Bab 82 Ningsih duduk di lantai yang tak beralaskan apapun. Tangannya berada di atas paha, punggung membungkuk, kepalanya tak berani ia angkat. Berulangkali ia menghirup nafas berat kemudian menghembuskannya dengan kasar. Dari gerak-geriknya ia terlihat sangat gusar. Tidak lain tidak bukan karena seseorang yang ada di hadapannya. Hari ini adalah pertama kalinya Ningsih datang ke pondok pesantren, setelah empat bulan yang lalu dia tidak boleh datang ke sini, akhirnya Ningsih diperbolehkan lagi memasuki area pesantren. Kali ini bahkan tidak hanya diperbolehkan, melainkan Ningsih dipanggil langsung oleh Abah. Mendengar kabar Abah memanggilnya dan menyuruhnya untuk sowan ke pondok, tentu saja Ningsih merasa senang. Dia sudah rindu pondok dan ingin sekali melepaskan rindunya pada lingkungan

