Bertemunya 2 Cucu Adam

1793 Kata
***** "Balik?" Gani hanya memutar kedua matanya malas, saat Aro baru saja mengganti seragam Chef-nya dengan kaos polo yang ia tutupi dengan jaket hitam, melontarkan pertanyaan basa-basi yang dianggapnya terlalu basi. Ayolah! Gani terlalu hafal dengan sifat Aro yang tak suka, sekaligus tak ingin mengenal yang namanya basa-basi. Sehingga membuatnya menebak jika pria di hadapannya ini tengah berusaha untuk meminta bantuan darinya, entah apa itu. "Lo nggak cocok buat basa-basi, Ar. Kayak biasa aja, to the point." "Anterin gue ke tempat temen gue yuk," pinta Aro langsung, sesuai permintaan Gani. "Ke mana?" Gani mulai memicingkan kedua matanya curiga. "Siniin kunci mobil lo. Biar gue yang nyetir." Dengan ekspresi datarnya, Aro mengabaikan pertanyaan Gani. Ia lebih memilih langsung menodongkan tangan kanannya, meminta kunci mobil milik Gani. Dengan ekspresi ragu-ragu, Gani merogoh kantong celananya, mengeluarkan kunci mobil Pajero-nya dan langsung menyerahkan pada Aro. "Fortuner lo ke mana emang?" tanya Gani. Saat ini keduanya berjalan berdampingan menuju tempat parkir. "Biasa. Servis rutin. Tadi siang lagi antri, jadi gue tinggal deh." Gani hanya ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. Tanpa berpikir panjang ia langsung memilih masuk ke dalam mobilnya. "Mau nemuin siapa lo ke tempat beginian?" Gani tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, saat kedua kakinya malah mengikuti Aro yang kini memasuki sebuah bar, tempat yang tak pernah ingin dikunjungi olehnya. "Kenapa?" Aro membalikkan badannya, menemukan wajah Gani yang sedang dalam mode was-was. Ia langsung terkekeh geli. Padahal ia tak meminta Gani ikut dengannya, justru bos sekaligus sobatnya ini yang ngotot untuk ingin masuk. "Tempat beginian, Ar. Are you kidding me?" "Why?" "Astaga!" "Tempat ini khusus kelas VIP, Gan, santai. Tempatnya keren kok, nggak kaya bar murahan. Gue yakin lo juga bakalan kagum," balas Aro dengan santai, mengabaikan ekspresi Gani yang kini awut-awutan. "Lagian banyak ceweknya juga, kali aja lo minat bawa pulang satu. Tante Irma juga udah nagih mantu mulu kan?" "Saran anda luar biasa sekali ya, Bapak Chef," balas Gani setengah menyindir. Namun kedua kakinya tetap melangkah, mengekor di belakang Aro. Sesuai prediksi Aro, Gani benar-benar merasa kagum dengan desain interior yang dipilih si pemilik bar. Benar-benar jauh dari ekspektasinya tadi. "Keren kan?" bisik Aro dengan senyum mengejeknya. Gani mengangguk tanpa bersuara. "Lo cari tempat duduk deh, pesen apa gitu. Gue nyari temen gue dulu. Jangan sampai ilang," pesan Aro sambil menepuk pundak Gani sebelum menghilang entah ke mana. Gani tak terlalu mengambil pusing dengan Aro yang tiba-tiba menghilang. Ia lebih memilih mengagumi desain interior yang benar-benar membuatnya berdecak kagum. Dan membuatnya tidak terlalu memperhatikan jalan, sampai membuatnya tak sengaja menabrak seorang wanita. "Maaf," sesal Gani merasa tak enak. Beberapa kali ia bahkan sampai harus membungkukkan badannya, tanda kalau ia benar-benar merasa menyesal. Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum. "It's okay," katanya maklum. Langsung memilih meninggalkan Gani begitu saja. Namun tepat di langkah ketiganya perempuan itu menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Gani, yang kini masih sibuk mengagumi seisi ruangan. Yang terlihat sedikit norak bagi sebagian orang. "Sorry, sebelumnya, lo Gani bukan sih?" tanya perempuan itu tampak sedikit ragu. Masih dengan wajah bingungnya, Gani mengangguk, membenarkan. "Maaf, siapa, ya?" "Gani dari SMA NUSA DUA kan?" tanya perempuan itu sekali lagi. Gani yang belum bisa mengenali siapa perempuan di hadapannya ini, hanya bisa mengangguk di sela senyum kakunya. "Iya, bener. Lo Gani yang itu. Apa kabar lo?" Perempuan itu mangguk-mangguk kemudian mengulurkan tangan kanannya, mengajak Gani untuk bersalaman dengannya. Dengan senyum yang masih canggung, Gani menerima uluran tangannya, menjabat tangan perempuan yang belum diketahui siapa ini. "Lo lupa sama gue?" tebak perempuan itu tepat sasaran. Di sela ringisannya, Gani kembali mengangguk. "Sorry, gue beneran lupa. Samar-samar kayak inget, tapi gue nggak inget siapa." Perempuan itu mengangguk maklum. "Iya, gue paham. Gue anak IPA soalnya, jadi lo pasti nggak terlalu inget gue. By the way, gue Cantika Putri." Kemudian memamerkan deretan gigi putih bersihnya yang rapi. "Ya, ampun! Putri, mantannya Riki kan? Astaga, pantesan kok kayak familiar gitu. Apa kabar lo?" Gani mangguk-mangguk setelah berhasil mengingat salah siapa perempuan ini. "Seperti yang lo liat. Utuh nggak kurang satu apapun," balas Putri sambil tersenyum manis. Ugh! Senyumannya bikin diabetes nih. Batin Gani ikut tersenyum. Jangan-jangan ini calon mantu yang Tuhan kirim untuk Maminya. Pikirnya makin ngelantur. "Lo sering ke sini?" Gani mulai melemparkan basa-basinya, siapa tahu mantan pacar sobat karibnya ini masih berstatus single seperti dirinya. Syukur-syukur ia bisa melanjutkan misi permodusan yang membuatnya bisa terlepas dari status jomblonya. Siapa tahu kan? Namanya juga usaha. "Mau-nya. Cuma berhubung kerjaan nggak memungkinkan, jadi gue jarang, pake banget, ke sininya." Putri sedikit memanyunkan bibir mungilnya, kemudian kembali menatap Gani. "Lo sendiri, sering ke sini?" tanyanya kemudian. Dengan gerakan cepat dan sedikit panik, Gani mengibaskan kedua tangannya. "Enggak. Ini pertama kalinya gue ke sini. Itu pun cuma mau nemenin temen gue, si Aro, katanya mau nemuin orang. Lo masih inget Aro kan?" "Inget, inget, yang ganteng tapi orangnya cuek parah itu kan?" "Iya, Aro yang itu." Gani mengangguk, membenarkan. "Udah punya istri belum tuh?" "Kenapa? Lo mau daftar jadi calon istrinya?" Sambil meringis Putri menggeleng. "Enggak, makasih deh. Mending gue jomblo ketimbang punya laki model begituan. Bisa kena stroke usia muda gue nanti," kekehnya kemudian sambil menggelengkan kepalanya. Gani ikut terkekeh geli. Ia sendiri juga tidak bisa membayangkan jika Aro yang super dingin akan menikah dengan Putri, mantan cewek populer di sekolahnya dulu yang memiliki sifat sedikit cerewet dan juga manja. Riki yang biasanya suka manjain pacar aja enggak tahan, apa kabar dengan Aro? "Bentar, hape gue bunyi. Lo di sini bentar ya, gue angkat telfon dulu," kata Putri sebelum menyingkir untuk menjawab sambungan telfon. "Ya, hallo." "....." "Iya, bentar dulu, 45 menit lagi saya sampai. Bilangin sama Prof. Muji kalo saya lagi di jalan." "...." "Iya, saya ikut join. Tenang saja." "...." "Iya. Saya tutup" Sambil memasukkan ponselnya, Putri berjalan kembali ke tempat Gani. Sambil mengucapkan 'sorry' karena sudah membuat Gani menunggu. "Lo sibuk nggak?" tanya Putri sambil memandang Gani ragu-ragu. "Enggak. Kenapa? Lo butuh bantuan?" Dengan semangat Putri mengangguk. "Gue mau minta tolong buat anterin temen gue yang udah teler." Kemudian menunjuk seorang perempuan yang kepalanya tergeletak di atas meja, bibirnya terlihat komat-kamit, seperti sedang merancau. "Kenapa musti gue?" "Soalnya gue musti balik ke RS, ada panggilan emergency. RS tempat gue kerja nggak searah sama apartement temen gue ini. Kalau gue anterin temen gue dulu, yang ada gue kena omel sama konsulen gue. Gue nggak tega ngebiarin dia naik taksi dalam keadaan mabuk gini. Lo bisa bantu kan?" Kedua mata Gani menjerap beberapa saat, kemudian menatap Putri dengan pandangan tak percaya. "Lo bercanda kan?" "Kenapa? Ngerepotin banget, ya?" "Bukan, bukan itu masalahnya, Put." "Terus?" "Gue pria normal, Put, temen lo lagi mabuk. Lo nggak takut temen lo gue apa-apain?" Bukannya waspada atau bagaimana, Putri justru malah tertawa setelah mendengar kalimat Gani. "Gue nggak yakin sih kalo lo berani apa-apain temen gue. Cuma kalo pun sampai kalian khilaf ya nggak papa. Temen gue single kok, Mama-nya juga udah pengen cucu." "Hah? Maksud lo?" Gani langsung melotot ke arah Putri. Sementara Putri justru malah nyengir. "Bantuin nggak nih?" tanyanya kemudian. Aku mengangguk pasrah. "Ya udah, gue bantuin." "Oke, sip. Gue janji bakalan traktir lo sebagai tanda terima kasih. Kalau perlu nanti gue kenalin anak co-as atau residen dari departement gue." "Lo dokter bedah?" tanya Gani sambil mengangkat tubuh teman putri yang belum ia ketahui namanya ini. "Bukan. Yang lagi lo gendong ini yang dokter bedah, gue mah cuma tukang bius," kekehnya sambil menyampirkan tas yang Gani tebak milik temannya. Keduanya pun melangkah keluar bar menuju tempat parkir. Ia bahkan melupakan fakta bahwa ia datang ke mari bersama Aro. "Ini alamat apartementnya, akses card buat masuk ada di tas. Lo cari aja nanti pasti ada." Putri menyodorkan secarik kertas untuk Gani. "Gue duluan, ya. Udah ditelfon mulu nih," kata Putri sambil menunjukkan ponselnya padaku sebelum menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya itu. "Thanks, ya, sekali lagi. Gue duluan," teriaknya lalu berlari menuju mobilnya sendiri. ***** Gani akhirnya bisa menghela napas lega, setelah berhasil membaringkan tubuh Anya ke atas tempat tidur, meski posisi perempuan ini belum terbaring sempurna. Kedua kakinya masih menapak di lantai, heels warna krim yang dikenakan Anya pun masih terpasang cantik di kedua kaki jenjangnya. Dengan penuh hati-hati, Gani melepasnya, mengangkat kedua kaki Anya agar terbaring sempurna. Mimpi apa coba ia semalam sampai dapat mus--tunggu! Jika diperhatikan lebih teliti wajah perempuan ini cantik juga. Lumayan oke jika di ajaknya menemui sang Mami. Batin Gani sambil menggeleng geli. Kemudian ia memilih untuk segera keluar dari kamar Anya. Bagaimana pun juga ia masih pria normal, tak baik jika berlama-lama dengan perempuan di dalam kamar malam-malam begini, mengingat keduanya sudah sama-sama dewasa. Tepat di saat Gani hendak memegang knop pintu, ia mendengar suara orang muntah. Sambil mengerang jengkel Gani membalikkan badannya dan mendapati Anya tengah kesulitan memuntah isi perutnya. Sial. Umpat Gani tak tahu harus bagaimana. Posisi macam apa pula ini ya, Tuhan! Karena tak tega, Gani pun akhirnya memutuskan menghampiri Anya. Membantu perempuan itu untuk memuntahkan isi perutnya. "Sudah lega?" tanya Gani sambil mengelap ujung bibir Anya dengan sedikit jijik. Membersihkan muntahannya sendiri saja Gani sudah cukup jijik, bagaimana harus membersihkan muntahan orang yang tak dikenal dengan penuh kasih sayang? Jangan bercanda! Perempuan itu mengangguk sambil mengguman tak jelas, kemudian menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kasur. Sementara Gani hanya mampu menghela napas frutasinya. Pandangannya pun beralih pada lantai yang terdapat bekas muntahan Anya. "Astaghfirullah al adzim, dosa apa yang telah hamba lakukan sampai apes banget gini," gerutu Gani benar-benar merasa frustasi, "harus gue bersihin pake apa ini?" Sambil menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Kedua matanya menangkap sekotak tisu yang tergeletak di atas meja rias. Haruskahku bersihkan dengan itu? Batinku mulai berasumi. Sambil meringis, Gani menggeleng. Kemudian memilih ke luar kamar, mencari kain bekas untuk membersihkan bekas muntahan Anya. "Lo hutang banyak sama gue," guman Gani sambil menatap Anya yang sedang tertidur lelap. Lagi-lagi ia harus menghela napas lelah saat kedua matanya menangkap sisa muntahan pada kemeja biru navy milik Anya. Perasaan Gani tiba-tiba bimbang. Di satu sisi ia ingin membantu perempuan ini, namun di sisi lain, ia juga merasa takut jika nantinya ia akan bertingkah b***t layaknya lelaki normal--yang kehilangan kewarasannya hanya karena melihat benda pusaka wanita--yang dengan nekatnya meniduri perempuan yang baru ditemuinya sekali ini. Astaga. Kenapa pikirannya mendadak m***m begini. "Mampus gue beneran bingung ini," guman Gani kian merasa frustasi. Sambil mondar-mandir tak jelas akhirnya Gani berhasil membuat keputusan, yang kemungkinkan akan disesalinya. "Oke, bantu aja. Toh kalau pun gue nggak sengaja lihat punya dia, anggep aja bonus terima kasih karena gue udah bantuin banyak ini cewek." Dengan ragu-ragu Gani meraih kancing kemeja atasnya dengan mata terpejam. Meski sesekali ia tetap melirik ke arah Anya, memastikan kalau dirinya tidak memegang benda yang salah. Setelah semua kancing terlepas, ia segera membuang kemeja itu asal, sementara dirinya memilih keluar kamar dengan terbirit-b***t. Tbc,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN