Saat kami sampai di rumah, kulihat Didi duduk di teras menungguku. Didi menatap kami dengan wajah heran, aku tahu matanya melirik ke tangan Dheo yang saat itu merengkuh bahuku. Wajar kalau Didi bingung sekaligus cemas. Selama ini aku selalu membenci Dheo tanpa tahu kalau dia menyukaiku. Didi langsung mendatangi kami dan bertanya apa yang telah terjadi. Dia terlihat begitu khawatir. Aku tersenyum padanya lalu berterimakasih.
Ya, kalau bukan karena dia dan Radith, aku gak bakalan pernah melihat sisi lain dari Dheo. Sisi yang akhirnya aku tahu selama ini selalu disembunyikannya. Ternyata semua gosip di sekolah memang benar. Saat kehadiran kita menarik perhatian Dheo, maka dia akan bersikap sangat baik dan sangat perhatian seperti saat ini. Kebingungan di wajah Didi gak mereda juga saat aku menarik tangan Dheo untuk masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di atas kami berpisah menuju kamar masing-masing untuk mandi. Selesai mandi dan berpakaian, aku langsung ke kamar Dheo, tapi ternyata dia belum selesai mandi. Aku menunggu di kamarnya karena saat dalam perjalanan pulang tadi, aku berhasil membujuk Dheo untuk menceritakan bagaimana akibat kalau aku cemburu dulu, dan dia berjanji akan menceritakannya saat tiba di rumah. Aku tahu Dheo gak akan mungkin berbohong.
Akhirnya Dheo pun keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana gunung pendek. Dheo memunggungiku untuk mencari baju di lemarinya. Saat itulah lagi-lagi aku terpesona dengan tato di punggung kirinya. Aku berjalan mendekatinya dan menyentuh tato itu perlahan dengan ujung jemariku. Dheo terlonjak kaget dan langsung berbalik menghadapku.
“Ada apa?” Tanya Dheo cepat.
“Ha? Oh, gak ada apa-apa. Hanya saja aku selalu tertarik dengan tato ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang menarikku untuk menyentuhnya. Apa tato ini ada hubungannya denganku?” Tanyaku pelan sambil melihat tato di punggung Dheo melalui cermin lemari di belakang Dheo.
Dheo mendorongku hingga terduduk di pinggir tempat duduknya, sedangkan dia sendiri berlutut di bawahku, ”Baguslah kalau kamu merasa tato ini ada hubungannya denganmu, Dy. Karena...” Ucapan Dheo terputus saat dia mencium punggung kedua tanganku dengan lembut, ”Karena kamulah yang memintaku membuat tato seperti ini. Aku membuatnya karena gak ingin mengecewakan kamu.” Lanjut Dheo lalu tersenyum.
Ya Tuhan! Betapa tidak adilnya kau memberikan senyuman menawan hati itu padanya.
Aku terkesiap mendengarnya, awalnya aku merasa kalau Dheo hanya mempermainkanku saja, tapi dari yang aku lihat, kedua matanya menunjukkan keseriusannya, ”Makasih...” Ucapku lembut lalu memeluk Dheo.
Jujur, aku tidak tahu harus berkata apa. Sekali lihat saja siapapun tahu kalau tato di punggung Dheo itu permanen. Demi Tuhan, aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang ditahannya saat membuat tato sebanyak itu.
Sesaat kemudian Dheo berjalan menuju meja belajarnya dan mengambil sebuah kotak dari dalam laci. Dheo menyerahkan kotak itu padaku. Kotak yang cukup besar itu menggunakan kode kunci kombinasi 5 angka. Terlalu heboh untuk mengamankan sebuah kotak kecil.
“Kalau kamu berhasil membuka kotak ini, aku yakin, semua ingatanmu yang hilang tentangku akan kembali. Kotak ini adalah pemberianmu beberapa hari sebelum aku pindah, dan kamu sendiri yang memasukkan kode kuncinya.” Ujar Dheo lembut, ”Semua kenangan tentang kita ada di dalamnya, simpan kotak ini sampai kamu berhasil memecahkan kuncinya.”
Kupandangi kotak yang gak bisa dibilang usang itu tapi juga tidak bisa dibilang baru, kemudian kutatap Dheo, ”Maukah kamu berjanji?” Tanyaku pelan.
“Everything for you my dear.”
“Sampai kotak ini terbuka, sampai aku mengingat semuanya... Maukah kamu terus disampingku? Terus menemaniku? Berjanji gak akan mengkhianatiku?” Tanyaku cepat.
“Ya, tentu saja. Aku akan terus berada disampingmu dan terus menemanimu walaupun kamu melarangku. Aku akan selalu disampingmu saat kamu membutuhkanku. Dan kamu tahu kalau aku gak akan mungkin mengkhianati gadis yang selama ini kuimpikan untuk berada disisiku. Aku akan selalu melindungi senyum di wajahmu. Walaupun untuk melakukan itu semua aku harus menghadapi tujuh cowok sekalipun.” Jawab Dheo terdengar begitu yakin.
“Aku percaya. Tapi ngomong-ngomong, kamu belum cerita apa akibat kalau aku cemburu.” Tuntutku.
“Ha ha ha... Ingat juga dia.” Tawa Dheo, ”Gini lho... Dulu sewaktu kita masih SD, kita kan satu sekolah. Nah waktu itu aku punya teman cewek, namanya Fiona, yang sering banget main kerumah sampai-sampai waktu untuk kita bermain bersama berkurang drastis. Beberapa hari kamu tahan dengan itu semua, tapi di akhir minggu, kamu nekad nyari kodok kecil dan memasukkannya ke dalam tas Fiona. Sehingga pas Fiona mau buka tasnya untuk memberikanku cemilan yang biasa dibawanya kalau main kerumah, yang terpegang adalah kodok. Sejak saat itu, Fiona gak pernah lagi main kerumah.”
“Wah, berarti dulu aku jahat banget dong?”
“Sebenarnya kamu gak jahat. Kamu cuma gak mau kalah. Padahal, waktu itu, kamu paling jijik sama yang namanya kodok. Tapi karena kamu gak ingin dia terus main kerumah, kamu berhasil mengalahkan ketakutan kamu sama kodok.” Ujar Dheo mengakhiri penjelasannya.
“Makanya sampai sekarang aku gak takut sama kodok. Tapi kamu kok gak marah sama aku waktu itu?”
“Karena, udah dari dulu aku suka kamu, Laudya. Apapun yang kamu lakukan terserah kamu, asal itu bisa membuatmu bahagia. Lagian, aku juga gak begitu tertarik melayani kedatangannya setiap hari. Fiona gak bisa diajak main gaya cowok. Aku cuma diajaknya cerita-cerita gak jelas.” Jelasnya ringan, “Aku pakai baju dulu, habis itu kita makan malam bersama, oke?” Sambung Dheo kemudian yang langsung kujawab dengan anggukan ringan.
Dheo mencium dahiku sebelum mengambil baju dilemari dan kemudian mengenakannya. Ada yang aneh?
Ya, dijalan pulang tadi, kami sepakat untuk meninggalkan kata lu-gw dan menggantinya dengan aku-kamu. Bukan karena kami sudah menjalin hubungan, tapi karena kami ingin merasa dekat sebelum menjalin hubungan. Setelah itu, aku kembali ke kamar untuk menyimpan kotak penuh kenangan itu. aku dan Dheo bersama-sama turun untuk makan malam dengan Didi.
Kalo sejak dulu Dheo bersikap seperti ini, aku mungkin gak akan pernah tertarik dengan Radith. Demi Tuhan, semua gossip itu benar. Dheo bisa jadi orang paling hangat dan penyayang jika kita menjadi orang yang diterimanya.
***
Sudah beberapa hari ini aku pergi dan pulang sekolah bersama Dheo. Bahkan kalau aku ingin jalan-jalan ke mall pun Dheo selalu menemani. Aku jadi ragu, selama bersama Dheo aku sama sekali gak teringat apapun yang berkaitan dengan Radith. Atau jangan-jangan selama ini aku hanya kagum sekaligus penasaran dengan dia? Aku bahagia bersama Dheo, dan sepertinya bukan hanya Dheo yang mencintaiku begitu dalam, tapi aku juga mencintainya. Aku takut kalau suatu saat dia akan meninggalkanku. Aku gak sanggup membayangkan kalau beberapa hari belakangan ini hanya mimpi yang suatu saat pasti akan berakhir. Karena setiap kami jalan bersama, Dheo pasti dilirik oleh setiap cewek yang kami lewati. Dheo terlalu menarik perhatian.
Hari ini setelah pulang sekolah, Dheo mengajakku ke kampusnya untuk mengambil tugas. Saat sampai di kampusnya, ternyata masih banyak mahasiswa kedoteran yang lalu lalang. Belum ada tampak bahwa mereka sudah pulang. Aku dibawa Dheo ke tempat teman-temannya biasa kumpul. Disana kulihat Ily sedang berbicara dengan beberapa cowok dengan akrabnya. Dheo langsung menghampiri teman-temannya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas sesaat kemudian semua kepala menoleh ke arahku.
“Ayo sini, Dya.” Panggil Dheo lembut.
Aku menurutinya. Aku berjalan mendekati mereka. Mereka benar-benar kelihatan seperti anak baik-baik. Hal itu membuatku dapat sedikit rileks memperkenalkan diri pada mereka semua.
“Hai... Gw Dya.” Ucapku sesopan mungkin.
“Hai juga, cantik. Gw Agung. Kemaren gw pernah main ke rumah lu, yah walaupun lagi dalam situasi yang aneh banget.”
“Ha ha ha.... Itu mah gara-gara gw.” Sambung Ily cepat tanpa sedikitpun menahan tawanya yang meledak begitu saja.
Cewek itu sama sekali gak terlihat canggung bergaul sama cowok. Bahkan siapapun yang melihatnya situasi saat ini, Ily terlihat bagaikan ratu yang dikelilingi para pemujanya. Dia juga terlalu akrab dengan Dheo, sampai sampai yang saat ini berdiri di sebelah Dheo adalah Ily, bukan aku.
“Kalau gw Chandra.” Ujar seorang cowok yang terlihat rajin banget. ”Ly, kayaknya lu salah tempat deh. Yang jadi pacarnya Dheo itu kan Dya bukan lu, kok malah elu yang berdiri di sebelah Dheo?” Ujar Chandra kemudian seperti tahu apa yang kupikirkan.
Kulihat Ily menatapku dengan sorot mata yang dulu pernah kulihat, tapi dalam sekejap raut wajahnya sudah kembali ramah, ”Oh sorry ya, Dya. Gw kebiasaan...” Ucap Ily lalu menarikku untuk berdiri di sebelah Dheo.
“Cie.... Cie.... Yang baru jadian. Serasi banget nih. Kapan traktirannya nih?” Celetuk Agung seenaknya.
“Kapan kalian mau aja.” Sahut Dheo ringan.
Aku mendongak memandang wajah Dheo, dan ternyata saat itu Dheo juga sedang memandangku dengan tatapan yang menyejukkan, Dheo terlihat sangat mencintaiku walaupun dia gak mengatakannya saat ini, tapi dari tatapannya aku tau itu. Perlahan wajah kami semakin dekat, dan saat aku bisa merasakan hembusan nafas Dheo di wajahku, Ily berbicara.
“Yo, sorry bukannya gw mau ganggu kesenangan lu, tapi barusan gw ditelepon Danu. Katanya lu gak ngangkat hp lu, jadi dia nitip pesan ke gw dan harus gw sampaikan langsung. Lu dicari sama Pak Jono, dan tolong ke basecamp sore ini. Bawa Agung dan Chandra, ada hal penting yang harus dia sampaikan langsung.” Ujar Ily yang langsung mendapat perhatian penuh dari Dheo.
Maunya anak itu apa sih? Sejak dia mengajakku makan di cafe itu, aku sudah tau. Ily menyukai Dheo, dan dia sangat membenciku. Dia gak suka kalau aku yang memenangkan hati Dheo. Dia gak mau mengakui itu. Ya, aku mengakui kalau aku cemburu. Cewek manapun akan cemburu kalau pacarnya dekat dengan cewek seperti Ily, yang dilihat dari kutub utara sekalipun tetap memancarkan kecantikan. Dan dari hati yang paling dalam kuakui kalau kecantikan yang dimiliki Ily memang alami. Aku juga sama gak sukanya dengan Ily, sama seperti dia gak menyukaiku. Aku takut kalau suatu saat nanti Dheo akan pergi meninggalkanku di saat kehadirannya sudah biasa dalam hidupku. Aku pasti akan kehilangan dia. Dan aku paling takut kalau di banding-bandingkan dengan Ily. Aku pasti kalah. Karena aku memang bukan cewek yang bisa menarik perhatian orang lain. Aku hanya gadis biasa yang kebetulan dicintai oleh cowok luar biasa.
“Dheo... Kita pulang yuk? Kasihan Didi sendirian di rumah.” Ujarku sedikit manja dengan niat ingin memisahkan Dheo dari Ily. Terserah mereka mau berpikir apa. Dheo milikku, dan hanya akan menjadi milikku.
Dheo langsung menatapku, kemudian dia tersenyum. Senyum yang kuakui dapat membuatku luluh, ”Tunggu sebentar yah? Aku pergi nemuin dosen dulu, habis itu baru kita pulang. Oke?” Tanya Dheo lembut sampai-sampai membuat seluruh temannya takjub, termasuk Ily.
“Oke lah.” Jawabku senang.
“Dheo... Lu mesti ke basecamp langsung kalau udah ketemu Pak Jono. Anggota lu udah nungguin lu dari tadi tau.” Ucap Ily melenyapkan kesenanganku dengan seketika.
“Tapi, Ly... Gw gak bisa ngebiarin Dya pulang naik angkutan umum. Gw sendiri yang bisa gila kalau dia sampai kenapa-napa. Gw antar dia bentar yah? Habis itu gw pasti langsung ke basecamp. Lagian kalau gw langsung ke basecamp tanpa memastikan Dya sampai rumah dengan selamat, gw gak yakin bakal benar-benar sadar.” Ujar Dheo lembut merayu Ily.
BRENGSEK!!
Kenapa Dheo harus minta izin ke Ily buat ngantar aku yang notabene pacarnya sendiri. Aku benar-benar gak suka liat Ily ada di dekat Dheo. Aku harus bilang sama Dheo.
Harus!
“Ya udah. Ntar gw yang bilang sama anggota yang lain kalau lu bakalan telat. Tapi jangan lama-lama yah?” Ucap Ily lembut sambil memamerkan senyum mematikannya, ”Kalau gitu sekarang kita ke ruangan Pak Jono.” Sambungnya kemudian sambil menarik tangan Dheo.
Setelah Dheo dan Ily agak jauh, Agung datang membisikkan sesuatu padaku, ”Maafkan Ily yah? Selama ini hanya dia satu-satunya cewek dalam ruang lingkup Dheo. Dan mungkin karena kami terlalu memanjakan dia jadi dia gak bisa menahan tingkah lakunya. Jangan diambil hati oke?”
Kupandangi wajah Agung dan Chandra, mereka terlihat serius banget menanti reaksiku setelah mendengar ucapan Agung. Aku gak mau membuat orang lain tau apa yang kurasakan, aku tersenyum pada mereka,
”Tenang aja. Gw tau kok kalau Dheo emang keren, dan sebagai ceweknya, gw harus siap nanggung konsekuensi itu. Sejak masuk gerbang kampus aja, gw udah diliatin sama cewek-cewek. Kayaknya mereka pikir gw gak pantas buat Dheo.”
“Siapa bilang lu gak pantas? Lu cocok banget sama Dheo, dan dari yang gw liat, Dheo sayang banget sama lu. Kayaknya dia bakalan ngelakuin apapun supaya lu gak pergi dari sisinya.” Tukas Agung cepat untuk menenangkan aku.
“Makasih yah. Kalau boleh, gw nunggu Dheo di parkiran aja. Sekalian mau liat-liat, mana tau gw berminat nyambung ke sini ntar.” Ucapku dengan niat secepatnya menghindar dari mereka.
“Gw temani yah?” Tawar Chandra.
Aku menggeleng cepat,”Gak usah. Gw bisa sendiri kok. Gw gak suka ngerepotin orang.” Tolakku lalu mulai menjauh dari mereka.
Sebelum jadian dengan Dheo, jauh sebelum dia ke rumah, aku udah merasa kalau seorang Dheo, pasti banyak yang suka. Akan susah diterima kalau Dheo memilih seorang cewek untuk dijadikan pacar. Apalagi kalau cewek itu terbukti gak punya kelebihan apa-apa, seperti aku. Tapi aku sama sekali gak nyangka kalau satu kampus bisa suka semua sama dia. Kuakui dia cakep, banget malah. Kuakui dia pintar, hampir jenius malah. Tapi apa ada yang tau kalau seorang Dheo itu kadang-kadang bisa jadi orang yang sangat menyebalkan? Seperti saat ini, dia sama sekali gak mengerti perasaan cewek. Dia gak tau kalau Ily benar-benar suka sama dia. Tapi dia malah tenang-tenang aja bergaul dengan Ily. Udah gitu mau aja lagi nurutin semua kata Ily.
Emangnya dia siapa?
Gak terasa aku udah sampai di parkiran, di sebelah mobil Dheo, kulihat sebuah Audi R8, lengkap dengan pemiliknya.
“Hai! Lu pasti Dya kan?” Sapa pemilik Audi R8 itu.
Aku menatapnya bingung, tapi kemudian aku jawab juga pertanyaannya. ”Iya... Lu siapa? Kok lu kenal gw?” Tanyaku cepat.
“Gw Rio, tadi Dheo nelepon gw, dia bilang tolong antar Dya pulang, karena aku gak bisa ngantar dia. Gitu katanya.” Jelas cowok yang akhirnya mengaku bernama Rio.
“Lo serius? Dheo gak mungkin ingkar janji. Soalnya tadi dia bilang kalau dia sendiri yang bakal ngantar gw...”
“Ya mau gimana? Habis kata Dheo, habis dari ruangannya Pak Jono, dia harus ke basecamp. Darurat. Jadi gimana? Lu mau pulang sama gw? Naik taxi? Atau nunggu Dheo?” Tanya Rio lembut. ”Kalau naik taxi, ongkosnya mahal loh. Kalau nunggu Dheo bisa lama banget, belum tentu sore dia bisa keluar dari basecamp. Kalau sama gw, lu bisa hemat ongkos dan pulang cepat.”
“Ya bolehlah. Daripada harus naik taxi.”
“Dya!!! Dya!!! Laudya!!!”
Aku bergegas keluar dari kamar dan langsung turun ke lantai bawah secepat yang aku bisa, ”Ada apa?” Tanyaku kesal karena mendengar orang memanggil namaku seperti berteriak kalau ada kebakaran aja.
Kudapati Dheo dengan muka cemas langsung merengkuhku ke dalam pelukannya. ”Jangan pernah pergi seperti tadi. Aku benar-benar kehilangan. Aku benar-benar cemas. Setelah urusanku dengan Pak Jono selesai, aku secepat mungkin langsung ke kantin, tapi aku gak menemukanmu disana, kata Agung dan Chandra kamu ke parkiran, tapi gak ada siapapun disana. Gak ada! Aku udah nyari kamu ke seluruh penjuru kampus, tapi kamu tetap gak ada. Aku benar-benar ketakutan, Dya. Aku langsung minta Agung dan Chandra menghubungi semua anggota yang bisa dihubungi untuk mencarimu. Aku sangat bersyukur dapat menemukan kamu dirumah dan kamu gak pa-pa. Tapi aku mohon... Please, jangan menghilang seperti tadi. Aku benar-benar bisa gila dibuatnya.” Ucap Dheo cepat tanpa melepas pelukannya.
Entah dapat keyakinan darimana, aku yakin Dheo gak bohong, baju yang dikenakannya basah oleh keringat, kubalas pelukan Dheo dengan lembut, ”Maaf... Tapi bukannya tadi kamu nyuruh teman kamu buat ngantar aku pulang?” Tanyaku lembut.
Dheo melepas pelukannya dan mencengkram kedua lenganku, ”Dheo sakit...”
“Oh! Maaf... Tadi kamu bilang apa? Aku menyuruh temanku mengantarmu pulang?”
“Iya. Namanya Rio... Itu teman kamu kan?”
“Rio...” Ulang Dheo gak percaya, ”Oh Tuhan! Aku mohon Dya... Jangan sekali-kali mendengar apa yang diucapkan oleh Rio. Dia itu playboy. Aku gak mau dia menyakiti kamu. Dan satu lagi dia bukan temanku..
Walaupun dia jadi temanku sekalipun, aku gak akan meminta orang lain untuk mengantarmu, kecuali saat itu aku benar-benar gak bisa bangun dari tempat tidur. Dan aku yakin hal itu gak akan pernah terjadi, sampai saat ini... Aku benar-benar merasa kalau nyawaku hilang saat tau kamu lenap dari pandanganku. Aku benar-benar gak mau terjadi apapun padamu saat aku gak ada.”
“Terus... Kenapa dia harus repot-repot berkenalan denganku dan mau mengantarku pulang? Lagian dia kelihatan seperti cowok baik-baik.” Tukasku.
“Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi, aku benar-benar kesal dibuatnya. Dan aku juga...” Dheo gak melanjutkan ucapannya.
“Juga apa, Yo?” Tanyaku penasaran.
“Aku cemburu kalau kamu dekat dengan cowok lain. Siapapun itu.” Ujar Dheo benar-benar pelan.
“Aku menyukai Dheo yang seperti ini. Dheo yang hanya aku aja yang tau. Bukan Dheo yang selama ini bisa dilihat orang lain. Kamu tau, aku juga cemburu melihat kamu memiliki begitu banyak pengagum. Mana cewek semua lagi. Dan aku juga gak suka liat...”
“Liat apa?”
“Liat Ily dekat dengan kamu. Kamu tau, Ily menyukaimu. Dan aku yakin perasaannya masih ada untukmu sampai sekarang. Aku takut kamu direbutnya...” Ucapku cepat.
“Jangan bodoh Dya. Ily itu cuma sahabatku, kami sudah berteman sejak aku masih di Singapore, dan dia sekarang gak mungkin berniat ngerebut aku dari kamu. Aku percaya Ily gak pernah serius dengan perasaannya padaku. Dia gak akan menyakiti orang-orang yang kusayangi. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu. Asal kamu ingat aja, aku gak akan pernah meninggalkan kamu walaupun kamu pergi meninggalkan aku. Hanya kamu yang aku ingin memiliki diriku. Dan hanya kamu satu-satunya cewek yang kucintai dan sangat ingin kumiliki.” Ucap Dheo lalu mencium keningku sebentar.
Aku percaya, Dheo yang lembut ini hanya aku yang tau. Karena itulah aku dengan mudah menuruti semua permintaannya. Melihat wajahnya yang tersenyum puas itu, aku jadi ingin mengganggunya sedikit lagi.
“Yo, menurut aku, gak ada yang salah dari perlakuan Rio ke aku. Untuk ukuran orang yang baru kenal, dia gak sok dekat, baik malah.”
“Ough! Dya... Dengar aku....” Geram Dheo kesal lagi.
“Gak pa-pa kan? Lagian dia gak ada macam-macam sama aku. Diajak cerita juga nyambung.” Ujarku sedikit berkeras.
“Please Dya... Jangan buat aku lebih cemburu oke?” Tegas Dheo sambil meninju dinding di dekat kami.
“Oke oke! Jangan marah dong...” Putusku akhirnya.
Serem juga liat Dheo marah karena cemburu. Dan sekarang Dheo kembali tersenyum. Setelah menasehatiku panjang lebar supaya gak dekat lagi sama Rio, dan supaya aku gak pernah lagi menghilang begitu aja darinya, barulah Dheo pergi lagi. Katanya dia harus ke basecamp.
***
Sejak hari itu, Dheo sedikit lebih protektif padaku_ehm, cenderung posesif malah. Pesannya jadi tambah banyak saat aku pergi tanpa dirinya. Atau lebih tepatnya, dia selalu mengingatkanku jangan sampai berhubungan dengan Rio setiap kali dia gak ada di sisiku. Aku senang dia cemburu, tapi...
Yang jadi masalah adalah, sejak hari itu juga, Rio mulai sering meneleponku, bahkan entah dia tau darimana, setiap Dheo gak ada dirumah, Rio pasti datang berkunjung. Seperti siang ini, saat Dheo baru saja pergi ke kampus 15 menit yang lalu, aku mendapati mobil Rio memasuki halaman rumahku.
“Hai Dya... Lo baru pulang sekolah?” Tanya Rio saat baru turun dari mobil dan melihatku di depan pintu.
“Yah, gitulah. Lu makin sering aja main ke sini?” Tanyaku sambil memasuki rumah dan kemudian duduk di sofa yang panjang.
Rio mengikutiku masuk, tapi dia memilih duduk di sofa single, ”Gak ada, lagi pingin main aja. Gimana hubungan lu sama Dheo? Lancar?” Tanya Rio.
“He he he... Lancar banget! Thank’s udah mau peduli. By the way, bukannya gw gak suka lu datang ke rumah gw, tapi gw minta jangan sering-sering deh. Dheo gak suka tuh. Gw gak mau Dheo marah. Lu bisa ngerti kan?” Ucapku akhirnya.
“Enggak. Gw gak ngerti. Dia belum punya hak ngelarang lu. kalian belum terikat apapun. Hanya sebuah sebutan ‘pacaran’ gak bisa membuat gw menjauhi lu. Gw gak suka liat lu diatur-atur gitu. Dan lu juga seharusnya gak mau. Lu punya hak untuk bebas bergaul dengan siapa aja.” Ujar Rio terdengar sedikit emosi.
“Kok elu yang emosi sih??”
“Gw gak suka liat cewek yang gw suka seenaknya diatur orang lain.” Ucap Rio nyaris tak terdengar olehku,
”Hari ini gw pulang cepat bukan berarti gw ngerti dan setuju dengan apa yang lo bilang.” Sambung Rio akhirnya yang kemudian berjalan keluar lalu pulang.
Aku sama sekali gak menceritakan kedatangan Rio pada Dheo. Aku takut kalau nanti dia marah. Aku memutuskan untuk melupakan ucapan Rio dan lebih fokus untuk menemukan kelima angka yang menjadi kunci kotak kenangan ini.
Malam ini aku dan Dheo hanya makan malam berdua. Didi harus menginap di tempat kerjanya karena suatu alasan yang kalau kuceritakan bisa menghabiskan waktu 7 jam 7 menit 7 detik. Sedangkan Bik Umi mendapat telepon kalau saudaranya yang juga tinggal di kota ini mendadak sakit dan harus dibawa kerumah sakit. Sesaat sebelum makan malam usai, Dheo berkata pelan kalau ada hal yang ingin dibicarakannya. Dheo terlihat begitu serius kali ini. Maka setelah selesai makan malam dan mencuci piring, kami berdua ngobrol di ruang keluarga.
“Dya... Besok aku ada penelitian di luar kota... Kamu gak pa-pa kalau aku pergi?” Tanya Dheo begitu cemas.
Awalnya aku terkejut mendengar ucapan Dheo, tapi aku gak mau membuat dia cemas dengan mengatakan kalau aku udah gak biasa kalau dia gak ada disisiku, ”Gak pa-pa. Kamu perginya gak lama kan?” Ujarku bertanya balik.
“Seminggu. Buatku itu sudah sangat lama kalau harus meninggalkanmu sendiri. Kamu yakin gak masalah kalau aku tinggal? Kalau kamu minta aku jangan pergi, aku akan langsung ke rumah Pak Jono malam ini untuk minta kota penelitianku disini saja. Atau kamu mau ikut sama aku? Aku pasti gak sanggup tinggal seminggu disana tanpa kehadiranmu.” Ujar Dheo begitu lembut.
“Gak masalah. Aku yakin kok. Kamu pergi aja, demi kuliah kamu. Jangan cemaskan aku, aku bisa jaga diri. Lagian kan setiap pagi Didi pulang kerumah.” Ujarku memberi alasan.
“Aku tetap gak yakin! Tapi kalau kamu yang bilang begitu, aku percaya.” Gumam Dheo lalu meletakkan kepalanya dibahuku.
“Dheo...”
“Sebentar aja. Lagian besok aku pergi.” Ucap Dheo kali ini benar-benar pelan, ” Dya... Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku, gak peduli jam berapapun, aku pasti akan langsung kesini. Dan tolong... Jangan menyembunyikan apapun dariku. Kamu mengerti?”
“Iya.” Jawabku spontan, tanpa mengetahui sama sekali kalau setelah ini entah berapa banyak kebohongan yang akan keluar dari mulutku.
***
3 bulan setelah Dheo pindah ke Singapore...
“Dheo!” Teriak Nia memanggil anaknya yang sibuk mengurusi sepeda barunya.
“Apa, Ma?” Jawab Dheo dari halaman belakang rumahnya.
“Dya kecelakaan! Dya masuk rumah sakit. Barusan orangtuanya menelepon Mama.”
Dheo langsung berlari menghampiri Mamanya dengan panik, ”Dya parah gak Ma? Apanya yang luka? Kok bisa dia kecelakaan, Ma?” Tanya Dheo cepat karena saking paniknya.
“Tenang. Gak usah panik gitu. Besok kita ke Indonesia, ya?” Ucap Nia lembut.
“Kenapa gak sekarang aja kita perginya, Ma? Kenapa harus besok? Lebih cepat kan lebih baik, Ma. Dheo mau liat Dya. Dheo khawatir sama keadaan Dya. Dheo takut, Ma.” Tanya Dheo sedikit ngotot.
Nia membelai kepala Dheo, “Besok Dheo. Papa kan belum pulang. Lagian tadi Mama juga udah ngecek ke bandara kalau-kalau ada pesawat ke Indonesia. Tapi ternyata pesawat terakhir ke Indonesia udah berangkat sejam yang lalu. Jadi kamu harus sabar sampai besok ya?” Bujuk Nia pada putranya yang sudah menginjak kelas 2 JHS itu.
“Mama janji kan, Ma? Penerbangan pertama yah? Dheo mau cepat-cepat ke tempat Dya.”
“Iya, Mama janji. Besok dari bandara kita langsung ke Rumah Sakit tempat Dya dirawat.”
Sementara itu disebuah rumah sakit di Indonesia....
“Apa?” Ujar Yoga tak percaya mendengar penjelasan dokter.
“Iya, Bapak. Sepertinya anak Bapak mengalami amnesia. Tapi saya juga belum jelas kenangan apa saja yang dilupakannya. Biasanya pasien amnesia akan melupakan kejadian dalam rentang waktu tertentu. Saya rasa kalianlah yang lebih tau kenangan apa saja yang terlupakan oleh Dya.” Jawab dokter muda itu cukup berwibawa..
“Tapi jelas-jelas anak saya masih ingat sama semua anggota keluarganya.” Tukas Yoga.
“Tapi Dya sama sekali gak ingat kalau dia pernah kenal dengan Dheo, Pa. Dya sama sekali gak mengenal Dheo, Pa.” Sela istrinya pelan. Yoga tahu kalau istrinya bersedih, namun semuanya terlalu mendadak sehingga otaknya terlalu penuh untuk bisa menangkap maksud ucapan istrinya.
“Maksud Mama?” Tanya Yoga bingung.
“Tadi waktu Mama menelepon Nia, Dya bertanya siapa yang Mama telepon. Mama jawab saja kalau Mama menelepon Mama Dheo. Tapi Dya malah bertanya lagi kalau Dheo itu siapa. Dya gak ingat Dheo, Pa. Di dunia Dya yang sekarang, gak pernah ada orang bernama Dheo.” Jelas istrinya terdengar sedih.
“Gak mungkin Dya lupa sama Dheo, Ma. Mereka sangat dekat. Mustahil Dya akan semudah itu melupakan Dheo.” Sangkal Yoga.
“Tapi itu yang terjadi, Papa. Mama juga gak nyangka. Gimana perasaan Dheo kalau dia tau bahwa Dya gak ingat tentang dirinya. Mereka begitu dekat, Pa.” Ujar istrinya pelan.
“Kita lihat saja, Pak, Bu. Menurut saya amnesia anak anda tidak permanen, mengingat dia masih mengenal keluarganya dengan jelas. Jadi masih ada kemungkinan dia akan mengingat semuanya. Dan kalau saya boleh berpendapat, seseorang yang terkena amnesia sesungguhnya bukan kehilangan ingatan mereka secara tidak sengaja. Yang terjadi adalah penderita amnesia itu sendirilah yang memutuskan dalam alam bawah sadarnya bahwa kenangan itu harus dia lupakan.” Hibur dokter muda itu.
“Sampai kapan, Dok?” Tanya Yoga cemas.
“Itu tergantung anak anda sendiri. Apakah dia ingin mengingat kenangan itu atau tidak. Kalau dia tidak ingin mengingat kenangan itu kembali, amnesianya akan permanent.”