9

3188 Kata
Saat aku terbangun tadi pagi, aku merasakan kalau Dheo masih menggenggam tanganku. Saat kulihat, dia sudah terjaga. Entah dia baru bangun juga atau mungkin dia malah gak tidur. Setelah melihatku bangun, barulah Dheo kembali ke kamarnya sesaat setelah mencium keningku sebagai ucapan selamat pagi. Aku benar-benar bersyukur punya pacar seperti Dheo yang benar-benar perhatian. Aku yakin, gak ada lagi cowok yang sebaik dan seperhatian Dheo. Sekarang baru aku ngerti, kenapa Mama sama Papa ngotot bilang kalau Dheo itu anak baik, dan dia gak bakal ngapa-ngapain aku selama dia dirumah. Wah, berarti kalau Dheo gak dirumah lagi itu berarti dia bisa ngapa-ngapain aku dong? Bukan gitu lagi... Maksudnya itu, Dheo itu bisa di percaya... Sekarang aku lagi disekolah, Dheo mungkin udah berangkat pergi penelitian ke luar kota. “Dya!” Panggil Didi kuat secara tiba-tiba dan langsung menghempaskan tubuhnya di bangku kosong, di depan mejaku. “Apa, Di?” sahutku malas. “Liat nih!” Ucap Didi sambil menyodorkan sebuah majalah padaku. Aku mengambil majalah itu, ”Apa nih?” Tanyaku bingung melihat majalah yang sama sekali gak terkenal itu. “Ini majalah kampus Dheo, Radith yang ngasi ke gw barusan, ada berita tentang Dheo yang elu harus tau.” Ujar Didi bersemangat. Aku langsung membalik-balik halaman majalah itu. dan disebuah halaman aku menemukan photo Dheo dan Ily. Mau cuma photo ataupun aslinya, Dheo tetap aja ganteng. Dan mau gak mau aku harus mengakui hal serupa juga berlaku untuk Ily. Tanpa membuang waktu aku membaca tulisan dibawahnya. PRINCE & PRINCESS FK Siapa sih yang gak kenal Dheo dan Ily, Prince & Princess FK ini... Dheo Anggara, mahasiswa dengan IPK tertinggi se-Fakultas kedokteran dan Lauren Kaily, mahasiswi blasteran yang kemampuan akademisnya bahkan sudah diakui Universitas dunia, Cambridge University. Dheo dan Ily memiliki hubungan yang lebih dekat daripada ‘teman kampus’ ataupun ‘sahabat’ seperti yang selama ini selalu dinyatakan sebelah pihak oleh Dheo. Dari voting yang telah diambil dari hampir seluruh mahasiswa FK selama seminggu ini, 82% menyatakan kalau Dheo dan Ily terbukti pacaran. 12% menyatakan kalau hubungan Dheo dan Ily gak lebih dari ‘teman kampus’ dan ‘sahabat’. Sedangkan sisanya menyatakan tidak tau apa-apa tentang hubungan mereka. Saat kami menanyakan langsung masalah ini kepada Dheo, cowok ganteng dengan otak encer ini dengan tegas berkata, ”Gw emang punya hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan Ily, dan gw rasa kalian gak harus tau hubungan apa itu” Jawaban serupa juga disampaikan oleh Ily baru-baru ini, ”Gw gak pernah menganggap Dheo hanya sebatas teman. Gw selalu nganggap dia lebih dari teman. Dia special.” Disamping itu, beberapa hari belakangan ini, reporter dan fotografer kami mendapati Dheo sering pulang pergi dari rumah Ily. Apa gerangan yang dilakukan Dheo di rumah Ily? Di rumah seorang mahasiswi yang hanya tinggal sendiri... Beberapa mahasiswa yang mengaku teman dekat Dheo memperkuat dugaan ini, ”Dheo dengan Ily memang bukan teman biasa kok, satu kampus tau itu.” Ujar salah satu dari mereka yang bernama Rio. ............... Aku gak melanjutkan membaca majalah murahan itu. kututup sembarangan majalah yang membuatku gerah itu. Seperti yang kukatakan pada Dheo sebelumnya, aku pencemburu! “Apa maksudnya nih?” Tanyaku spontan pada Didi, yang sepertinya sudah mengharapkan responku. “Ha, itu dia yang mau gw tanya. Lu beneran pacaran kan sama Dheo? Kalian gak bermaksud having fun kan?” “Ya bener lah! Masa lu kira gw main-main. Emang sih dulu Ily pernah ‘nembak’ Dheo, tapi dia ditolak. Sekali lagi D-I-T-O-L-A-K. Dan sekarang kenapa berita ini bisa jadi kayak gini? Terus apa maksudnya Dheo sering pulang pergi dari rumah Ily belakangan ini? Jelas-jelas Dheo belakangan ini lebih sering menghabiskan waktu berdua denganku.” Tanyaku cemas. “Lu yang pacarnya aja gak tau, apalagi gw. Tanya aja sana sama orangnya langsung.” Jawab Didi geram karena aku bertanya balik padanya. “Yeah, lu bener. Gw harus nelepon Dheo.” Putusku kemudian langsung menelepon Dheo. “Ada apa, Dya?” Tanya suara lembut dari seberang. “Dheo... Aku tadi baca FK Magazines...” “Kamu baca apa?” Tanya Dheo terdengar kaget dan cemas. “FK Magazines.” Ulangku. “b******k!” Umpat Dheo, ”Dya please... Jangan percaya apapun yang tertulis disitu. Aku sama sekali gak pernah wawancara dengan siapapun, dan itu gak akan pernah.” “Bagaimana dengan pernyataan Ily dan Rio? Apa itu juga bohong?” “Kalau Rio, aku gak tau gimana pola pikir anak itu. tapi kalau Ily aku yakin, dia gak akan pernah buat pernyataan penuh sensasi seperti itu. Aku tau Ily gimana.” “Bisa aja kan? Mungkin Ily yang kamu kenal udah gak ada. Orang bisa berubah, Yo... Bisa aja Ily melakukan itu untuk medapatkan kamu.” “Dya, please, believe me, okay? Kamu tau sendiri kalau aku gak akan pernah berbohong sama kamu. Dan aku gak mau kalau itu sampai terjadi.” “Baiklah, aku percaya sama kamu. By the way, kamu cepat pulang yah? Aku kangen nih. Gak puas rasanya kalau cuma denger suaranya aja, sementara orangnya entah dimana.” “Hallo, my sweetheart... Belum sehari aku pergi, baru juga berangkat tadi pagi. Masa udah kangen? Tapi tenang aja, akan kuusahakan untuk cepat pulang, jadi jangan berbuat macam-macam selama aku gak ada. Apalagi kalau sempat cari selingan.” “Oke bos! Jangan khawatir. Tapi kamu juga gak boleh cari selingan disana, yah?” “No way and never, my lady... Ya udah, kamu sekarang lagi belajar kan? Aku gak mau loh punya pacar bego.” “Ih, kayak dia pintar aja.” “Lho, emang aku pintar kan? Kalau aku gak pintar, gak mungkin kamu mau sama aku. Lagian kalau aku gak pintar, gak mungkin donk aku sekarang kuliah di kedokteran.” “PD banget jadi orang.” Gumamku kesal. “Ha ha ha... Ngambek nih? Eh udah dulu yah, ada dosen inspeksi nih. Take care, honey.” “Yuck... Honey honey... Sok nya mulai nih.” “Haha haha... Udah dulu ya, Dya-ku... I miss you.” “I miss you too... Bye...” Aku memutuskan telepon duluan, saat kulihat Didi, mukanya menuntutku untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. “Dheo bilang semua yang ada di situ gak bener.” Ujarku sambil menunjuk majalah sialan itu. “Terus lu percaya gitu aja?” Tanya Didi terlihat gak senang. Aku mengangguk yakin, ”He eh” “Lu tuh kok b**o banget yah? Mudah banget lu percaya sama dia? Kalau ternyata dia bohong gimana?” “Dheo udah janji gak bakalan bohong sama gw. Gw percaya itu. Lagian selama ini Dheo belum pernah bohong sama gw.” “Ampun deh ni anak, entah polos entah b**o banget. Terserah lu deh, yang jelas, ntar kalau ketahuan Dheo bohong, jangan nyesel yah? Tuh majalah simpan aja sama lu, mana tau ntar diperlukan.” Ujar Didi sambil bangkit, ”Gw balik ke kelas dulu.”pamitnya. Sepeninggal Didi, anak-anak cewek pada rebutan mau baca FK Magazines. Sampai tiba-tiba ada yang nyeletuk. “Ah, cewek ini! Gw pernah beberapa kali liat mereka jalan berdua naik motor. Cocok banget yah? Gw jadi iri sama dia.” Ucap Ikke yang sama sekali tidak menyadari tatapan tajam dariku. Oke, dia gak salah, emang gak ada yang tahu kalau aku dan Dheo sudah menjalin hubungan. “Lu mah gak pantes iri. Jelas-jelas dia lebih cakep dari lu, body-nya juga jauh lebih oke dari body lu yang mirip papan penggilesan.” Tukas Ella gak nanggung-nanggung, ”Lu dapet ini darimana, Dy?” Tanya Ella kemudian padaku. “Dari Didi, emang kenapa?” Ujarku balik bertanya. Ella menggeleng pelan, ”Gak pa-pa sih, gw kira dari Dheo, kan Dheo tinggal di rumah lu.” “Eh, Dy... Dheo beneran pacaran ma ni cewek? Tapi waktu itu lu bilang dia belum punya pacar?” Tanya Ikke padaku. “Enggak.” Sahutku singkat. “Loh? Tapi disini dibilang kalau me...” “Mereka gak pacaran! Karena pacar Dheo itu gw! Lagian apa pentingnya sih buat kalian tau siapa pacar Dheo? Dheo bukan artis, yang kalau kalian tau berita tentang dia, siapa pacar dia, kalian bisa terkenal. Dheo juga bukan orang suci yang seandainya dia punya pacar, akan merusak kesucian dia. Dheo cuma manusia biasa. Dia berhak punya pacar dari kalangan mana aja.” Sergahku kuat. Semua cewek yang ada disitu memandangku kaget. “Dya, sorry. Kami bener-bener gak tau kalau lu pacar Dheo. Habis selama ini lu gak pernah terlihat tertarik dengan apapun yang menyangkut Dheo.” Ucap Mila pelan. “Emang sih kita tau kalau belakangan ini lu sering banget diantar jemput sama Dheo. Tapi dari yang kami liat, kedekatan kalian itu lebih mirip kakak-adik dari pada sepasang kekasih.” Sambung Ella. “Gak masalah. Lagian emang gw yang gak pernah mau mengenalkan Dheo sebagai pacar gw ke kalian. Lagian wajar kok kalau orang berpendapat perlakuan Dheo selama ini lebih mirip seorang kakak yang ngejaga adiknya. Dheo tuh posesif banget.” Ucapku datar. Sampai jam bubar sekolah, gak ada satupun dari mereka yang meributkan FK Magazines itu. semuanya lebih memilih untuk diam dan bertanya-tanya dalam hati. Semua anak kelas sudah pulang, tapi sampai jam sudah menunjukkan pukul 4 sore pun aku masih berada di dalam kelas. Aku gak malas banget buat pulang. Di rumah pasti gak ada siapa-siapa. Walaupun kemarin-kemarin hanya aku dan Dheo yang ada dirumah, tapi tetap aja, aku gak sendirian. Tapi sekarang, Bik Umi belum pulang, Didi langsung berangkat kerja sepulang sekolah tadi dengan diantar Radith, Dheo lagi penelitian. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang aja, lebih bagus sendirian dirumah daripada sendirian di sekolah. Ntar kalau ada apa-apa gimana coba? Mau teriak, mana ada yang nolong. Saat aku berjalan keluar bangunan sekolah, aku melintasi parkiran. Iseng-iseng aku melihat kesana, dalam hati kecilku, aku berharap kalau Dheo ada disana, menungguku pulang seperti biasa dengan duduk di atas kap mobilnya sambil mendengarkan Ipod-nya. Tapi bukan Dheo yang ada disana. Seseorang yang sama sekali gak kuduga... “Rio?” Ucapku tak percaya melihat sosoknya di parkiran dengan gaya yang sama seperti saat Dheo menungguku. “Hai, Dy. Kok lama banget keluarnya?” Tanya Rio ramah sambil menghampiriku. “Lagi malas pulang, Dheo gak ada dirumah sih. Lu sendiri ngapain kesini? Jangan bilang kalau Dheo yang nyuru elu buat ngejemput gw, karena Dheo bilang gak pernah nyuru siapapun buat jemput atau ngantar gw.” “He he he... Ketahuan yah? Gw cuma kangen aja sama lu. Gak boleh? Ngomong-ngomong lu udah makan siang belum?” Tanya Rio disertai senyumnya yang cukup menawan, tapi masih kalah jauh dengan senyum Dheo. Habis, Dheo itu jarang banget senyum. Jadi kalau Dheo senyum, wah... Ajaib banget. Beda banget sama Rio yang sejak aku kenal, hobby banget yang namanya pamer senyum. Aku menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Rio. “Ya udah, sekarang kita makan siang dulu yuk? Ntar gw yang ngantar lu pulang. Daripada ntar lu sakit, udah gitu pulangnya pakai angkutan umum lagi. Mau kan?” Ujar Rio lembut. “Bolehlah kalau cuma makan siang. Gw rasa Dheo juga gak bakalan marah.” Putusku lalu masuk kedalam mobil Rio. Cara Rio menyetir hampir sama dengan Dheo, tenang. Tapi entah kenapa aku lebih menyukai Dheo yang berada di sebelahku saat ini. Setelah keliling cari tempat makan, akhirnya kami memutuskan makan di sebuah kafe yang gak jauh dari kafe tempat Dheo biasa ngumpul. Setelah makan, Rio menepati janjinya untuk mengantarku pulang. Tapi aku gak mau kalau dia mengantarku sampai di depan pagar. Aku minta diturunkan agak jauh dari rumah. Saat aku membuka pintu rumah, kulihat Didi sedang baca majalah diruang tamu. Sepertinya dia memang menunggu kepulanganku. “Lu darimana aja sama Rio?” Tanya Didi to the point. Aku berhenti seketika, ”Lu tau darimana kalau gw pergi sama Rio?” Tanyaku kaget. Karena aku benar-benar yakin kalau mobil Rio gak akan terlihat sekalipun dilihat dari lantai dua rumahku. Aku yakin kami tadi berhenti cukup jauh. Jadi dari mana Didi tau kalau aku pulang sama Rio? “Dari Dheo, tadi pas dia nelepon, gw udah pulang kerja. Dia bilang gw gak usah khawatir kalau lu pulang telat. Soalnya lu pergi sama Rio.” Jelas Didi, ”Sumpah, gw gak habis pikir. Selama ini diantara kalian, gw lebih meragukan perasaan Dheo ke elu. Tapi ternyata, gw salah. Saat Dheo pergi penelitian, lu bisa dengan mudahnya jalan sama cowok lain.” “Dia tau darimana?” Ucapku pelan nyaris berbisik tanpa mempedulikan tuduhan dalam suara Didi. Dan sepertinya aku gak perlu menunggu jawaban lama, karena sesaat kemudian hp-ku bergetar. Nama Dheo terpampang di layar. “Halo...” “Kemana aja kamu sama Rio?” “Kamu tau darimana kalau aku pergi sama Rio?” “Gak penting! Jawab aku Dya... Darimana aja kamu sama Rio? Bukannya aku udah ngelarang kamu untuk dekat-dekat sama dia?” “Rio gak pantas untuk dijauhi, Yo. Dia baik sama aku. Gak mungkin aku ngejauhi dia tanpa alasan yang logis.” “Dia baik sama kamu karena mau ngerebut kamu dari aku!” “Untuk apa, Yo? Untuk apa? Gak ada untungnya kan buat dia kalau ngerebut aku dari kamu? Dia gak dapat nobel gara-gara ngerebut aku. Dia juga gak dapat mukjizat apapun. Jadi untuk apa dia ngerebut aku dari kamu, Yo?” “Dya... Aku mohon...” “Jangan memohon, Yo. Kamu egois, tau gak? Kamu selalu ngelarang aku untuk dekat dengan Rio, tapi saat aku yang ngelarang kamu untuk dekat dengan Ily, apa kamu mau? Kamu ngebela Ily, Yo. Kamu percaya sepenuhnya kalau dia itu baik, gak ada niat untuk ngerebut kamu dari aku. Kamu percaya Ily, Yo. Kamu percaya sama dia yang bukan siapa-siapa kamu. Tapi kamu gak percaya sama aku, Yo. Padahal aku pacar kamu...” “Aku percaya sama kamu Dya. Aku percaya sepenuhnya sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu lagi, Dya. Aku mencintai kamu.” “Aku juga, Yo. Baru sama kamu aku ngerasa kayak gini. Baru sama kamu aku ngerasa gimana jatuh cinta. Tapi gak kayak gini, Yo. Jangan larang aku untuk berteman dengan siapapun... Termasuk Rio.” Kudengar Dheo menghela nafas sebelum bicara lagi, ”Aku gak akan ngelarang kamu untuk berteman dengan siapapun. Asal orang itu bukan Rio... Hanya sama dia kamu gak boleh berteman.” “Akan kulakukan. Tapi kamu juga gak boleh berteman dengan Ily. Gimana?” “Kenapa harus bawa-bawa Ily? Dia gak ada hubungannya. Yang kita bicarakan sekarang itu, Rio! Bukan Ily.” Sahut Dheo mulai keras. “Apa bedanya, Yo? Kamu gak bisa menjauhi Ily, kan? Aku juga sama.” “Rio ingin balas dendam sama aku, Dya. Karena itulah dia selalu merebut semua hal yang kumiliki.” “Balas dendam untuk apa, Yo? Kamu salah apa sama dia?” “Maaf, Dya... Tapi ini gak bisa aku ceritakan di telepon. Aku janji, saat aku pulang nanti, aku pasti akan menceritakan semuanya padamu. Aku janji... Jadi tolong, percaya sama aku.” “Baiklah. Sampai saat ini aku percaya sama kamu. Lebih baik sekarang kita sama-sama istirahat, aku capek banget hari ini. Dan aku yakin, kamu pasti lelah juga. Selamat malam.” Ucapku mengakhiri pembicaraan tanpa menunggu jawaban Dheo. Tanpa menghiraukan Didi, aku berjalan ke kamarku. Kulempar tas yang kubawa ke atas tempat tidur. Kuambil kotak yang diberikan Dheo waktu itu dari dalam lemari. Dari lima kode kunci, aku sudah berhasil memasukkan 3 angka. 206__ Hanya tinggal dua angka lagi... Angka apa sebenarnya ini? Dheo bilang, aku sendirilah yang menguncinya... Berarti angka ini sangat berarti bagiku... 20_6 itu tanggal dan bulan kelahiranku... Aku sudah mencoba memasukkan tahun kelahiranku, tapi kotak itu tetap gak bisa dibuka... Padahal, sebentar lagi aku akan berulang tahun yang ke-17 di tahun 2013 ini... AHA!! 2013... Tunggu, coba aku masukkan 13... Dan... “YES!! Berhasillll!!!” Sorakku gembira. Kotak keramat itupun akhirnya terbuka juga. Didalam kotak itu ada bermacam-macam barang. Tapi masih ada sebuah kotak kecil yang sepertinya harus kubuka lagi. Dan sayangnya, kotak kecil itu benar-benar membutuhkan sebuah kunci. Bukan kode yang sama. Ada sebuah kertas bergambar terlipat disudut kotak. Dari sekian banyak barang yang ada didalamnya, aku malah mengambil kertas itu. Entah kenapa, rasanya aku sangat tertarik pada kertas itu. Aku membuka lipatannya. Kalau udah besar nanti... Dya mau jadi istri Dheo... NNNGGGGIIIIIINNNGGGG “Aduh!” Tiba-tiba kepalaku begitu sakit, seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Seperti ada yang memaksa untuk masuk kedalam pikiranku. Untuk sesaat aku merasa gak akan tahan kalau sakit ini terus berlanjut, tapi kemudian sakit itu pun hilang. Alih-alih sakit kepala, aku malah merasa begitu rindu dengan semua barang-barang yang ada dalam kotak keramat itu. Aku ingat semua benda itu. Photo-photoku bersama Dheo, boneka tangan yang pernah kubuat_walaupun bentuknya gak jelas_untuk Dheo. Surat-surat yang kutulis saat aku lagi marahan sama Dheo... Semua benda yang penuh kenanganku bersama Dheo. Aku ingat semua hal tentang Dheo sekarang. Aku Ingat Kembali!!! Dan saat ini aku merasa begitu merindukan Dheo. Aku memang sudah membutuhkan Dheo sejak aku kecil, aku udah terbiasa dengan kehadirannya dalam hidupku. Aku menyesal tadi memutuskan begitu saja pembicaraanku dengan Dheo di telpon. Aku ingin sekali menelponnya sekarang. Tapi aku gak yakin Dheo masih bangun apa enggak. Hari ini sungguh melelahkan. Setelah memutuskan untuk menelepon Dheo besok, aku pun tertidur dengan memeluk kotak keramat itu. Aku berharap dapat bertemu Dheo, walaupun hanya dalam mimpi. *** 7 Bulan setelah Dheo kembali ke Indonesia... “Kalian yakin anak kecil ini yang berhasil mengalahkan Derby?” “Pasti ada kesalahan nih. Gak mungkin anak kelas 1 SMA gini jadi pimpinan! Mana bisa dia mimpin kita!” “Derby pasti udah gila!” “Gak mungkin Derby menyerahkan posisinya sama anak kecil gini!” “Pasti ada yang merusak mobil Derby! Derby belum pernah terkalahkan oleh siapapun... Apalagi anak ingusan macam dia!” Ucapan-ucapan seperti itulah yang harus didengar Dheo saat dia berhasil mengalahkan Derby Rianno, pimpinan drag race selama 5 tahun. Dheo berhasil mengalahkan Derby setelah balapan selama dua jam non-stop dengan mobil Mazda R8 Cyan metalik miliknya, dimana Dheo berhasil melewati garis finish lebih dulu dari Derby. Derby yang saat itu berumur 25 tahun, atau lebih tua 10 tahun dari Dheo, mengakui kekalahannya dan memberikan posisi pimpinan drag race pada Dheo. “Gw suka sama lu. Lu balapan sportif. Lu tetap harus junjung itu, walaupun semua lawan lu berlaku curang sama lu, lu tetap harus sportif.” Ujar Derby sesaat setelah balapan usai. “Gw juga salut sama lu. Lu mengakui gw. Lu gak melihat semuanya hanya dari luar.” Balas Dheo. “Ha ha ha... Gw jadi kasihan sama lu. Tapi tenang aja, bentar lagi, gak akan ada yang gak mengakui kehebatan lu. Gw percaya kalau ini bukan semata-mata karena keberuntungan. Gw percaya itu memang kemampuan lu. Oh ya, gw pergi dulu yah? Jaga drag race disini untuk gw.” “Lu mau kemana?” “Gw juga bingung mau kemana, habis gw udah gak punya urusan lagi disini. Gw udah gak punya tanggung jawab apa-apa lagi.” Sejak saat itu Derby menghilang. Dan dari berita terakhir yang didengar Dheo, Derby mengalami kecelakaan saat balapan liar di Bandung yang membuatnya kehilangan nyawa. “Mulai saat ini, siapa yang gak bisa menerimaku sebagai pimpinan boleh balapan man to man denganku untuk memastikan apakah aku cocok dengan posisi ini atau enggak. Kalau ada yang berhasil menyalipku sekali saja... Aku akan meletakkan posisi ini dengan suka rela.” Sumpah Dheo setelah pemakaman Derby.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN