Pada suatu kesempatan Morgan mengajakku ke sebuah pameran merangkap lelang barang antik. Bukan sembarang pameran, melainkan sekaligu acara penggalangan dana. Uang yang terkumpul akan disumbangkan ke organisasi yang berkontribusi merawat sekaligus menyelamatkan korban kekerasan dalam rumah tangga. Seperti biasa, Jamie memelototi Morgan dan tidak lupa memberi peringatan mengenai pulang tepat waktu. “Nggak ada acara mampir ke rumahmu,” katanya kepada Morgan, tegas. Lalu, Morgan dengan santainya memberi jawaban sebatas, “Oke.” Kadang aku mempertanyakan ambang batas kesabaran Morgan menghadapi sikap Jamie. Dia seolah terbiasa menghadapi kerewelan semacam itu. Luar biasa. Setibanya di tempat pelelangan, Morgan dan aku diantar menuju meja bernomor 23. Morgan menolak minum wine dan memilih ju

