Teringat masa lalu Lily

1003 Kata
"Pah, apa nggak sebaiknya kita pindahkan saja Ria dari sana?" tanya Sindi spontan "Kalau aku si ikut apa kemauan dari Ria, kita kan nggak bisa memaksakan akan kemauan dari anak kita mah," “Aku hanya takut jika Ria kenapa-kenapa pah,” “Tidak hanya kamu mah, papah juga merasa takut. Tapi kita tanyakan dulu itu semua ke Ria.” Sindi dan Hendri pun masuk ke dalam ruangan karena telah mendapatkan izin dari doktor. Terdengar Ria memanggil kedua orang tuanya beberapa kali. “Nak, mamah ada disini, bangunlah! Buka mata kamu Ria,” “Iyah Ri, buka mata kamu! Kita ada disini.” Ria mulai menggerakkan jari tangannya secara perlahan, matanya pun terbuka. Ia melihat kedua orang tuanya telah berada di samping dirinya. “Mah, aku takut.” Rintih Ria “Nggak apa-apa nak, mamah ada disini,” Sindi mengambil kalung yang ia bawa di tas, dimana kalung tersebut begitu penting untuk menjaga Ria dari serangan makluk halus sewaktu-waktu. Sindi pun meraih leher Ria dan memakaikannya. Ria tersenyum dan mengucapkan Terima kasih kepada mamahnya. Beberapa luka di wajahnya membuat dirinya agak susah untuk mengobrol panjang lebar kepada kedua orangnya. Di sisi lain, Ria melihat Lily yang berada di depan pintu ruangan Ria. Terlihat Lily yang tersenyum manis ke arah dirinya. Tak mau menghabiskan waktu, Lily memeluk tubuh Ria dengan erat. Ria tersenyum ke arah Lily. Sindi yang melihat Ria tersenyum ke arah lain langsung menegurnya. “Apa yang membuatmu tersenyum nak?” Ria pun melihat Sindi, “Aku terbayang akan film lucu yang aku tonton tadi.” “Ah kamu, sakit begini masih ngayal saja kerjaannya” ujar Hendri Ria tersenyum ke arah Hendri. Mendengar bunyi perut Ria, Hendri dan Sindi saling bertatapan dan tertawa. Hendri pun pergi keluar ruangan untuk membeli makanan untuk Ria dan istrinya. “Apa kamu sudah mendingan?” tanya Sindi Ria mengangguk pelan, Sindi pun mulai menjulurkan pertanyaan perihal perpindahan Ria dari sekolahnya yang saat ini. Ria pun terdiam dan mulai berfikir akan tawaran dari ibunya tersebut. “Tapi mah, aku masih belum berhasil dengan tujuan aku di sekolah sana,” ujar Ria Sumi pun menanyakan perihal tujuan yang Ria maksud tersebut. “Aku masih penasaran akan hantu itu mah, sebelum dia melukai Ria, dia sempat bilang jika dendam dia disekolah tersebut belum berhasil,” “Tapi mamah juga nggak mau kalau kamu jadi korban Ria. Apalagi kemarin kan juga terjadi kematian kan di sana?” “Iyah mah, tapi Ria masih penasaran.” Sindi mengangguk pelan, dirinya tak mau memaksakan apa yang Ria inginkan. “Yaudah kalau gitu terserah kamu saja, ingat ya... Kalung itu harus terus berada di leher kamu, jangan sampai kejadian ini terulang kembali. “ Ria mengangguk pelan, “Makasih ya mah.” Sindi mengelus dahi Ria, Sindi pun meminta izin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Jika ada apa-apa, Sindi menyuruh Ria untuk sesegera mungkin memanggil dirinya via telepon. Ria pun mengangguk pelan, Sindi keluar dari ruangan Ria. Lily yang dari tadi berada di samping Ria pun mulai membuka suara, "Apa kakak baik-baik saja?" Ria memegang tubuh Lily, "Kakak baik-baik saja kok." "Siapa yang telah membuat kakak seperti ini? biar Lily yang kasih dia pelajaran." "Nggak Li, apa kamu masih ingat dengan hantu yang pernah kakak ceritain ke kamu, dimana hantu tersebut sangat jahat dan melukai siapa saja," "Aku tak peduli dengan itu, aku ingin bisa melindungi kakak. Aku tak mau kakak seperti ini." Ria tersenyum kearah Lily, Ria mencubit pipi Lily seakan gemas akan tingkahnya, "Makasih yah, kamu baik deh sama kakak." "Oh ya maafin kakak yah, karena kakak sakit, kakak nggak bisa tepatin janji kakak sama kamu untuk mencari orang tua dan kakak kamu," sambung Ria "Tidak apa-apa kak, asal kakak sembuh dan selamat." Sindi pun kembali ke ruangan Ria, "Apa ayah kamu belum kembali?" Ria menggelengkan kepala, "Belum mah, mungkin saja antriannya banyak." Tak berselang lama, Hendri pun datang. "Maaf ya lama, soalnya banyak orang yang antri." Sindi mengangguk pelan dan menyuapi Ria dengan sebungkus nasi yang dibawa Hendri. Pintu pun terbuka, perawat mulai masuk dengan memberikan semangkok bubur. "Selamat sore ibu. mohon maaf apakah itu untuk pasien?" "Iyah sus," "Maaf ya bu, sebaiknya pasien jangan di berikan makanan luar terlebih dahulu. Karena itu nggak baik buat kesehatan pasien." "Ouh gitu ya Sus, ya sudah makasih ya sus," Suster pun mengangguk pelan dan memberikan semangkok bubur kepada Sindi. Setelah memberikannya, perawat tersebut pun pergi dari ruangan Ria. "Kalau gitu nih nasi buat papah saja lah." Hendri mulai mengambil sebungkus nasi dari meja Sindi pun mulai menyuapi Ria dengan bubur yang telah berada di tangannya tersebut. Di dalam benaknya, Ria merasa bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang begitu tulus menyayangi dirinya. Sindi meminta Hendri untuk pergi menebus obat di apotek rumah sakit. Sindi memberikan resep obat yang telah doktor berikan sebelumnya. Hendri pun keluar dari ruangan tersebut. Sementara Sindi masih sibuk menyuapi bubur ke mulut Ria. Selesai makan, Sindi memberikan minuman kepada anaknya tersebut. **** Melihat kedekatan Ria kepada orang tuanya, membuat Lily teringat akan semasa hidupnya di masa lalu. Namun, masa lalunya tak seindah dengan apa yang ada di depan matanya. Dimana waktu ia sakit, ia harus dipaksa mengemis oleh ayahnya sendiri. Ibu Lily sendiri telah berusaha membujuk ayahnya. Namun, ia malah di sakiti oleh ayahnya. Beberapa kali tubuhnya di pukul oleh ayahnya dengan keras. Kakak Lily yang melihat itu semua langsung melerai ayahnya. Dia fikir ayahnya akan berhenti, namun sayang, ayah Lily malah menjadi-jadi, ia mendorong kakak Lily hingga kepalanya terbentur ke kursi. Ibu Lily dengan cepat berlari ke luar rumah berteriak meminta tolong. Warga yang mendengarkan teriakan tersebut langsung datang menghampiri rumah Lily. Merasa terpojok, Ayah Lily pun kabur menggunakan motor miliknya. Ibu Lily menangis sejadi-jadinya, beberapa warga pun mencoba menenangkan ibu Lily dan membantu membawa kakak Lily ke Rumah sakit terdekat.Tak lupa, ibu Lily pergi mencari Lily, ia sendiri tak tega jika harus anaknya yang menjadi korban akan suaminya tersebut. Melihat Lily yang lemas, ia segera berlari dan mengendong anaknya tersebut. Namun aksinya di gagalkan oleh suaminya sendiri. Ayah Lily bersikeras agar Lily tetap melanjutkan mengemis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN