Bab 5

1163 Kata
Keadaan mobil sunyi, Ara enggan membuka suara begitupun dengan Adam. Pagi sekali, suara mobil Adam sudah terdengar di depan pagar rumah Ara. Membuat Ara yang tadinya masih sibuk sarapan buru-buru keluar rumah untuk membuka pintu. Menawari Adam untuk bergabung dan alhasil mereka sarapan bersama. Sekalipun begitu, suasana diantara mereka masih terasa canggung. Ara masih sungkan karena kemarin sempat marah pada Adam, sementara Adam merasa bersalah karena membuat Ara marah. Keduanya tak tau bagaimana harus menjelaskan perasaan masing-masing, alhasil hanya sepi yang menyelimuti mereka. Selepas makan, mereka baru bisa membuka suara. Adam yang lebih dulu bicara. "Ara," Ara yang sedang membereskan meja makan pun menoleh. Menatap Adam yang kini menatapnya. "Ya Mas?" "Maafin aku ya, seharusnya aku bilang ke kamu dulu." Ara tersenyum getir, tidak menyangka Adam akan minta maaf secara langsung. Namun ada perasaan bahagia yang diam-diam menyelinp dalam jiwa Ara. Ternyata Adam mengerti juga. Ara kira, Adam tidak mengerti dimana letak salahnya. "Iya Mas, uda Ara maafin. Malah Ara yang ngerasa nggak enak uda marah ke Mas." "Enggak kamu betul, harusnya aku bilang dulu ke kamu. Baru aku bilang ke Bunda dan keluarga lain. Karena yang mau menikah kan kita berdua." Ara mengangguk, hatinya legah karena mendengar permintaan maaf itu. Akhirnya mereka bisa meluruskan masalah yang ada diantara mereka berdua. Setelah membereskan meja makan, mereka pun segera bergegas untuk berangkat. Mobil mereka kini melaju menuju daerah seleman untuk menjemput teman-teman Adam yang menginap di sana. Kata Adam tadi, ada tiga temannya yang ikut. Masing-masing temannya itu akan membawa istrinya. Sebab itu Ara merasa legah karena ternyata bukan dia perempuan satu-satunya. Setelah dua puluh menit perjalanan, Mobil Adam berhenti di depan sebuah rumah yang memiliki pagar hitam. Pintu pagar itu terbuka, membuat Adam bisa leluasa untuk masuk ke dalam. Ara di belakangnya berjalan dengan pelan sembari matanya sibuk memperhatikan sekitar. Rumah itu memiliki halaman luas dan bangunannya yang sangat sederhana. Ada papan nama penginapannya di depan rumah, berdiri tegak sekalipun papan itu terlihat usang. “Assalamu’alaikum..” Ujar Adam sembari mengetuk pintu. Ara berdiri di sebelahnya. Tak lama, pintu terbuka menampakkan seorang lelaki seusia Adam. Selepas membuka pintu dan menjawab salam, lelaki itu sontak membawa Adam ke dalam pelukannya. “Oh MY GOD Adaam!!!! APA KABAAARR Brooo!!” serunya. Suaranya memenuhi ruang tamu, dan itu berhasil menarik semua orang yang ada di dalam rumah. terbukti beberapa orang muncul dari dalam, dengan wajah senang kemudian memeluk Adam bergantian. total ada tiga pemuda yang Ara tebak teman-teman Adam. “Tambah Weleeek ae dam!!!” (Tambah jelek aja kamu dam!!) “Ya Allah, apa kabar Ustadz? Lama nggak ketemuu.” Setelah sibuk melepas rindu dengan Adam, ketiga pria itu sontak menatap Ara. Menampakkan senyum mencurigakan yang membuat Adam memutar bola matanya. “Kenalin, ini Ara.” “Ohhh iniii calonmu Dam! Haha, kenalin ya Mbak Araaa, aku Misbah.” Kata pria yang bernama Misbah. “Kalau saya Dani Mbak.” “Oh Iyaa.” Jawab Ara dengan tersenyum malu. “Kalau gue Jonathan Ra, panggil aja Jo.” “Iya Joo.” “Cantik Dam, pantes sama kamu.” Kata Misbah. “Setuju, wes bro ndang sat set.” Ujar Jo. “Cocok wees!” kata Dani. Mendengar celoteh teman-teman Adam tentu saja membuat Ara semakin grogi. Pipi perempuan itu pun merah merona karena malu. Ia melirik Adam yang tampak tenang di tempatnya, tidak merasa terganggu dengan ucapan teman-temannya. “Ohh ada Kang Adam too.” Seseorang dari dalam rumah muncul, seorang perempuan menggunakan jilbab bewarna merah. “Ini loh Beb, calonnya Adam.” Kata Jo. Tampaknya perempuan itu adalah istri Jo. “Loalahhhhh, Kang Adam beneran bawa calonnya too? Tak kira bohong!!” perempuan itu semakin heboh, mendekat ke arah Ara dan menatap Ara lamat-lamat. Membuat Ara semakin canggung. “Haloo Mbak!! Aduh...cantik sekali, kenalin yaa Mbak aku temannya Kang Adam dulu waktu mondok, sekaligus sekarang jadi istrinya Mas Jo. Namaku Ningsih.” “Oh iya Ningsih, saya Ara.” Ningsih pun membawa Ara ke dalam pelukannya kemudian tersenyum ramah. “Ayoo mbak ara, kita masuk.. aku sama yang lain lagi nyiapin sarapan di dalam.” Tangan Ara ditarik oleh Ningsih, ia terlihat bingung. ia kemudian menatap Adam seolah meminta bantuan. Tapi Adam malah mengangguk seolah menyuruh Ara untuk menurut pada Ningsih. “Kang Adam aku bawa ya Mbak Aranya, pean jangan kangen!!” ujar Ningsih. “Iya, jangan ampek lecet loh yaa.” “Waduh, siaaap boss.” Rumah penginapan itu memang sangat sederhana, tapi terlihat sangat nyaman. Semakin masuk ke dalam, ternyata ruangannya semakin terasa lenggang. Ara yang kini mengikuti Ningsih masuk ke dalam rumah pun bisa merasakannya. Udara sejuk dari jendela lebar di dinding kiri menyeruak ke dalam rumah, seketika hati Ara menjadi nyaman. Sekalipun dia berada di lingkungan baru, tempat baru, dan baru mengenal orang baru, ia seperti berada di tengah-tengah keluarga. Apalagi ketika berkenalan dengan dua perempuan lain yang ternyata istri Misbah dan Dani. “Kenalin ya Mbak Ara, aku Aida.” Ujar Aida yang merupakan istri Misbah. Aida terlihat sangat anggun, apalagi dengan kerudung panjang yang menutupi dadanya. “Kalau aku Novi ya raa!!” kata Novi yang merupakan istri Dani. Setelah sesi perkenalan, mereka pun menyuruh Ara bergabung di dapur. Mereka tengah menyiapkan sayur sop dan ikan perkedel kentang untuk menu sarapan pagi ini. “Katanya Kang Adam, Mbak Ara pinter masak. Benar kah?” tanya Aida yang kini duduk di samping Ara. Mereka tengah sibuk membulat-bulatkan adonan perkedel kentang. Sementara itu Novi dan Ningsih sibuk di depan kompor. Novi sibuk memasak nasi dan Ningsih memasak sayur sop. “Iya Ra bener ya? katanya adam juga kamu punya kafe dan restoran.” “Wah keren kamu Ra!” Ujar Ningsih dan Novi bergantian. Ara nggak tau kapan Adam punya kesempatan ngasih tau itu ke mereka, yang pasti dia senang karena uda dipamerin ke temen-temennya. Artinya Adam menganggap keberadaannya kan?  “Monggo mampir, nanti aku kasih gratis untuk pembelian pertama.” “Waah beneran ya Raaa!!” kata Novi dengan heboh, dia emang penggila gratisan. “Iyaa Novii, monggo dengan senang hati.” Kata Ara “Kafeku di deket malioboro. kalau kalian jalan-jalan ke malioboro mampir aja.” “Yauda, berati habis ini!!” kata Aida bersemangat. Membuat Ara jadi bingung. setaunya, habis ini mereka ke gunung kidul kan? kenapa malah ke malioboro? “Loh? Bukannya kita mau ngecamp di gunung kidul ya?” tanya Ara. “Iyaa Ra, kita emang mau ngecamp ke gunung kidul, tapi berangkat nanti siang. Habis sarapan, kita mau jalan-jalan ke Malioboro dulu.” jelas Ningsih. “Yauda, nanti aku usulin ke para suamii. Semoga aja mereka mau.” Kata Novi. “Iyaa. Tapi yang jelas Mbak Ara gpp kan kalau kita main ke kafenya?” Tanya Aida. Ara yang ditanyai sontak mengangguk cepat, “tentu aja gpp!” Membuat ketiga perempuan lain di dapur itu tersenyum lega. tampaknya setelah ini, Ara akan memiliki sahabat baru. Yaitu istri dari teman-teman Mas Adam. Yang sekalipun baru mengenal hari ini, sudah bersikap baik dan ramah pada Ara. Membuat ara merasa nyaman berada di antara mereka.  TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN