4. Bersama Arjuna

1032 Kata
Arjuna membawa Kinara ke beberapa tempat, salah satunya adalah butik wedding dress langganan keluarganya. Ia ingin Kinara memilih baju pernikahan yang dipakainya nanti. Arjuna sengaja mempersiapkan semuanya lebih dulu agar pernikahan ini segera dilaksanakan. "Kenapa secepat ini mempersiapkan semuanya, Pak?" tanya Kinara. "Pernikahan akan segera diselenggarakan, Kinara." "Maksudku adalah, bahkan kamu belum mengenalkanku pada orangtuamu. Bagaimana kalau mereka tidak menyukai ku?" Kinara sadar, dirinya adalah anak panti asuhan. Sementara Arjuna berasal dari keluarga kaya raya. "Mereka pasti setuju." "Seyakin itu?" Kinara menatap serius Arjuna. "Bisakah, kamu diam? Aku memintamu untuk mencoba pakaian, bukan banyak tanya seperti itu!" ucap Arjuna dengan nada tinggi. Kinara tersentak kaget. Baru saja Arjuna mengatakan itu dengan nada marah, berbeda dengan Arjuna yang dikenal Kinara kemarin. Ia melihat sisi mengerikan pada tatapan Arjuna, bukan tatapan yang hangat lagi. Tiba-tiba mood Kinara menjadi buruk, ia mendadak kesal dengan sikap Arjuna. Selama melihat model dan mencoba baju pengantin, Kinara tidak menunjukkan semangat sama sekali. "Sudah memilih?" tanya Arjuna. "Sudah, Pak." "Kamu lapar?" "Tidak, Pak," jawab Kinara. "Benarkah?" "Lalu, aku harus menjawab seperti apa?" tanya Kinara semakin kesal. "Lapar." "Terserah pak Arjuna saja." Arjuna terkekeh mendengar jawaban Kinara. Wanita itu memang lucu dan lugu. Arjuna mengancak gemas rambut panjang Kinara, lalu beranjak meninggalkan butik. Kinara yang diperlakukan seperti barusan hanya mematung kaku ditempat. Dengan sekejap, rasa kesalnya berubah menjadi rasa senang, seperti ada letupan-letupan kecil di hatinya. "Aku akan meninggalkanmu jika lama." Teriakan Arjuna menyadarkan lamunan Kinara. Ia segera mengikuti Arjuna keluar dari butik. Arjuna membawa Kinara ke toko perhiasan untuk membeli cincin, setelah itu mereka menuju tempat makan terdekat. Kinara memang sudah lapar, karena sejak pagi dirinya belum makan, hanya beberapa cemilan yang dimakannya saat di kampus. "Pak, boleh nanya?" tanya Kinara. "Hm." Kinara berusaha mencairkan suasana diantara keduanya. Sejak masuk kedalam tempat makan ini, Arjuna belum mengatakan apapun, ia lebih fokus dengan ponselnya. "Kenapa memilihku? Kenapa bukan orang lain?" "Random aja, kebetulan kamu sedang ada masalah, lebih mudah mengajak kerjasama orang yang berada dalam masalah, terutama berkaitan dengan uang," jelas Arjuna. Kinara menelan ludahnya kasar. Perkataan Arjuna benar-benar ngena di dirinya. Ia seakan menjual tubuhnya demi mendapatkan uang. Rasanya sakit sekali. "Kenapa?" Arjuna melihat Kinara menunduk. "Gakpapa pak, mikir ajasih. Kan pak Arjuna kaya, tampan, pasti banyak yang suka. Lah aku, miskin dan yatim piatu juga," ucap Kinara pelan. Arjuna memang random memilih calon istrinya, dan secara kebetulan Arjuna mendengar percakapan Kinara di telepon. Kesempatan tidak dibuang oleh Arjuna. Ia menemui Kinara untuk mengajukan perjanjian. "Kamu memang biasa aja, Kinar. Cantik rata-rata, tidak tinggi, badan kecil dan d**a kecil. Tidak cukup untuk meningkatkan gairahku, hahaha." Arjuna tertawa. "Kamu! Huh, keterlaluan." Kinara memalingkan muka. Kinara kesal mendengar perkataan Arjuna yang membuatnya marah sekaligus malu. Andai saja dia bukan calon suami, sudah Kinara masukkan ke dalam koper lalu dibuang ke tempat yang jauh. "Marah?" "Tidak!" "Sebaiknya makan dulu, sebelum dingin." Kinara bergegas memakan makanan yang tersaji dengan lahap. Ia tidak peduli dengan Arjuna yang berkomentar tentang cara makan Kinara yang berantakan. Siapa peduli, Kinara hanya butuh makan. Selesai makan, Arjuna mengantar Kinara menuju butik yang berada didekat sana. Ia akan membelikan Kinara dress yang harus dipakainya menuju kediaman keluarga Atmaga. Derap jantung Kinara berpacu dengan cepat. Mendengar kata mertua yang terbayang adalah mertua jahat seperti film atau sinetron. Kinara segera menepis pikiran negatifnya. Ia harus bersikap profesional layaknya pasangan yang saling mencintai saat di depan umum, terutama keluarga Atmaga. Selesai dengan dres, Kinara digiring Arjuna menuju salon terdekat untuk menata rambut dan memakai make up tipis pada wajahnya. "Pak, ketemu mertua harus seribet ini, ya?" tanya Kinara. "Tidak juga, hanya saja aku ingin kamu tampil cantik di depan calon mertua dan kakakku." Pipi Kinara memerah, entah karena malu atau olesan blush on tipis pada wajahnya. Setelah selesai dari salon, Arjuna membawa Kinara menuju rumahnya. Jujur saja tidak hanya Kinara yang gugup tapi juga Arjuna. Laki-laki itu beberapa kali menggerakkan bibirnya tidak menentu. "Udah siap?" tanya Arjuna. "Haruskah bertanya? Aku sudah siap daritadi." Arjuna melihat Kinara dari atas kebawah. Dress putih dengan hiasan renda di bawah leher dan tangan menambah kesan cantik pada tubuh Kinara. Arjuna melanjutkan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia hari ini akan bertemu dengan orang tuanya untuk memperkenalkan calon istri pada mereka. Sebelumnya, Arjuna sudah memberitahukan ibunya kalau ia sudah memiliki seorang kekasih, sehingga ibu sudah tahu kalau Arjuna akan datang malam ini membawa kekasihnya. Ibu Arjuna--Safira tidak menuntut banyak hal dari istri Arjuna. Ia senang anaknya sudah mau memimpin perusahaan dan menikah di usia muda. Arjuna sebelumnya juga dijodohkan oleh Rama--kakak Arjuna dengan Laura, wanita cantik dan kaya yang mencintai Arjuna sejak dulu. Namun, Arjuna tidak setuju menikah dengan calon yang dipilihkan kakaknya itu. Arjuna kenal dengan Laura, sehingga Arjuna tahu betul bagaimana sikap Laura selama ini. Untuk menghindari itu semua, Laura terpaksa mendapat penolakan untuk kesekian kalinya dari arjuna. Arjuna melihat Kinara yang menoleh ke arahnya. Ia akui Kinara cantik dengan balutan dress yang begitu apik melekat di tubuhnya. Arjuna fokus menyetir mobilnya, namun sesekali ia melirik ke arah Kinara. "Saya aneh ya, pak?" tanya Kinara sambil melihat bawah, kanan, kiri tubuhnya. "Kamu cantik," puji Arjuna. Arjuna melirik Kinara dan tetap melajukan mobilnya perlahan, sesekali ia melirik jam tangannya untuk memastikan waktu yang tertera disama. Perjalanan terasa lama karena Arjuna mengendarai mobil dengan santai. Setelah sampai di rumah Atmaga, Kinara turun dengan perasaan yang tidak karuan. Arjuna mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Kinara hanya cukup diam dan duduk disamping Arjuna. Ia harus menjadi wanita yang ramah dan sopan di hadapan calon mertuanya. "Siap?" tanya Arjuna "Siap atau tidak, aku harus siap." "Tenanglah, semua akan berjalan dengan baik. Kamu hanya cukup ramah seperti biasanya." Kinara mengangguk. Ini pertama kali dirinya melangkahkan kaki di kediaman Atmaga. Sungguh, seperti mimpi, bisa masuk ke dalam rumah ini. Rasa gugup berubah menjadi rasa kagum. Rumah besar dan mewah ini menunjukkan interior yang berkelas dan mahal. Arjuna menarik tubuh Kinara agar berjalan menuju ruang keluarga. "Kamu gugup?" tanya Arjuna. "Sangat." "Biasa aja, kamu harus rileks." Arjuna menggenggam tangan Kinara untuk meredakan gugupnya. "Dengar Kinara. Kita harus berakting dengan sebaik mungkin. Terutama di depan kakakku, Rama. Apakah kamu bisa?" "Bisa, pak." Dan mulai hari ini hubungan pura-pura antara Kinara dan Arjuna dimulai. Kinara harus bisa menyesuaikan dengan Arjuna ketika didepan umum, begitu pula sebaliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN