10 - Rencana Jahat

1019 Kata
"Kamu kenapa sih!?" bentak Gabriella. "Gabriella, kamu baik-baik aja kan?" tanya Elizabeth seraya mengulurkan tangannya pada Gabriella. Namun, Gabriella segera menepisnya karena kesal. "Huh!" kesal Gabriella. "Aku benar-benar minta maaf ya sama kamu, Gabriella. Aku hanya terbawa amarah. Jadi, aku mohon sekali, terima maaf dari aku ya?" "Maaf? Aku tidak akan pernah menerima permintaan maaf dari kamu. Sampai kapanpun!" Gabriella segera bangkit dan berjalan menjauhi Elizabeth. "Gabriella, aku mohon." Elizabeth mulai berlutut di hadapan Gabriella, sepertinya permintaan maaf darinya benar-benar tulus. "Liza, kamu kenapa sih hari ini? Aneh banget, kamu nggak macam-macam kan selama di sini?" heran Gabriella. Saat Gabriella mencoba melangkah untuk berjalan menjauh dari Elizabeth, ia segera terhalang oleh saudara kembarnya yang sudah berdiri tepat di hadapannya itu. "Gabriella, aku mohon, maafkan aku." "Liza, kamu nggak perlu minta maaf kayak gini. Aku tahu, kamu pasti sedang emosi, kan? Aku juga pernah mengalami hal itu, semua orang pasti akan melewati masa ini. Jadi, aku sudah memaafkan kamu." ucap Gabriella. "Serius? Kamu mau memaafkan aku?" tanya Elizabeth memastikan, Gabriella mengangguk. *** Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Gabriella terlihat tengah berjalan ke dapur untuk menuang segelas air. Sementara Elizabeth, ia sedang tertidur lelap. Dari luar, terdengar suara seseorang yang tengah mengetuk pintu, namun Gabriella mencoba untuk mengabaikan suara itu. Gabriella berjalan kembali ke kamarnya, namun suara ketukan pintu itu tak kunjung hilang, ia masih mencoba untuk mengabaikannya. Tapi, semakin lama suara ketukan itu semakin keras, sangat menggangu. "Siapa yang mengetuk pintu rumahku malam-malam begini? Mengganggu sekali!" Gabriella mencoba tenang, ia segera berjalan ke arah pintu untuk membukakannya. Saat sudah sampai di depan pintu, Gabriella mengembuskan napasnya secara perlahan. Ia mulai memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Saat ia mulai membukanya, suara itu mendadak hilang entah kemana. Ia mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja ia salah dengar atau mungkin saja itu hanya perbuatan orang iseng saja. Ia pun kembali menutup pintu itu dengan perlahan. Namun, saat ia mulai menutup pintunya, seseorang dengan pakaian serba hitam yang mengenakan topeng itu mulai menutup mulutnya menggunakan sebuah sapu tangan. Gabriella mencoba melawan, namun semakin lama, tubuhnya semakin lemas. Orang itu dengan cepat membawa Gabriella masuk ke dalam mobil yang di dalamnya sudah terdapat tali yang akan digunakan untuk mengikatnya. "Bagaimana?" "Semuanya sudah beres, kapan sisa uangnya Anda bayarkan kepada saya?" tanya orang itu. "Kamu tenang saja, itu urusan gampang." "Baik, saya tunggu." Setelah selesai menelepon seseorang yang ada di balik penculikan ini, orang itu segera mengikat tubuh Gabriella menggunakan tali yang sudah berada di dalam mobil. Ia mengikat tubuh Gabriella dengan sangat kuat, hingga sangat sulit untuk dilepaskan. Setelah selesai mengikat tubuh Gabriella, orang itu segera mengendarai mobilnya dan membawa Gabriella pergi jauh dari rumahnya. Setelah beberapa menit berlalu, Gabriella mulai tersadar, ia mencoba untuk menggerakkan anggota tubuhnya, namun ia tidak dapat bergerak sama sekali, karena tubuhnya sudah terikat dengan sangat kuat. Sulit sekali untuk dapat melepaskannya. "Saya di mana!?" Orang itu hanya diam, ia tidak bersuara sedikitpun. Gabriella benar-benar bingung harus berbuat apa saat ini. "Permisi, kamu siapa? Kenapa kamu culik saya?" tanya Gabriella memastikan, ia mencoba untuk sedikit lebih tenang. Namun, bukannya mendapat sebuah jawaban, Gabriella malah menerima tatapan tajam dari orang itu. "Diam!" titah orang itu. "Kamu jangan coba main-main dengan saya! Cepat jawab, kamu akan membawa saya ke mana!?" tanya Gabriella kasar. "Kamu tidak perlu banyak mengeluarkan suara, karena tenaga kamu harus di simpan. Sebentar lagi, saya akan membawa kamu ke tempat di mana kamu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dalam hidup." jelas orang itu dengan sebuah tawa kecil. "Saya mohon, lepaskan saya sekarang! Tidak ada gunanya menculik saya." "Diam!" titah orang itu, Gabriella masih mencoba untuk tenang, namun ia tetap cemas. "Siapa yang meminta kamu untuk melakukan ini semua? Jawab saya sekarang juga!" titah Gabriella. "Kamu tidak perlu tahu siapa yang meminta saya untuk melakukan ini. Hanya satu hal yang pasti, menculik kamu adalah sebuah keuntungan bagi saya." "Apa? Keuntungan? Kamu kira saya barang!?" kesal Gabriella. "Sepertinya begitu." *** "Apa Gabriella ada di kamarnya sekarang? Aku harus menghampirinya, kita berdua harus saling menerima satu sama lain, kan?" batin Elizabeth, ia segera keluar dari kamarnya dan mencoba untuk memasuki kamar Gabriella. Kamar itu tidak terkunci sama sekali, jadi Elizabeth langsung memasuki kamar itu. "Gabriella? Kamu ada di mana?" heran Elizabeth, ia sama sekali tak mendapat jawaban apapun, "Tunggu, kalau pintu kamarnya terbuka, Gabriella pasti sedang berada di dapur atau ruang tamu. Aku harus memeriksanya." Elizabeth segera berjalan menuruni tangga, saat ia sudah sampai di ruang tamu, ia hanya melihat beberapa buku yang masih tersusun rapi di atas meja, tak ada tanda-tanda bahwa seseorang baru saja berada di sana. Elizabeth pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur, saat sampai di sana Elizabeth menemukan satu buah gelas yang sudah terisi dengan air, sepertinya air yang berada di dalam gelas itu baru saja diminum oleh seseorang. "Gelas yang sudah terisi air? Apakah Gabriella yang baru saja meminum ini?" Elizabeth bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Setelah ia berkeliling rumah, ia akhirnya menemukan bahwa pintu rumahnya sudah terbuka, Elizabeth segera menghampiri pintu itu, dan ia juga menemukan sebuah anting yang berada di lantai, itu adalah anting yang biasa dikenakan oleh Gabriella. "Anting? Bukankah ini adalah anting yang biasa dipakai Gabriella? Hanya satu?" heran Elizabeth, ia mencoba untuk berpikir sejenak, hingga akhirnya ia menyadari sesuatu, "Tunggu, pintu rumah yang terbuka, sebuah anting, apakah Gabriella baru saja diculik oleh seseorang?" Elizabeth segera menutup kedua mulutnya menggunakan kedua telapak tangan. Ia tampak sangat syok saat membayangkan hal itu. "Ini enggak mungkin! Aku harus bagaimana sekarang!? Lapor polisi? Iya benar, aku harus lapor pada polisi sekarang!" *** "Apa yang akan kamu lakukan pada saya!?" "Saya tidak akan melakukan apapun pada kamu, tenang saja." ucap orang itu seraya membawa tubuh Gabriella dengan kasar, ia kemudian menjatuhkan tubuh Gabriella. Mereka tengah berada di sebuah gedung tua yang sudah tak berpenghuni. "Di mana ini!?" "Kamu harus tenang, saya akan meninggalkan kamu sendirian di dalam sini, tunggu sampai kejutan datang menghampiri kamu." ucap orang itu. Kemudian, ia mulai berjalan menjauh meninggalkan Gabriella. "Tunggu! Lepaskan saya!" titah Gabriella, namun ia sama sekali tak mendapat balasan, "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku akan berakhir di tempat ini? Aku masih belum siap." —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN