11

3611 Kata
“Dheo tuh b******k banget!” Umpatku saat aku dan Rio lagi menunggu pesanan makan malam kami datang di kafe Orion. Rio menatap kedua mataku, ”Emangnya kenapa lagi, Dy?” Tanyanya terdengar penasaran. “Lu tau sendiri kan kalau Dheo ngelarang gw buat dekat sama lu, kan? Nah gw juga ngelakuin hal yang sama. Gw ngelarang dia buat dekat sama Ily. Tapi dia gak mau! Giliran gw yang gak mau, dia marah.” Ujarku berapi-api. “Gw sih ngerti Dheo gak bisa menjauhi Ily. Mereka kan dekat banget. Lagian mereka bukan teman biasa kan?” “Itu gw juga tau. Mereka udah sahabatan lama banget.” Ucapku enggan, ”Ngomong-ngomong, lu juga. Kok lu baik banget sama gw? Kita baru kenal padahal.” “Gw suka sama lu. Lu pasti gak nyangka kan? Makanya gw baik sama lu. Kalau orang udah suka sama orang lain, dia pasti memperlakukan orang itu dengan baik dan special.” “Yeah, lu benar.” Ucapku setuju. Karena aku juga cenderung memaafkan semua kecemburuan Dheo padaku. Saat kami berdua sama-sama terdiam, saat itulah aku melihat sesuatu yang membuatku kaget setengah mati. “Yo!” Panggilku cukup kuat dengan nada khawatir. “Ada apa, Dy?” “Lu gak punya musuh kan?” Tanyaku cepat. “Emang kenapa?” “Itu...” Ujarku sambil menunjuk ke parkiran. Kulihat mata Rio mengikuti arah yang kutunjuk. Di parkiran, mobil Rio, atau lebih tepatnya mobil Dheo, dikelilingi oleh preman-preman bertampang seram. “Mau apa mereka?” Ucap Rio kesal lalu bangkit dan segera menuju ke parkiran. “RIO!!” Panggilku takut, tapi kedua kakiku malah mengikuti Rio keluar. “Yo... Mereka siapa?” Tanyaku sambil meringis ketakutan dibelakang Rio. “Mereka anggota geng balapan liar yang dipimpin Dheo.” Ujar Rio pelan, ”Mau apa, kalian?” Seru Rio kuat. “Eh, jangan sok deh lu!” Bentak salah satu dari mereka yang berbadan paling besar. ”Lo kan yang ngebawa mobil ini?” Tanya preman itu lagi. “Kalau iya kenapa?” Tantang Rio. Kulihat wajah para preman itu semakin keras, genggaman mereka pada balok-balok kayu dan tongkat besi yang mereka bawa juga semakin kuat. Tiba-tiba saja dan sangat cepat mereka mengeroyok Rio. Rio sama sekali gak bisa membela diri karena harus melindungiku dari serangan para preman itu. Aku gak tau berapa lama mereka mengeroyok kami. Yang jelas saat itu aku lihat kalau Rio udah bersimbah darah. Aku sempat berpikir kalau Rio udah meninggal. Tapi yang kuingat gak lama setelah preman-preman itu pergi, ada seorang cowok yang menolong kami. Setelah itu aku sama sekali gak ingat apapun. Saat aku tersadar keesokan harinya, kulihat ada seorang cowok yang gak kukenal tidur di sofa. Melihatku bergerak ingin bangun, dia langsung menghampiriku. “Dya... Lu udah sadar?” Tanyanya terdengar cemas. “Lu siapa? Gw dimana?” Tanyaku cepat, ”Aduh!” Ringisku karena tiba-tiba kepalaku sakit sekali. “Lu gak pa-pa?” Tanyanya terdengar semakin khawatir. “Jawab pertanyaan gw.” “Gw Danu. Lu lagi di rumah sakit gara-gara... Uhm... Pengeroyokan tadi malam.” Jelasnya, yang aku tau dengan pasti, dia malas membicarakannya. “Oh! Gw ingat! Rio dimana?” Tanyaku cemas. “Dia ada di kamar sebelah. Lebih baik lu gak banyak gerak karena lu baru aja sadar. Lu belum sembuh benar.” Ucap Danu pelan. “Gw mau ketemu Rio!” Tegasku tanpa memperdulikan larangan Danu. “Dya!” Panggil Danu kuat, tapi sama sekali gak ku perdulikan. Aku langsung berjalan dengan cepat ke arah kamar yang ditunjuk Danu, sementara Danu mengikutiku dari belakang. Tapi saat aku masuk ke kamar tempat Rio dirawat, Danu hanya berdiri di depan pintu. Kulihat Rio terbaring pasrah di tempat tidur. Wajahnya yang ganteng jadi penuh memar-memar dan lecet-lecet. Lehernya di gips. Benar-benar menyedihkan. Bagaimana mungkin preman-preman itu melakukan hal seperti ini? “Nu... Gw mau nanya sesuatu. Tapi tolong jawab dengan jujur.” Ucapku pelan, takut membangunkan Rio. “Okay, selagi gw masih bisa jawab, bakalan gw jawab.” “Pertama, lu siapa sebenarnya? Kok lu mau nolong kami, padahal gak seorang pun disana yang berniat untuk menolong kami. Mereka takut kalau nantinya masalah ini akan sampai ke telinga polisi. Lu temennya Rio?” Tanyaku cepat. “Kalaupun itu cuma satu-satunya pilihan di dunia ini, gw gak mau jadi temennya Rio. Gw Danu, Ardanu Dharmajaya, gw temen Dheo. Gw diminta Dheo buat ngejagain lu. Tapi sorry... Tadi gw telat datang. Dan gw emang gak bisa bantu apa-apa. Posisi gw saat itu serba sulit.” Jawab Danu terlihat jujur. Aku mengangguk pelan. “Yang kedua, orang-orang yang menyerang kami tadi malam. Apa betul mereka anak geng Dheo?” “Da... Da... Darimana lu tau?” Tanya Danu kaget. “Gak penting gw tau darimana. Tapi itu semua bener kan?” Tuntutku. “Iya, tapi...” “Gak ada tapi-tapian!” Bentakku, ”Kalian tuh b******k banget yah? Gw tau kalau dia gak suka sama Rio, tapi gw gak nyangka kalau dia bisa nyuru orang buat ngeroyok Rio. Udah gitu nyuru gw aja lagi yang dilindungi. Maksud dia apa?” “Dya... Tolong dengar dulu penjelasan dari gw. Ini semua gak seperti yang lu pikirkan. Lu pasti salah paham.” Ujar Danu berusaha menjelaskan dengan nada yang sengaja ditahan. “Gw gak butuh penjelasan. Apapun yang gw liat, itulah yang benar. Kalian berdua sama brengseknya!” Bentakku dan langsung kembali ke kamar tempatku tadi terbangun. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Didi datang menjengukku. Sepertinya Didi langsung ke rumah sakit dari tempat kerja sambilannya karena dia masih mengenakan baju sekolah. “Di... Papa sama Mama gak tau kan kalau gw masuk rumah sakit?” Tanyaku sesaat sebelum memakan jeruk yang dikupaskan Didi. Didi menggeleng pelan, ”Enggak kok. Tenang aja.” Ucap Didi lembut. ”Eh, gw angkat telepon bentar yah, ada telepon masuk nih.” Sambungnya sambil berjalan kesudut ruangan. Didi berbicara di telepon dengan serius. Aku gak tau siapa yang meneleponnya sehingga bisa membuat Didi menjadi seserius itu. Tapi gak lama kemudian Didi menyerahkan hp-nya padaku. “Dari Dheo, dia mau ngomong sama lu.” Ujar Didi sambil menyodorkan hp-nya. “Ck.” Jujur aku malas banget buat ngomong sama Dheo sekarang, tapi kulihat Didi sangat berharap agar aku menyelesaikan masalahku sesegera mungkin. “Hallo??” “Dya... Kamu baik-baik saja? Aku benar-benar cemas saat mendengar kalau kamu masuk rumah sakit. Aku...” “Aku baik-baik aja. Udah kan? Lebih baik kamu urus Ily aja sana, cowok b******k!” “Dya... Kamu kenapa sayang? Kok marah-marah?” “Jangan munafik deh, Yo. Kamu sendiri kan yang nyuru anak buah kamu untuk ngeroyok Rio? Tapi kamu gak tau kan kalau aku ada disana juga? Kamu salah perhitungan kan? Kamu emang b******k, Yo! Kamu selalu ngelarang aku temenan sama Rio karena ini kan? Karena kamu udah ngerencanain buat ngeroyok dia, dan kamu gak mau kalau aku sampai tau. Kamu selalu ngelarang aku, Yo... Tapi kamu sendiri makin lama makin dekat dengan Ily.” Ujarku dalam sekali tarikkan nafas, ”Kamu cowok b******k paling egois yang pernah aku kenal!” Umpatku. “Dya, please. Dengar dulu semua penjelasan aku. Kamu salah paham, Dy...” Bujuk Dheo dari seberang. “Gak ada yang perlu dijelaskan, Yo. Semua yang aku liat udah menjelaskan banyak hal.” “Maksudnya?” “Semua yang udah aku liat cukup untuk membuktikan cowok macam apa kamu. Dan mana yang lebih baik antara kamu dan Rio. Dan yang paling buat aku kecewa sama kamu, mengetahui bahwa selama ini kamu gak pernah percaya sama aku. Kamu nyuruh orang buat ngawasin semua gerak-gerik aku kan?” “Bukan ngawasin, Dy. Tapi buat ngejaga kamu... Karena aku tau, saat aku gak ada, harus tetap ada orang yang menjaga kamu. Harus ada orang yang setiap saat stand by untuk menolong kamu. Karena aku gak ingin terjadi apapun padamu.” “Gak usah mungkir, Yo. Satu lagi, aku sangat berterima kasih untuk semua hal yang udah pernah kamu lakukan buat aku selama ini. Ingatanku udah pulih.” “Syukurlah... Aku senang mendengarnya.” Ucap Dheo lega. “Tapi itu gak akan merubah apa yang baru kuputuskan, Yo.” “Emang kamu udah mutusin apa, Dy? Bukan...” “Hubungan kita gak bisa dilanjutkan lagi. Diantara kita udah gak ada kepercayaan, dan kamu yang memulai semuanya itu, Yo. Lebih baik, kita sudahi sampai disini. Kamu bisa menjalin hubungan dengan Ily, atau siapapun juga tanpa harus takut aku suka apa enggak sama mereka. Dan kamu juga gak harus pindah dari rumahku , hanya saja, aku minta kita jaga jarak.” “Dy... Kamu gak serius kan sayang?” “Aku serius, Yo. Aku udah muak diperlakukan seperti anak kecil.” “Baiklah kalau itu yang kamu inginkan. Aku tau, gak ada gunanya aku berdebat lebih lama. Aku cuma mau ngingatin kamu satu hal, aku selalu bilang bukan, kalau aku gak akan pernah bohong sama kamu?? Dan asal kamu tau, ada atau tidak hubungan diantara kita, itulah hal pertama dan selamanya yang akan kulakukan padamu. Kalau kamu mengerti, semuanya akan jadi lebih mudah. Aku gak akan minta maaf atas semua yang menimpa Rio. Tidak akan pernah. Tapi aku minta maaf atas segalanya yang udah kulakukan padamu dan semua hal yang telah kuputuskan, walaupun aku gak akan pernah punya kesempatan lagi buat ngejelasin semuanya sama kamu. Goodnite, sweetheart. Aku selalu mencintaimu, semoga hari-harimu jauh lebih indah tanpa aku disisimu.” Tanpa sadar aku memeluk kedua lututku dan menangis sejadi-jadinya. Entah kapan terakhir kalinya aku menangis. Didi memelukku dari belakang, berusaha menenangkanku. Tapi ternyata Didi pun ikut menangis. Kami pun saling berpelukan sambil menangis. Dari sudut mataku, kulihat Danu berdiri di pintu dengan tangan terlipat di d**a. Setelah aku merasa cukup tenang, Didi memintaku menceritakan apa yang aku dan Dheo bicarakan di telpon. Cukup lama aku bercerita pada Didi karena Danu yang ikut mendengarkan sibuk menyela dan membela Dheo. Didi bilang dia mendukung Dheo, tapi apapun keputusan yang aku buat asal itu bisa membuatku bahagia, dia akan berusaha mendukungnya. Danu pergi setelah aku selesai bercerita. Didi tertidur di sofa yang ada dikamar. Sedangkan aku sendiri baru tertidur saat suara adzan shubuh sudah terdengar. Keesokkan harinya saat aku menjenguk Rio dikamar tempatnya dirawat, kulihat Rio sudah bisa berdiri dan termenung melihat keluar jendela. Dia gak sadar kalau aku sudah berada di dalam kamarnya. Sampai aku menyapanya. “Hai, Yo. Udah baikan?” Tanyaku sambil menghampirinya. Rio langsung menatapku, kemudian tersenyum, ”Gw udah baikan kok. Duduk dulu deh.” Ujar Rio lembut sambil menunjuk kursi disebelah tempat tidur. ”Mata lu kenapa, Dy? Kok bengkak gitu? Lu habis nangis, ya?”tanya Rio terdengar cemas saat memperhatikan wajahku dengan cermat. “Gw... Gw udah putus sama Dheo tadi malam.” Ujarku sambil berusaha menahan airmata yang udah siap siaga mau keluar. Tanpa menunggu lagi Rio langsung menghampiri dan memelukku dengan erat. “Gw gak bakal bilang kalau gw sedih mendengar kabar ini. Gw senang lu berani membuat keputusan ini. Gw mungkin jahat karena berbahagia saat lu merasa sedih. Tapi lu tau sendiri gimana perasaan gw ke lu. Gw masih menyukai lu, dan semakin menyukai lu. Bolehkah gw menggantikan posisi Dheo? Gw tau ini terlalu cepat, tapi kita kan bisa memulainya dengan pelan.” Tanya Rio lembut. Sesaat aku terdiam. Ini sama aja kalau aku juga mengkhianati Dheo. Tapi, bukankah aku baru menjalin hubungan dengan orang lain saat hubungan kami sendiri sudah berakhir? Membuat Rio menunggu jawabanku jelas bukan sesuatu yang baik. Setelah memikirkan bagaimana sikap Rio selama ini padaku, akhirnya aku mengangguk pelan. Dan Rio pun mempererat pelukannya. “Akhirnya...” Ucap Rio gak sadar dan aku sama sekali gak pernah memikirkan apa maksud kata-katanya waktu itu. Setelah empat hari kami dirawat di rumah sakit, akhirnya dokter memperbolehkan kami untuk pulang. Saat aku akan mengurus administrasi rumah sakit, petugasnya berkata kalau semua biaya sudah dibayar oleh seorang pemuda. Aku gak yakin itu Danu atau siapa. Tapi akhirnya aku menemukan jawabannya saat petugas itu memberikan sebuah surat yang katanya memang dititipkan untukku oleh pemuda yang mengurus administrasi kami. Aku membuka surat singkat itu. Akan kupastikan kalau Om dan Tante gak akan tau mengenai masalah ini... Kecuali kamu sendiri yang memberitahukan mereka... Dheo Aku langsung membuang surat itu ke tempat sampah setelah membacanya. Aku ingat, hari ini hari Senin. Seharusnya Dheo sudah kembali dari penelitiannya. Seharusnya, aku pergi menjemputnya di bandara. Seharusnya semua itu aku lakukan. Tapi itu semua gak kulakukan karena kami sudah bukan siapa-siapa lagi. Sebenarnya aku sangat malas pulang kerumah. Aku takut saat pulang nanti aku harus bertemu Dheo. Tapi aku butuh banyak istirahat agar bisa segera kembali kesekolah. Karena selama ini pihak sekolah gak tau kalau aku masuk rumah sakit. Kabar yang dikirim kesekolah adalah aku harus pergi keluar kota bersama kedua orangtuaku yang tiba-tiba berkunjung ke Indonesia. Entah kenapa selama perjalanan pulang kepalaku terus saja berdenyut, makin lama semakin terasa sakit, dan hal terakhir yang aku ingat adalah saat aku baru turun dari mobil, aku melihat Dheo berdiri di depan teras dengan travel bag-nya bersama Ily. Aku gak tau udah berapa lama aku pingsan, karena saat aku tersadar, kulihat Didi sedang duduk membaca majalah dipinggir tempat tidurku. Syukurlah ada yang membawaku ke kamar daripada aku dibiarkan tergeletak di dekat pagar. “Di... Siapa yang bawa gw kedalam?” Tanyaku lemah. “Oh itu... Dheo tadi yang gendong lu sampai ke kamar. Dia keliatan cemas banget pas ngeliat lu pingsan di depan pagar. Dia langsung lari ke tempat lu jatuh dan secepat mungkin membawa lu ke kamar.” Jawab Didi tanpa memandangku. Aku tau, Didi gak suka liat aku jadian dengan Rio, tapi walaupun begitu, dia tetap berusaha menghormati pilihanku, ”Oh iya, dia juga baru pulang kan dari penelitiannya?” Tanyaku lagi. “Enggak, dia udah sampai dari tadi malam. Tadi pas lu pingsan itu, Dheo baru aja mau pindah.” Jelas Didi. “Pindah lu bilang? Kenapa?” “Mana gw tau. Kalau lu memang mau tau, tanya aja sama orangnya langsung. Mungkin dia masih ada dikamarnya. Dia bilang dia mau nunggu lu sadar dulu, baru pergi, dia mau pamitan langsung.” “Gw mau nemuin dia dulu.” Putusku dan langsung turun dari tempat tidur. Lagi-lagi pintu kamarnya gak tertutup rapat. Mungkin aku udah salah memutuskan untuk bertemu Dheo. Karena saat itu aku mendengar hal yang seharusnya gak aku dengar. “Yo, cium aku! Ini kan biasa dilakukan orang yang pacaran.” Ujar Ily terdengar begitu jelas dari luar. Kulihat Dheo merendahkan kepalanya. Aku gak sanggup melihat kelanjutannya. Ternyata mereka juga udah jadian. Entah kenapa aku merasa sakit hati mengingat Dheo pernah berkata kalau dia gak pernah punya hubungan lebih daripada teman dengan Ily tapi pada akhirnya mereka tetap jadian. Aku berlari turun secepat yang aku bisa. Aku ingin pergi. Kemana saja. Aku masih tetap gak percaya Dheo bisa melakukan itu pada Ily. Aku marah sekali. Padahal aku bukan lagi pacarnya, dan Dheo juga gak mengkhianatiku. Tapi aku tetap gak bisa menerima kenyataan kalau mereka bisa berciuman. Di kamar Dheo... Di rumahku... Sore sekali aku baru kembali dan langsung pergi mandi ke kamarku. Saat aku akan mengambil baju ganti dilemari pakaian, kulihat sebuah kado terletak manis di atas tumpukkan bajuku yang paling atas. Terlalu banyak yang kupikirkan hari ini sehingga membuatku lupa dengan hari ulang tahunku sendiri. Kubuka kado itu, dan ternyata di dalamnya hanya ada secarik kertas yang bertuliskan Datanglah ke garasi... Hanya itu. Tanpa nama pengirim. Aku penasaran dibuatnya. Dan setelah selesai berpakaian aku langsung ke garasi. Pintu ke garasi dari dalam rumah sama sekali gak mau terbuka. Kelihatannya terkunci dari luar. Aku memutuskan untuk masuk lewat pintu luar. Dan saat pintu garasi kubuka.... “SURPRISE!!!!” Teriak semua orang yang ada disana. Ada Ella, Mila, Ikke, Didi, Agung, Chandra, Danu, Rio dan beberapa teman sekolahku yang lain. Yang paling membuatku kaget adalah kehadiran Papa dan Mama disana. “Papa? Mama?” Teriakku gak percaya. “Peluk Mama sayang.” Ucap Mama lembut. Tanpa disuruh dua kali aku langsung berlari memeluk kedua orangtuaku bersamaan. “Selamat ulang tahun sayang.” Ujar Papa dan Mama bersamaan. “Dya senang kalian datang hari ini.” Ucapku jujur, ”Makasih Mama sama Papa udah mau datang.” Sambungku dengan tulus. “Kamu salah sayang. Yang harus mendapatkan ucapan terima kasih itu bukan kami. Tapi Dheo. Dia yang mempersiapkan ini semua. Dia yang merencanakan dan mengadakan pesta kejutan untuk kamu ini.” Ucap Mama lembut. “Dheo, Ma?” Tanyaku gak yakin. Tapi setelah kupandangi sekali lagi para undangan yang datang, aku mengerti. Ily juga hadir. Kenapa juga racun tikus itu ikut datang kesini. “Iya sayang. Dia yang memohon pada kami agar kami membatalkan semua acara kami semalam dan hari ini agar bisa langsung terbang kesini. Tapi ngomong-ngomong Dheo mana ya, Ma? Masa’ dia yang jadi pelopornya malah gak ada disini.” Tanya Papa. “Ah, tadi Mama liat Dheo pergi ke halaman belakang. Mungkin dia masih ada disana sekarang.” Sahut Mama, ”Ayo kamu kesana, sayang. Bilang terima kasih sama Dheo.” Sambung Mama begitu antusias. Ya, Mama dan Papa gak tau kalau hubungan aku dan Dheo udah berakhir. Yang mereka tau adalah aku dan Dheo masih sepasang kekasih. Karena sehari setelah kami jadian, kedua orangtuaku menelpon, dan kami memberitahukan kalau kami sudah jadian. Mereka terdengar sangat senang karena pada akhirnya kami dapat kembali bersama. Mungkin Mama sama Papa akan sangat kecewa mendengar aku udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Dheo. Cepat atau lambat, hal itu tetap harus mereka ketahui. Tapi entah kenapa hati kecilku mengatakan kalau aku tetap harus pergi ke halaman belakang untuk menemui Dheo. Gak kuperdulikan tatapan penuh tanya dari Rio dan Ily. Aku langsung pergi ke halaman belakang. Disana kulihat Dheo duduk sendirian. Celana panjang yang dikenakannya dilipat sampai batas lutut, kedua kakinya dimasukkan kedalam kolam renang. Kulihat ditangannya ada sebuah kotak kecil. Dheo sama sekali gak sadar kalau aku berada disana. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri saat itu. “Dheo...” Panggilku lembut. Dheo kaget dan langsung menoleh ke arahku, ”Dya? Kok kamu ada disini? Kenapa gak didalam sama yang lain? Ini sudah malam dan dingin. Kamu bisa sakit.” Tanya Dheo setelah berhasil menguasai diri, dan hanya sekilas menatapku. “Seharusnya aku yang nanya kayak gitu. Kok kamu disini? Bukannya kamu yang nyiapin semuanya?” Ujarku balik bertanya sambil ikut-ikutan memasukkan kaki ke dalam kolam. “Terlalu ramai. Gimana? Kamu suka sama kejutannya? Sorry kalau bukan pesta besar. Aku gak sempat mempersiapkannya.” “Aku senang banget. Makasih ya. Aku cuma gak nyangka aja kalau kamu juga ngundang Rio.” “Dia kan pacar kamu. Masa’ gak diundang.” Gumam Dheo pelan. Ada yang lain dari nada suaranya, hanya saja aku tidak tahu apa itu. “Oh... Dan satu lagi, makasih udah ngundang Mama dan Papa. Aku bahagia banget mereka bisa hadir saat aku ulang tahun, dan makasih gak ngasih tau mereka tentang semua yang udah terjadi.” “Bukan masalah. Lagian aku udah janji kan? Kalau Om sama Tante tau, kamu gak akan bisa disini lagi. Dan itu bukan hal yang baik.” “Maaf.” “Buat apa, Dya? Udahlah. Lagian hari ini hari ulang tahun kamu. Jangan merusaknya gara-gara kita membicarakan hal-hal yang udah lewat. Lagian aku punya sesuatu untuk kamu.”ujar Dheo sambil menyerahkan kotak yang tadi dipegangnya. Kotak biru muda itu berisi kalung platinum berliontinkan kunci kecil. Hadiah kecil yang sangat indah. Dheo mengambil kalung itu dari dalam kotak dan mengenakannya padaku. Tepat pada saat itulah Rio melihat kami. “Ri... Ri... Rio?” Ucapku gugup. “Dya... Lu? Sama Dheo?” Ucapnya gak jelas tapi terdengar curiga. “Ini gak seperti yang lu bayangkan, Yo.” Ujar Dheo sambil membantuku berdiri, ”Gw hanya memberikan hadiah ulang tahun padanya. Jangan menyalahkannya atas apapun. Kami gak ada hubungan apapun. Seandainya lu memang gak suka gara-gara kejadian ini, lu berhak marah sama gw. Dan satu hal, gw akui kalau status Dya adalah pacar lu, tapi gw gak akan tinggal diam kalau lu berani nyakitin Dya apalagi membuatnya sampai mengeluarkan air mata. Untuk pertama kalinya dalam hidup lu, lu akan melihat akibat kalau membuat gw marah.”sambung Dheo serius. “Jaga Dya.” Bisiknya pelan. Entah kenapa aku merasa senang saat Dheo membelaku. Dan aku juga sama sekali gak merasa bersalah dengan Rio. Tapi, sudut hati kecilku terasa sakit saat mendengar Dheo mengatakan bahwa kami gak ada hubungan apa-apa. Kenapa Dheo gak bilang kalau sekarang kami berteman? Kenapa dia harus mengatakan hal seperti itu? Dheo meneruskan langkahnya menuju rumah, meninggalkanku berdua dengan Rio. Saat sosok Dheo udah gak terlihat lagi, Rio mencengkram kedua lenganku. “Gw tau lu belum bisa melupakan Dheo. Tapi tolong, coba pandang gw sedikit lebih berharga.” Ujar Rio serius. “Maaf. Maafkan gw...” Aku menangis dalam pelukan Rio. Kami berdua tetap berada di halaman belakang sampai Didi datang memanggil kami. *** 3 Bulan sebelum Dya tamat SMP... “Ma, Pa... Dya ngelanjutin ke SMA bekas Dheo yah?” Ujar Dya saat keluarganya sedang makan malam. “Kamu yakin? Kamu gak mau meneruskan ke SMA yang ada di yayasan SMP kamu aja?” Tanya Mama Dya lembut. “Enggak ah, Ma. Dya mau cari pengalaman baru. Lagipula bukannya SMA Dharma Yudha tempat Dheo dulu kan sekolah internasional. Pasti bagus kan?” Tanya Dya lagi. “Bukan itu... Hanya saja biasanya kamu sendiri yang menghindari apapun yang ada sangkut pautnya dengan Dheo.” “Kali ini beda dong, Ma. Lagian Dheo kan udah tamat. Jadi Dya gak harus ketemu dia, kan?” “Baiklah. Itu terserah kamu.” Dya kegirangan saat mendengar dirinya diizinkan untuk melanjutkan sekolahnya di SMA Dharma Yudha. Karena pada dasarnya alasan utama Dya nekad masuk ke SMA Dharma Yudha karena Radith, cowok yang selama ini diincar Dya masuk ke SMA Dharma Yudha. Seandainya Radith masuk SMA terjelek sekalipun, Dya pasti ikut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN