Part 2 - Interview Kerja

1011 Kata
Setelah menarik napas dan mengembuskannya pelan, di depan pintu, Yasmin berusaha menenangkan diri. Di sana tak ada satu pun pegawai yang menghampiri dan barangkali berniat untuk membantunya, tetapi ternyata tak ada. Dalam hitungan ketiga, Yasmin akhirnya benar-benar mengetuk pintu. “Permisi,” ucapnya. “Silakan masuk!” Dari dalam, suara dari dal menyahut cepat. Yasmin terdiam sebentar. Dia menyiapkan diri, memeriksa kembali pakaiannya lalu masuk ke dalam ruangan yang terlihat sangat luas, berukuran sekitar 7X8,5 meter yang didominasi warna abu-abu muda. Di salah satu dindingnya terdapat banyak piagam yang tertempel di sana, lalu tumpukan contoh design pakaian pun ada di sudut ruangan. Lemari kayu coklat berdiri tepat di belakang, dari balik kaca terlihat banyak pakaian yang terlipat rapi di sana. Sementara tepat di sebelahnya sebuah lukisan abstrak terpajang tepat di sebelah lemari. “Selamat datang, silakan duduk,” pintanya. “Terima kasih.” Yasmin menjawab ramah. Setelah duduk, dia hanya tinggal menunggu wanita bertubuh tambun itu menanyakan hal-hal yang dijadikan persyaratan untuk pertimbangan kelulusan calon karyawan Ganida. Jantung Yasmin berdetak berpacu cepat. Wanita di depannya masih memainkan kipas lipat seakan-akan udara di sana panas, padahal AC ruangan tersebut berada pada suhu rendah. “Apa tujuan kamu menemui saya? Sepertinya saya baru pertama kali melihatmu, siapa namamu?” ujarnya sembari memandang pakaian Yasmin dari atas ke bawah, seperti sedang menilai. “Benar bahwa saya menemuka selebaran pencarian pegawai baru di Ganida. Oleh karena itu saya langsung memutuskan untuk ke sini, barangkali saya memiliki kesempatan untuk bekerja dengan Ganida. Dan nama saya adalah Yasmin,” jawab Yasmin dengan cepat. Entah ada bagian yang salah atau tidak, Yasmin hanya berusaha percaya diri bahwa dia bisa memberi jawaban yang memuaskan. “Apa yang kamu ketahui tentang Ganida?” tanyanya lagi. “Ganida merupakan salah satu perusahaan yang berfokus pada fashion industri, berdiri sejak tahun 1993 dan didirikan pertama kali oleh Bu Wulandari bersama suaminya, Pak Miko. Pada awal-awal tahun, Ganida hanya berfokus pada pakaian laki-laki, tapi dimulai dari tahun 2010, Ganida memulai memasarkan brand-brand besar dari fashion perempuan yang membuat Ganida tampil lebih terkenal. Dan di tahun 2015, Ganida resmi menghilangkan fashion pria dan berfokus pada fashion wanita muda dan sekarang Ganida telah berhasil menjadi butik terkenal seantero Jakarta dan menjadi kiblat pasar fashion tahun 2023.” Yasmin kembali menjawab dengan lancar. Walaupun dia tidak pernah menginjakkan kaki di Ganida sebelumnya, tetapi dia pernah melakukan percakapan dengan salah satu temannya yang menjadi langganan di Ganida, sehingga ia tahu sedikit tentang butik terkenal ini. “Dulu, kuliah di mana?” tanyanya lagi. “Universitas Bunga Biru Jakarta,” sahutnya. “Kenapa ingin bergabung bersama kami?” “Saya melihat bahwa Ganida merupakan perusahaan yang maju dan selalu berkembang tiap tahunnya. Oleh karena itu sebagai seorang yang mencintai fashion, saya rasa tempat ini opsi paling cocok karena selain—” “Baik, jawaban yang cukup membosankan.” Wanita itu mengibas-ngibaskan kipasnya di depan wajahnya. Yasmin menghela napas pasrah. Tidak tahu harus menjawab apa, tetapi Yasmin merasa bahwa jawabannya sudah sangat baik didengar. “Saat kamu menghadapi kesulitan, apa yang kamu lakukan?” “Saya akan mencari terlebih dahulu sumber dari kesulitan tersebut. Arti kata ‘sulit’ sendiri memiliki porsi relatif. Di awal-awal saya pasti akan mencari tahu dari manakah kesulitan itu berasal? Dari pikiran kita ataukah dari hal-hal yang telah saya lakukan? Jika kesulitan itu berasal dari pikiran saya, maka saya akan memberikan sedikit action dengan memikirkan tindakan untuk seegera menyelesaikannya, tetapi jika kesulitan itu datang dari luar maka saya akan menyelesaikannya dengan sesuatu yang bisa saya lakukan. Kesulitan yang dimaksud seperti apa? Itu sangat kompleks.” Wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apa yang akan kamu lakukan jika melihat anak kecil yang akan tertabrak bus di depan matamu, sementara di tempatmu sendiri seseorang juga sedang sekarat. Siapa yang akan kamu berikan perhatian besar di antara keduanya?” tanyanya lagi. Kali ini Yasmin tak langsung menjawab. Dia melihat wajah wanita di depannya sekilas, lantas dia juga mencoba berpikir kembali tentang pertanyaan yang ia yakini tak sederhana kedengarannya. “Tentunya saya akan berlari menyelamatkan anak kecil itu dan kembali beraktivitas seperti biasanya ketika anak kecil itu telah selamat dan dibawa pulang oleh orang tuanya.” “Kenapa begitu?” “Karena saya tidak tahu ada yang sekarat di tempat saya. Dia sekarat di tempat, tapi di mana? Saya tidak tahu keberadaannya, sementara anak kecil itu berada di depan mata saya. Tentulah saya akan mendahulukan yang terlihat daripada yang tidak tampak,” jawab Yasmin. Jujur saja, pertanyaan ini di luar dugaan. Dia tak pernah menduga bahwa akan mendapatkan pertanyaan out of the box semacam ini yang mungkin tidak akan ditanyakan HRD oleh calon rekruitmen yang ia interview. Namun meski demikian, Yasmin menyadari bahwa ini salah satu pertanyaan penting walau terdengar tidak memiliki implementasi apa pun yang digunakan pada dunia nyata. “Pertanyaan terakhir, bagaimana kamu membuktikan bahwa semua apel berwarna merah?” Yasmin terdiam. Kali ini sedikit lebih lama karena dia masih mencerna pertanyaan terakhir yang dilontarkan Bu Melati padanya. Tepatnya, dia masih mencari jawaban atas apa yang akan diucapkannya. “Bagaimana jawabanmu?” “Sampai kapan pun saya tidak akan menjawab pertanyaan itu karena apel memiliki beberapa warna. Saya tidak akan pernah menghilangkan warna demi menonjolkan satu warna. Jika rasa didapatkan karena banyaknya warna, kenapa kita hanya berfokus pada satu warna saja? Menurut saya itu tidak adil.” “Besok, kamu mulai bekerja di sini!” tegas Bu Melati sembari diimbuhi senyum yang sebelumnya tak pernah Yasmin ketahui. Sementara perempuan itu masih menegang di tempat. Dia masij terkejut dengan keputusan Bu Melati yang terdengar di luar dugaan. “Saya lolos interview ini, Bu?” Yasmin memastikan. “Benar. Mulai sekarang kamu telah resmi menjadi bagian dari Ganida. Silakan bawa berkas-berkasmu kemari agar nama kamu segera terdata. Dan jangan lupa bahwa antara Ganida dan pegawai memiliki janji yang tak boleh diingikari, saya harap kamu tidak mundur setelah bertanda tangan di atas materai nanti.” Bu Melati membereskan berkas-berkas yang berada di atas mejanya. “Usahakan jangan pernah telat datang bekerja. Karena sistem bekerja di Ganida menggunakan poin. Nanti Bian akan menjelaskannya padamu tentang semuanya. Saya harap kamu cepat mengerti.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN