Terbuka kepada Hendri

1028 Kata
"Lily juga kayaknya betah juga di sini. Dia kelihatan begitu bahagia banget gitu kayaknya," ujar kakek tersebut yang melihat Lily berlarian bersama cucunya Kakek tersebut pun memanggil cucunya tersebut, "Gimana? seru kah bermain dengan kak Lily?" cowok tersebut pun mengangguk dengan pelan, dirinya sangat menyukai teman barunya tersebut. "Kamu tinggal di mana nak? jauh kah dari sini. Kalau jauh kamu boleh kok nginap di sini, di rumah nenek." tawar nenek tersebut kepada Ria Ria yang merasa nggak enak pun menolak secara halus agar tidak menyakiti hati nenek dan kakek tersebut. Karena hari sudah semakin sore, Ria pun berpamitan kepada nenek dan kakek untuk pulang. Ria mulai mencari ojek yang bisa mengantarkannya menuju kost dia yang sekarang Sampai di rumah, Ria melihat kedua orang tuanya yang telah berada di ruang tamu menunggu dirinya pulang. "Dari mana kamu Ria?" tanya Hendri Ria bingung untuk menjawab pertanyaan dari Hendri tersebut. Secara Hendri tidak mengetahui keberadaan dari lily. Pasti akan sulit untuk membuat Hendri percaya. Ria mulai menghampiri Sindi dan memberi dirinya kode untuk membantu Ria menjawab pertanyaan dari Hendri tersebut. Karena Ria sendiri merasa bingung harus membalas apa. "Papah mah gitu, Ria kan juga baru pulang. Masa di sidang sampai segitunya." ujar Sindi kepada Hendri "Kamu jangan terus-terusan belain dia deh mah, Ria tuh jelas-jelas salah. Kalau kamu belain dia mulu malah nih anak semakin menjadi-jadi." ujar Hendri yang sebal akan Lily "Ria minta maaf pah, Ria Terima kok pasti kalau papah mau marahin Ria. Karena Ria pantas untuk menerima itu semua." ujar Ria yang merasa bersalah "Jawab pertanyaan Ayah. Kamu dari mana?" tanya Hendri dengan nada yang keras "Dia habis membantu anak kecil yang telah lama jauh dari keluarganya." ujar Sindi yang mulai berdiri menghampiri Hendri Ria pun melirik Sindi, Sindi memberi kode dengan memejamkan matanya beberapa detik ke arah Ria. Ria pun mengangguk dengan pelan, dirinya menyerahkan semua kepada ibunya tersebut. "Apa maksud kamu? mencari ibu siapa? anak kecil siapa yang kamu maksud?" Hendri memberi beberapa pertanyaan kepada istrinya tersebut, karena dirinya kebingungan dengan apa yang di ucapkan oleh Sindi tersebut "Apa ayah percaya kalau di sini ada seorang anak kecil yang ada bersama kita?" tanya Sindi dengan menaikkan alisnya Hendri pun menoleh ke arah sekitarnya, dirinya sendiri kebingungan dengan apa yang Sindi ucapkan tersebut. Padahal di sekelilingnya, Dia tak menemukan siapapun. "Apa sih yang kamu maksud, saya tak melihat siapapun di sini." ujar Hendri "Bagaimana kamu bisa melihatnya, sementara mata kamu itu terbatas. Tak bisa melihat hantu dengan jelas." saut Sindi Hendri yang semakin bingung pun menanyakan apa yang dimaksud oleh istrinya tersebut. "Sudah lama pah, kita tinggal dengan hantu anak kecil. Dimana hantu tersebut sangat cantik dan menggemaskan. Bagaimana mungkin kita membiarkan dia merasa kesepian dan sendirian di sebuah kota yang luas." ujar Sindi "Aku masih belum mengerti dengan apa yang kamu katakan. Siapa sosok hantu anak kecil yang kamu maksud tersebut?" Karena tak mau membuat masalah makin runyam, dan menghindari suara yang keras, Sindi pun mengajak suaminya tersebut. untuk masuk ke dalam kamar. "Kenapa sih mah? kenapa juga harus sembunyi-sembunyi. kayak gini. Apa sih yang sebenernya kalian sembunyikan dari. ayah?" tanya Hendri. Sindi pun menundukkan kepalanya dan meminta maaf atas apa yang dilakukannya. Namun, sudah waktunya Hendri untuk mengetahui itu semua. Karena kasihan Ria yang terus-terusan kena marah dari ayahnya tersebut. "Dia korban dari pembunuhan ayahnya yah. Ria sendiri mengaku kalau menemukan dia di sebuah cafe. Anak kecil tersebut bernama Lily, Dia menangis-nangis meminta tolong kepada ayahnya tersebut." "Kenapa kamu bisa rahasiakan semua ini dari aku. Padahal aku ini suami kamu mah, kenapa kamu. segitu teganya nggak kasih aku soal masalah sebesar itu. Gara-gara itu semua, aku jadi sering marahin anak kita sendiri." ujar Hendri yang mulai menyesali perbuatannya Sindi pun meminta maaf kepada suaminya tersebut karena telah menyembunyikan itu semua dari Hendri. Hendri pun mengangguk pelan dan memaafkan perbuatan dari istrinya tersebut. "Terus bagaimana dengan perkembangan yang Ria lakukan? Apa sudah ketemu." tanya Hendri Sindi pun menggelengkan kepala, dirinya tak tahu dengan perkembangan soal Santi. Karena dirinya sendiri belum bertanya kepada Ria soal hal tersebut. Santi pun memberikan cincin kepada Hendri. Dimana cincin tersebut bisa membantu Hendri untuk melihat Lily. Hendri. pun memakai cincin tersebut. Hendri mulai mengajak Sindi ke kamar Ria untuk bertanya kepada Ria dengan perkembangan yang sedang ia lakukan. Ria yang mendengarkan suara ketukan dari pintu kamar pun segera keluar. "Ayah, mamah? ada apa?" tanya Ria kepada meraka berdua "Papah dan mamah. datang kesini karena ada yang mau kita tanyakan sama kamu." jawab Hendri dengan memegang pipi Ria "Tanya apa?" tanya Ria dengan mengerutkan dahinya. "Gimana perkembangan kamu dalam mencari Santi?" tanya Sindi dengan memegang kedua pundak Ria Ria menggelengkan kepalanya, "Masih belum bisa bertemu dengan ibunya Lily mah. Tapi waktu saya cari tadi, kata seorang nenek yang tinggal di sebuah gubuk warna, katanya ibunya Lily pergi mencari rumahnya yang dulu. Karena dia merindukan Lily. Dia Ingin terus bisa berdekatan dengan Lily. Meskipun yang ia bisa lihat hanyalah kuburannya saja." "Jadi kejam. banget yah ayahnya Lily tersebut. Masa tega sih bunuh anaknya sendiri dengan sadis kayak gitu." ujar Hendri "Meskipun begitu, dirinya masih belum bisa puas dan menyesal dengan semua perbuatannya tersebut. Rio sekarang malah menjalani nasibnya dengan menjadi pencuri. Hingga kemarin dia di tangkap dan dipenjara." saut Sindi "Owalah. Jadi tuh orang masih hidup yah? ayah kira dia sudah meninggal dunia." "Harusnya gitu yah pah, biar nggak terus-terusan melakukan kejahatan kayak gitu. Kadang saja aku merasa kasihan melihat Lily kemarin yang tak dipedulikan oleh ayahnya sendiri. Ayahnya tersebut tak menganggap Lily sebagai anaknya sendiri. Malah Dia kayak malas gitu buat memberikan kasih sayang kepada Lily yang statusnya adalah anak kandungnya sendiri." ujar Sindi "Gila sih, Ada yah orang seperti itu. Sadis banget soalnya. Andai hidup mereka tidak mengenal Rio, pasti mereka tak akan merasakan penderitaan seperti itu. Apalagi waktu aku mendengarkan cerita dari kalian berdua. Aku merasa kalau Ria dan Santi merupakan orang yang sabar dan baik banget." ujar Hendri. Hendri pun menawarkan diri untuk ikut membantu mereka mencari Santi. Ria dan Sindi yang mendengarkan hal tersebut pun saling menatap dan tersenyum lebar secara bersamaan. Mereka semua berharap bisa menemukan Lily dan Santi dengan cepat. Karena mereka juga nggak tega terus -menerus membuat Lily merasa sedih karena kangen dengan ibunya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN