Pagi itu, atmosfer balai dewan istana sangat panas dan semua orang berada dalam keadaan emosi. Termasuk putra mahkota yang sangat tidak bisa menerima perlakuan pangeran Morgan terhadap ayahnya. “Yang mulia... Anda tidak punya pilihan!” Perdana menteri Solon menyeringai seakan kemenangan berpihak padanya. “Aku selalu mempunyai pilihan! Aku sudah berusaha memberikan solusi pada Putraku pangeran Morgan beserta pendukungmu, Anakku! Tapi jika memang pilihan lain yang kau pilih, apa boleh buat? Aku sangat menyayangimu, Putraku! Namun jika kalian masih dalam pendirian kalian, maafkan aku! Jika kini kalian dianggap sebagai pemberontak!” ucapan Rex Alexis Marlon berujung pada pertikaian di dalam balai dewan istana. Pertikaian tidak dapat dihindarkan. Prajurit setia Rex Alexis Marlon bertarung de

