintu yang dibanting keras. Tidak memikirkan hal aneh, Dinda memilih kembali masuk ke dalam kamarnya. Masih ada banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan. Apalagi, semenjak kunjungan Lolita dan Grilna, tanpa sepengetahuan Devid. Mereka merencanakan sesuatu yang akan mempererat tali persaudaraan. Walaupun bisa dibilang umur Devid dan Devita masih muda. Namun, tidak masalah juga. Toh, akan semakin dewasa akan pula sulit untuk diajak kerja sama. "Kalo Vita, dia anaknya setuju aja, Jeng ... kamu tahu, mungkin dia emang suka sama Devid," ujar Lolita, sedangkan suaminya mengacungkan kedua jempolnya. "Buktinya, Devita selalu merusak hubungan Devid bersama perempuan lain. Dipastikan dia cemburu, tetapi kami ragu bagaimana perasaan Devid?" Dinda tersenyum tenang. "Dia anaknya penurut, kok, gampang ngurusnya. Yang penting, kita akan semakin dekat, ya!" "Pasti, apalagi jika bertentangan bakat mereka. Takkan bisa dipisahkan." Dinda tersenyum lebar. Bukan hanya ingin menjodohkan saja, tetapi ia ingin semakim melupakan masa lalunya. Harapan bersama Devita adalah jawabannya, gadis yang tadi dilihatnya selesai mengecat rambut panjangnya dengan warna merah, akan tetapi serasi di mana pun Devid juga ada di sampingnya. Mengingat Double D sudah memiliki penggemar tetap. Dipastikan, apa yang dia harapkan akan terlaksanakan. Tidak ada perasaan sekecil pun, orang yang dahulu dekat dengannya datang kembali, mendekati mencoba membawa Devid ke masa lalu. Malam itu, Devid merenungkan hari-harinya yang akan datang. Ia tahu, Devita cemburu akan kedekatannya bersama Acha, ia juga tahu Acha menyukainya. Namun, ia tidak bisa menerima mereka berdua. Untuk memilih salah satunya pula terasa enggan. Biarkan, hatinya kosong tanpa nama perempuan yang penting baginya. Biarkan hatinya seputih kertas, sebisu manusia yang koma, sedingin air hujan di malam tidak diinginkan. Terbalut baju hangat, tatapannya mengikuti ukiran langit-langit kamar. Sepotong kenangan menghampiri datang, menyapa bahwa ia sudah kembali kepada Devid yang dulu. "Cita-cita lo, masih sama?" tanya Devid tanpa mengalihkan pandangannya. "Jadi novelis, perangkai aksara, dikenal dunia," jawab Acha semangat diakhiri senyuman kecil. "Dan gua, jadi reporter yang pertama kali ngabarin, cewek jelek yang sahabatan sama cowok paling keren, si novelis biasa dipanggil, Changcut! Terlahir sebagai novelis terkenal di zamannya," jelas Devid. "Aamiin, tapi gua gak suka lo sebutin tuh nama panggilan! Mau ditaro di mana, nih, muka? Dan! Gini-gini gua banyak yang naksir, Tuan Reporter!" komentar Acha menekan kata-katanya tak suka. Dia tidak suka Devid memanggilnya Changcuts. Tidak ada cita-cita sebagai reporter seperti apa yang diucapkan Devid dahulu. Sekarang, ia sudah dikenal sebagai teman panggung Devita. Sore menjelang malam, maaf ya minggu ini up-nya gak lancar hehe soalnya lagi buat laporan hasil prakerin _-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN