Pertemanan yang Menyebalkan

1155 Kata
Yolanda sehabis makan inginnya langsung tidur, namun Arka menghalaunya. “Jangan tidur dulu! Ayo, ikut denganku ke tempat asyik!” ujarnya seraya menarik tangan Yolanda agar mau bangun. Astaga, dirinya itu sedang mengantuk dan ingin berleha-leha sebelum nanti malam kembali bekerja, gerundel Yolanda membatin. “Aku hari ini ulang tahun, loh. Jangan bilang bahwa dirimu lupa hari penting ini!” rengek Arka yang bersikeras mengajak Yolanda untuk keluar. Yolanda merotasikan bola matanya jengah. “Kau pikir aku bodoh? Mana ada ulang tahun sebulan dua sampai tiga kali? Alasanmu untuk mengajakku keluar itu sangatlah memuakkan, asal dirimu tahu saja,” sindirnya membuat Arka mencebik. Yah, Arka memang seringkali membodohinya agar mau diajak keluar di jam-jam seperti sekarang. Niatan Arka memang bagus, yaitu ingin menarik keluar Yolanda dari gua yang disebut rumah sepetak ini. Yolanda selalu mengurung dirinya di tempat pengap ini dan memilih tak mau berinteraksi dengan dunia luar. Ia hanya keluar saat malam sekedar pergi ke bar untuk bekerja. Sisanya, ia hanya gunakan waktu berdiam diri di rumahnya. “Aku tidak suka kau menatapku iba begitu. Pergi saja sana! Aku mau tidur, Ar.” Pekikan mengejutkan Yolanda membuat Arka terenyak sebentar. Ia mengelus d**a dramatis sebelum akhirnya bangkit. Yolanda pikir temannya itu sudah menyerah, makanya ia kembali memejamkan matanya. Dan di saat itulah wajahnya malah disiram air. Siapa lagi pelakunya jika bukan Arka? Yolanda memekik keras dan menendang-nendang udara kesal. Sungguh, Arka tengah berusaha memancing kemarahannya, bukan? Arka mengulum senyumnya melihat kekesalan Yolanda akibat ulah usilnya. “Akan kubunuh dirimu!” amuk Yolanda dengan mata memicing marah. Ia bangun dan siap menerjang Arka dengan segala kekuatannya. Tapi, tak semudah itu bagi Yolanda membalas dendam. Dengan gesit Arka selalu menghindar saat Yolanda akan mencekalnya. Dan malah berakhir dengan Yolanda yang jatuh tersungkur saat Arka berhasil mengelak. Yolanda makin kesal dan memukul lantai. “Yak, pendosa sepertimu memang harus kulenyapkan,” serunya yang kembali bangun dan berniat menangkap Arka yang licin seperti belut ini. Maka, terjadilah adegan tangkap-ditangkap dalam rumah kos kecil itu. Arka terbahak mengejek Yolanda yang belum juga bisa menangkapnya. Sedangkan Yolanda sudah kepayang sebal akan aksi usil teman karibnya ini. Hingga akhirnya Yolanda menyerah. Ia berselonjor pasrah akibat lelah yang melandanya. Arka memang paling bisa jika membuat Yolanda bergerak untuk olahraga seperti barusan. “Ayo, keluar! Kau sudah berkeringat begitu, tinggal menambahinya sedikit dengan berjalan kaki mengelilingi taman. Kujamin tubuhmu akan bugar karena olahraga,” bujuk Arka dengan menyodorkan tangannya agar diraih Yolanda. Yolanda menampiknya, namun ia berdiri juga. Ia menyabet asal jaket yang tergantung di pegangan lemari. Usai memakainya, tangannya bergerak lihai mengucir rambut panjang semampainya dan berjalan lebih dulu membuka pintu. “Eh, sekalian ambilkan topiku itu!” pinta Yolanda teringat topinya belum ia pakai. Arka mengangguk cepat dan ikut keluar. “Nih, pakailah dengan benar! Seperti ini maksudku,”—seraya memakaikan topi bisbol itu di kepala Yolanda dengan terbalik—“Nah, ini baru cantik dan cocok untukmu.” Tawa Arka meledak saat melihat wajah jengahnya Yolanda. “Kau mau mati, ya?” kecam Yolanda lalu mengunci pintu rumahnya dan membalik topi agar terpasang dengan benar. “Jangan dulu, lah. Pahalaku belum banyak dan aku juga masih menabung dosa, kok,” sahut Arka ringan. Yolanda mendecih setuju. Ya, dosa keduanya terlalu banyak sedangkan pahala saja belum ditabung. ***** Saat ini Yolanda tengah duduk santai di bangku taman menunggui Arka kembali dari membeli minuman. Yah, meskipun hanya berjalan memutari taman, tapi ia sungguh kelelahan. Katakan saja fisiknya lemah! Karena memang Yolanda itu tipe mageran. Ia jauh lebih suka jika diminta tidur ketimbang melakukan kegiatan. “Lama sekali, sih. Astaga, kau tadi ketiduran di tokonya, ya?” sindirnya saat Arka duduk di sebelahnya. “Nih, minumanmu. Kau tidak tahu saja, sih, tadi ada keributan di tokonya. Aku yang sukanya kepo, jadi memilih tinggal di sana sebentar sampai ributnya selesai,” adunya Arka yang kemudian menenggak minuman dinginnya di botol. Yolanda hanya geleng-geleng saja. Arka itu suka sekali ikut campur maupun ingin tahu urusan orang. Bukannya apa-apa, tapi bisa saja itu akan jadi bumerang baginya suatu saat nanti. “Oh iya, malam nanti kau akan melakukan apa untuk mengisi waktu libur?” tanya Arka yang teringat bahwa 2 hari ini adalah jatah libur keduanya. “Tidurlah. Memang mau apa lagi?” sahut Yolanda tenang dan ikut menenggak minumannya sendiri. Arka yang mendengar jawaban lugasnya Yolanda hanya tersenyum tak ikhlas. Iya dirinya juga tahu bahwa tidur adalah hal terbaik yang bisa Yolanda lakukan. Tapi, masa tidur terus selama dua hari ini? Akan sangat membosankan baginya, loh. Namun mengajak Yolanda keluar sudah pasti butuh energi banyak. “Bagaimana jika kita coba berkeliling mencoba minuman di bar lain? Yah, hitung-hitung bisa menambah wawasan dan ide untuk resep meracik minuman lainnya,” umbar Arka memberikan ide brilian. Ia pikir Yolanda akan memujinya sebab menuturkan ide bagus begitu. Ia sudah tersenyum-senyum sejak tadi seraya menunggu respon Yolanda atas idenya. Tetapi, Arka langsung melotot kaget karena Yolanda menempeleng kepalanya sedikit keras. “Yak! Kau itu kenapa malah memukul kepalaku?” jerit Arka. Yolanda mengangkat kedua alisnya menantang. “Ya salahkan dirimu itu! Kau tak berpikir dulu, sih. Memang uang dari mana untukmu membayar minumannya nanti? Aku dan kau sama-sama tahu bahwa kita ini kantong tipis,” sergahnya yang membuat Arka terkekeh malu. “Oh iya, aku lupa soal budget nya,” ucapnya membenarkan. Yolanda lalu menatap ke arah lain dan tepat saat itu ia melihat seorang pria tengah mendekati wanita yang menggendong bayi. “Yak, dia pencopet!” seru Yolanda. Karena pekikkannya itulah Arka di sebelahnya dan beberapa orang yang lewat di sekitar langsung menoleh padanya. Yolanda langsung terbatuk pelan dan menelan ludahnya gugup. Bukan dirinya yang mau ditatap curiga begitu, tapi pencopet yang ternyata sudah kabur mendengar pekikannya tadi. Mau mengadu pun rasanya hanya akan sia-sia. Ia menurunkan topinya hingga makin menutupi wajahnya. Beruntung ia pakai topi, jadi bisa digunakannya menutupi rasa malunya ini. Arka yang kebetulan duduk di sebelahnya segera bergeser memberi jarak antara dirinya dan Yolanda. Seolah itu membuktikan bahwa dirinya tak kenal dengan Yolanda. Astaga, teman macam apa itu? Sungut Yolanda membatin. “Hey, aku ke toilet umum dulu,” ujar Yolanda lirih saat berjalan melewati Arka yang terlihat sama sekali tak mengenalnya. Sungguh menyebalkan sekali temannya ini. Yolanda menaikkan alisnya saat di depan sana ia melihat pria yang tadi dipergokinya ingin mencopet. Ia harus mengomelinya untuk menghapuskan rasa malu yang bertengger di hatinya sekarang. “Yak, kau Tukang Copet! Berhenti di situ!” serunya memanggil dengan suara beroktaf tinggi. Namun, bukannya berhenti dengan panggilan Yolanda, pria itu berjalan santai ke salah satu gang terdekat. Yolanda tak menyadari itu dan malah mengikutinya. “Kau yang mencopet, tapi aku yang jadi malu dilihati banyak orang,” hina Yolanda saat pria pencopet itu berhenti dan berdiri membelakanginya. “Yak, tunjukkan wajahmu itu! Kau pasti buruk rupa sampai tak berani menampakkan wajahmu,” tuding Yolanda lagi. Pria di depannya itu melepas topinya dan berbalik menghadapnya. Yolanda terperangah menatap wajahnya. Sungguh, dirinya tak sedang bermimpi melihat pria ini, bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN