Hari Biasa Lainnya

1103 Kata
Sepulang sekolah, Bhanu masih mendapati Ben mendekati Cecil. Cowok itu ternyata masih rajin dengan agendanya yang menjemput Cecil di kelas itu. Hanya saja, ada yang berubah. Di depan kelas, Bhanu dan Dharma menonton drama Cecil yang menolak ajakan pulang bersama Ben. Cewek itu nampak dengan tegas dan tegap—seperti Cecil biasanya—mengatakan bahwa dia hendak pulang bersama teman-temannya lalu berbalik berlari-lari kecil menuju Bhanu dan Dharma. Ben dengan sorot kecewanya itu harus menerima Cecil justru pergi ke arah teman-temannya itu dan tampak tersenyum getir ketika menatap Bhanu. Cowok itu kaget ketika menerima senyuman miring dan mencebik seolah merendahkan dirinya itu. Sepertinya, Ben mengira bahwa rusaknya rencana siang ini adalah berkat Bhanu. Padahal, itu kehendak Cecil untuk ingin pulang bersama teman-temannya. “Hei, kalian mau kemana?” tanya Cecil menggandeng Bhanu. Bhanu melirik Dharma seraya menatap penuh tanya apakah hal demikian masih boleh terjadi? Dengan komunikasi telepati itu, Dharma bisa memahami jika Bhanu ingin memastikan bahwa ini tidak akan melukai perasaan Dharma. Cowok itu menangguk sambil tersenyum. “Gue mau pulang, kalo Bhanu ada les tambahan.” “Hah? Kok lo udah banyak berubah sih, Nu? Besok misal gue pacaran beneran sama orang lain, lu bakal ngapain?” Bhanu memutar bola matanya malas. “Bukan les tambahan yang begitu, ya? Dahlah, pokoknya kalian kalo mau belajar bareng, ya belajar ajah. Kelas gue besok kan nggak ada jadwal UTS.” “Ma, hari ini gue boleh nimbrung sama anak-anak radio? Anak Cheers lagi libur soalnya hari ini. Tapi, tadi gue bohong sama Ben mau kerja kelompok, haha.” “Lho, kok malah bohong sih, Cil? Kenapa nggak jujur aja kalo lo emang nggak mau lagi pulang sama dia terus?” protes Bhanu. “Kemarin dia malah kayak memelas gitu, loh. Ketimbang bilang ‘hari ini gue seneng banget lo mau gue ajak nonton, makasih Cecil.’ Tapi dia malah bilang kalo sebenarnya hari ini dia nggak mau pulang dan menyesal kalo gue ternyata nggak senyaman itu diajak nonton. Terus, dia juga kayak mellow nggak jelas sampai minta maaf berulang-ulang kalo dan bikin gue jenuh dengarnya padahal dia nggak melakukan kesalahan apapun. Sumpah, kemarin itu kayak jalan-jalan biasa aja menurut gue. Gue juga nggak berekspektasi bakalan gimana-gimana. Kan, rencana memang menonton. Tapi, Ben tuh malah bilangnya rada kurang memberikan kesan baik. Haduhhhhh, nggak bisa beneran gue sama cowok begitu. Bikin gue merasa bersalah seketika dia bilang begitu.” “Ew, bener-bener memanipulasi emosi banget.” Kata Bhanu lalu tersadar kalo Dharma sedari tadi diam. “Lo diem aja, udah tahu ya?” “Udah, tadi pagi.” “PARAH LO BERDUA CERITANYA PAS GUA NGGAK ADA!!!” seru Bhanu. “Lo tadi pagi kemana?” tanya Cecil. “Ke kantin, beli gorengan.” “Sama Yura, Cil.” Celetuk Dharma menyulut. “Ohhhh, gitu. Pedekate lu? Haha jujur gue dendam masihan sama Bhanu, kalo lo kencan sama Yura nanti gue buntutin sama Dharma.” Bhanu menoyor bahu Cecil pelan, “Yeu, nyai. Nggak ada ya kencan-kencan berdua. Mending rame-rame aja.” “Bodong, Bhanu. Bodong.” Pekik Dharma lagi-lagi menyulut. Bhanu hanya tersenyum bak setan seolah mengancam. “Cil, kemarin ada temen gue cerita katanya naksir elu.” Dharma melotot sejadi-jadinya, matanya sudah hampir keluar. Cecil ikut terkaget. “Lho siapa?” Dharma menggigit bibirnya dan mengepalkan tangan ke udara seraya melotot, mengancam hingga memohon ampun pada Bhanu. Sahabatnya itu membalas dengan terkekeh, “Nggak deng, tapi nggak jadi naksir soalnya lu udah disikat sama Ben. Mending jomblo ketimbang urusan sama Ben. Payah banget.” Dharma melemas. “Dikira gue apaan kali, barang? Ngawur aja kalo ngomong sikat-sikat.” Katanya. “Mama lo nggak di rumah? Tumbenan lo mau stay di sekolah dulu.” Tanya Cecil langsung punggungnya didorong pelan oleh Bhanu. “Udah, kalian ke radio deh. Gue ada urusan lain. Mau ngobrol sama pohon mangga.” “Ih, kesambet lu!” “Iya nih, gue masih belum ngajakin lo jalan weekend ini, Nu.” Bhanu menatap datar kedua sahabatnya yang justru terkesan meledek penuh canda, “Heleeh, setannya udah jadi teman gue. Hahahah. Duluan ya, bye!” pamitnya lalu berjalan menuju taman dekat lapangan dan spot favoritnya itu. Di sana, dia sudah menemukan Yura. Entah mengapa, cewek itu juga suka ikut-ikutan ke sana ketika hari di mana ia bersepakat untuk saling berbagi tempat terfavorit itu. Cewek itu menoleh Bhanu dengan pundaknya yang masih dibalut dengan jaket denim kebesaran milik kakaknya. Cewek itu menoleh ke arah Bhanu. “Hei, Nu. Sudah makan?” dengan menacungkan donat gula putih ke udara. Cowok itu menggapai makanan itu dan melahapnya hanya dengan 3 kali gigitan saja. “Laper ya?” “Yah, lumayan. Hari ini, lo beneran kosong?” Yura menunduk dalam, “Guru les private gue tiba-tiba ngabarin balik kalo les besok diganti hari ini, Nu.” Bhanu menghela napasnya, batal lagi. Namun, di sisi lain dia bisa tahu kegiatan sepulang sekolah Yura. “Lo les private sendirian? Nggak sepi?” “Sepi sih, tapi mau gimana lagi, hehe. Lagian mbak guru les gue masih anak kuliahan. Dia kuliah jurusan fisika gitu.” Bhanu hanya diam saja mendengarkan. “Tapi, agaknya emang dia pinter di Fisika doang sih. Gue pernah tanya tentang isu-isu sosial gitu malah jawabnya terkesan ignorance lah. Malah, balik menasehati gue. Dia bilang serahkan semua ke pihak yang bertanggung jawab menangani permasalahan isu-isu sosial dan lingkungan karena sekarang waktunya belajar fisika. Haduh.” Bhanu tertawa terbahak-bahak, “Masih mending Mama gue, ya. Beliau selalu ngajak gue diskusi soal specimen temuannya ketika ambil sampel di lapangan. Seru sih, yah buat tambah-tambah pengetahuan tapi pengetahuan sekolah. Kalo di luar sekolah juga kadang mama itu terlalu sainstis. Gitu kali ya kalo ngobrol sama anak-anak Sains?” “Tapi nyokap lo dosen, Nu. Harusnya lebih paham nggak sih?” “Iya sih, tapi kalo ngomongin kehidupan sosial yang sehari-hari itu mending sama kakak gue. Lebih nyambung. Kalo mama tuh kan udah agak berumur, Ra. Mana nyambung sama kita-kita yang masih ABG ini.” “Ya jangan salah, kali aja beliau bisa ikutan bernostalgia.” Katanya. Kemudian Bhanu berdiri. “Pulang yuk, lo harus les kan? Berarti besok jadi nih? Gue bawa buku-buku deh kalo lo mau. Yah, meskipun catatan gue beneran penuh dengan tulisan jelek ala ceker ayam.” “Haha, tulisan ceker ayam yang penting masih bisa ke baca kok. Buktinya guru-guru masih bisa nilai tugas-tugas tulis tangan punya lo, kan?” “Iya, meskipun dengan catatan kecil di bawahnya. Tolong, tulis dengan rapi.” Keduanya langsung tertawa terbahak-bahak. Bhanu masih berusaha sedemikian rupa memperbagus tulisannya. Yang penting bisa dibaca, tidak perlu sebagus dan serapi milik Yura yang hampir mirip seperti font di Microsoft word itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN