‘’Aku juga ingin mengajakmu ke sana.’’ Memegang kedua tangan Ambar. ‘’Selama dua puluh satu tahun aku mengenalmu, namun baru hari ini kau menghancurkan kepercayaanku,’’ Melepas genggaman tangan itu dengan kasar. ‘’Dengar, kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Lakukan lah apapun yang kau mau, lakukan lah apapun yang suka. Karena mulai detik ini, untuk perduli padamu, aku sudah tidak mau,’’ Kekecewaan di wajahnya dapat terlihat dengan jelas. ‘’Ayah selalu mengatakan bahwa seorang Davis selalu menepati janjinya. Tapi hal itu tidak berlaku bagimu.’’ Ambar bergegas meninggalkan Ratva dan membuang mawar yang terdapat di telinganya ke lantai. ‘’Tunggu.’’ teriaknya. Sayangnya Ambar tidak memperdulikannya sama sekali. Ia tidak menyangka bahwa reaksi Adiknya akan seperti ini. Karena sebelu

