"Kenapa hanya ada Gabriella di sini? Ke mana Elizabeth?" Awan mulai cemas pada salah seorang putrinya. Ia pun segera mencari keberadaan saudara kembar putrinya, ia mulai menuruni tangga dan membuka pintu rumahnya. Ia benar-benar yakin bahwa keberadaan orang yang menculik bayi perempuannya belum jauh dari rumahnya.
"Ke mana dia!?" kesal Awan. Setelah istrinya pergi meninggalkannya, ia pasti takkan mau putrinya juga ikut pergi meninggalkannya.
Ia sudah beberapa kali berkeliling di halaman rumahnya, namun Elizabeth sama sekali belum ditemukan. Ke mana penculik itu membawa putrinya, Awan benar-benar khawatir dan bingung.
"Elizabeth, kamu ada di mana sekarang? Di manapun kamu berada, semoga kamu baik-baik saja." pinta Awan.
"Permisi, lagi cari apa ya?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang menghampiri Awan yang tengah cemas karena salah satu putrinya baru saja menghilang.
Awan mulai bergerak untuk menoleh ke arah seseorang yang baru saja bertanya padanya. Saat ia menoleh, ia pun segera mendapati seorang wanita muda dengan pakaian serba putih tengah berdiri di hadapannya.
"Putri saya baru saja menghilang, seseorang menculiknya. Saya benar-benar tidak tahu harus mencarinya ke mana lagi, saya merasa bersalah pada diri saya sendiri." ucap Awan dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Saya bisa membantu untuk mencarinya."
"Kamu ingin membantu saya mencarinya?" tanya Awan memastikan.
"Iya, saya akan membantu mencari putri bapak semampu saya. Namun, saya tidak bisa menjamin bahwa putri bapak akan secepatnya ketemu." jawab wanita itu.
"Tidak masalah, terima kasih karena kamu sudah mau membantu mencari putri saya."
"Memang sudah seharusnya saya membantu bapak." ujar wanita itu.
Mereka kemudian mulai mencari keberadaan Elizabeth dengan berpencar. Setelah beberapa jam sudah berlalu, mereka pun akhirnya bertemu di satu tempat yang sama dengan sebelum mereka berpencar tadi.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Awan yang benar-benar khawatir dengan keadaan putrinya itu.
"Sebelumnya saya perlu minta maaf, karena saya masih belum dapat menemukan putri bapak. Bagaimana kalau kita melanjutkan pencarian besok pagi?" usul wanita itu.
"Sepertinya putri saya sudah berada jauh dari sini, saya akan melapor ke polisi saja. Terima kasih karena sudah membantu saya." ucap Awan.
"Itu sudah menjadi tugas saya untuk membantu sesama. Kalau begitu, saya permisi ya." pamit wanita itu.
"Iya, sekali lagi terima kasih."
***
Kini hari sudah semakin terang, mentari sudah mulai tampak. Awan sedari tadi hanya berkeliling di sekitar rumahnya seraya menggendong Gabriella, ia sudah meminta polisi untuk membantu pencarian Elizabeth. Namun, ia masih belum bisa untuk menghilangkan rasa khawatirnya.
"Apa kabar terbaru tentang putri saya?"
"Belum ada kabar terbaru, bapak harus tetap tenang ya. Kami akan tetap berusaha untuk mencari putri bapak semampu kami." jawab salah seorang polisi yang ditugaskan untuk mencari Elizabeth.
"Baik, saya akan menunggu kabar terbaru dari kalian." ucap Awan.
Pencarian selama beberapa hari sudah dilakukan, namun Elizabeth masih belum juga ditemukan. Awan menjadi sangat waspada mulai saat ini, Gabriella harus selalu berada di sisinya, ia berjanji tidak akan pernah meninggalkan Gabriella sendirian.
***
21 tahun sudah berlalu sejak Elizabeth menghilang. Awan kini tengah berbaring di rumah sakit, ia sudah mempercayakan perusahaan kepada Gabriella sejak satu tahun terakhir.
"Halo? Papah kenapa?"
"Penyakit Bapak kambuh lagi, Ibu bisa ke sini sekarang?" tanya salah seorang karyawan Gabriella yang mengantar Awan ke rumah sakit.
"Saya akan segera ke sana secepatnya." ucap Gabriella.
"Dan ...." Gabriella dengan cepat memutuskan panggilan itu, tanpa tahu apa yang ingin karyawannya sampaikan.
"Laura, kamu tolong urus semua pertemuan dengan klien. Saya ada urusan mendadak yang benar-benar tidak bisa saya tunda. Jadi, saya harus pergi sekarang. Kamu urus perusahaan dengan baik ya." titah Gabriella pada sekretarisnya.
"Baik Bu." Laura segera menyiapkan dokumen untuk pertemuan dengan klien.
***
"Bagaimana keadaan Papah sekarang?" tanya Gabriella memastikan.
"Keadaan bapak sudah mulai membaik. Ibu bisa menjenguk bapak sekarang, silakan."
"Terima kasih karena kamu sudah mau merawat Papah selama ini." ujar Gabriella.
Gabriella segera masuk ke ruang rawat Papahnya, ia dengan cepat memeluk satu-satunya pria yang ia sayangi itu.
"Gabriella?"
"Papah baik-baik aja kan? Aku segera datang ke sini saat mendengar penyakit Papah kambuh lagi. Bagaimana keadaan Papah sekarang?" tanya Gabriella cemas.
"Papah baik-baik aja sekarang. Bagaimana dengan perusahaan?" tanya Awan memastikan.
"Udah sakit kayak gini, Papah masih urusin perusahaan? Lebih baik, Papah istirahat aja sekarang. Jangan terlalu banyak pikiran." titah Gabriella, Awan mengangguk.
"Kamu udah makan?" tanya Awan.
"Udah, Papah nggak perlu khawatir sama aku. Sekarang, aku yang harusnya khawatir sama Papah. Perusahaan kita semakin berkembang, kinerja para karyawan juga sudah semakin baik."
"Kamu memimpin perusahaan dengan sangat baik, Gabriella. Papah akan sepenuhnya mempercayakan perusahaan Papah kepada kamu." puji Awan.
"Tentu, aku kan anak Papah." ucap Gabriella dengan sebuah senyuman tampak di wajahnya.
"Gabriella, sebenarnya ada yang ingin Papah sampaikan kepada kamu, ini benar-benar hal yang serius untuk dibicarakan." ujar Awan secara tiba-tiba.
"Apa itu?" tanya Gabriella yang terlihat mulai penasaran.
Saat Gabriella dan Awan tengah asyik mengobrol, tiba-tiba saja seorang wanita yang seumuran dengan Gabriella mulai memasuki ruang rawat itu. Suasana canggung mulai terasa, semuanya tampak tak bersuara.
"Siapa kamu?" tanya Gabriella heran, wanita itu hanya diam tak bersuara sedikitpun.
"Gabriella, dia adalah saudara kembar kamu, Elizabeth." ucap Awan, Gabriella segera menoleh ke arah Awan dengan tatapan bingung dan tak percaya pada kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Awan.
"Papah nggak usah bercanda deh." titah Gabriella yang sama sekali tidak percaya dengan ucapan Awan.
"Gabriella, Papah lagi serius sekarang." ucap Awan dengan wajah serius.
"Elizabeth? Perempuan ini Liza?" tanya Gabriella memastikan, Awan mengangguk.
"Benar, dia adalah Liza, saudara kembar kamu. Kalian sudah berpisah selama 21 tahun dan akhirnya kalian berdua dapat bertemu kembali sekarang. Papah harap, kalian berdua bisa menjadi saudara yang saling menyayangi satu sama lain."
"Enggak mungkin! Perempuan ini nggak mungkin Liza, kenapa dia baru datang sekarang?" tanya Gabriella yang masih tidak percaya dengan ucapan Awan.
"Itu semua benar, Gabriella. Aku adalah Elizabeth, saudara kembar kamu yang hilang selama 21 tahun." ucap wanita itu mulai bersuara.
"Kalau memang benar kamu Elizabeth, ke mana kamu selama ini? Kenapa kamu menghilang begitu lama, bahkan hingga bertahun-tahun." tanya Gabriella memastikan.
"Selama 21 tahun aku dirawat di panti asuhan. Aku juga baru tahu sekarang, bahwa aku adalah anak Papah. Karena kalung pemberian Papah yang masih aku pakai sampai sekarang." jawab wanita itu.
"Jadi, kamu adalah saudara kembar aku yang udah terpisah selama 21 tahun? Tapi, aku masih belum bisa percaya sama perkataan kamu barusan." ucap Gabriella.
"Kalau kamu memang masih belum percaya, itu adalah masalah kamu. Tapi kenyataannya, itu semua memang benar, aku adalah saudara kembar kamu, Gabriella. Aku Elizabeth Atmadja." ucap wanita itu dengan penuh percaya diri.
—Bersambung...