Toko kue Ara itu dekat dengan alun-alun kidul. Kami sempat mampir ke sana sebelum ke Alun-alun. Membeli beberapa kue dan roti. Ara juga memberi mereka sebuah gerbah cantik sebagai kenang-kenangan. Yang tentu saja itu membuat para istri senang. Mereka bahkan meminta nomor telepon Ara agar bisa terus menjaga tali silaturahmi. Aku senang melihat Ara bersikap baik pada teman-temanku dan melihatnya dekat dengan para istri empat pilar yang lain. Setidaknya keputusanku untuk menjadikannya istri tidaklah salah. Sekalipun hatiku selalu merasa bersalah padanya.
Suasana alun-alun sore itu ramai. Tidak hanya dipenuhi para wisatawan tapi juga penduduk lokal yang tengah menikmati suasana sore hari. Jalan-jalan sore di Alun-alun memang menyenangkan. Dulu ketika kecil bapak sering mengajakku dan adek ke sini. Makan rawon Bu srintil yang terkenal di dekat alun-alun kidul. Kemudian Adek akan minta beli mainan dan merengek menangis jika tidak dituruti. Sementara aku yang menjadi anak sulung, harus menjadi anak baik yang tidak banyak meminta. Ah, kenangan masa kecil itu lah yang membuat sudut kota Jogja terasa sangat spesial.
Ketika semua orang sibuk melakukan mitos melewati pohon beringin dengan mata tertutup, aku dan Ara hanya duduk sembari melihat mereka. Sesekali tertawa karena ada yang kesasar-sasar dan tidak berhasil melewati diantara pohon beringin itu. Yang paling aneh si Jonathan, dia malah berjalan berbalik arah. Temanku yang satu itu memang sedikit gesrek otaknya. Tak heran jika tidak bisa berjalan lurus. Dulu waktu di pondok, banyak sekali orang yang heran kenapa Jo masuk empat pillar. Mereka menganggap, Jo tak pantas ada diantara kami. Padahal, Jo bagaikan batang. Dia lah yang menyambung kan aku, Misbah dan Dani. Andaikan tidak ada Jo, mungkin tidak ada empat pilar sampai sekarang.
"Mas mau?" Ara menyodorkan sepiring pentol tusuk lengkap dengan saos dan kecap. Jajanan yang paling terkenal di alun-alun kidul adalah pentol, beberapa waktu lalu bahkan ada pentol di sini yang sempat viral.
Dan dari dulu aku tak seberapa suka makan pentol, apalagi perutku sekarang masih penuh. Aku pun menggeleng, "nggak Ra, makasih." Kataku.
Ara mengangguk mengerti, ia pun menikmati sepiring pentol itu sendiri. Memakannya dengan lahap sampai pipinya membulat karena mulutnya dipenuhi pentol. Lucu sekali. Aku sempat tersenyum singkat melihatnya. Namun ketika sadar dengan apa yang aku lakukan, aku segera memasang wajah datar.
"Temen-temen mas seru-seru yaa? Pasti asik banget dulu bisa mondok bareng mereka." Kata Ara.
Matanya masih menatap ke arah teman-temanku.
Aku tersenyum, mengangguk setuju. Benar, zaman mondokku dulu memang sangat seru. Sekalipun banyak sekali cobaan, penderitaan yang harus aku rasakan, tapi itu semua bisa dengan mudah aku jalani karena ada mereka.
"Betul Ra," Jawabku.
Ara menatapku, kulirik dia dari sudut mata. "Mas besok kalau punya anak dimasukin pondok juga?"
Pertanyaan yang tak pernah terlintas di benak ku. Aku terdiam sebentar, memikirkan pertanyaan itu.
Jika aku punya anak apakah aku juga akan memasukkan dia ke pondok seperti Bapak memasukkan anak-anaknya?
Ah, aku bahkan belum berpikir akan memiliki seorang anak.
Tidak, lebih tepatnya aku tidak pernah berpikir untuk memiliki seorang anak dengan Ara. Selama ini aku hanya berpikir Ara menggantikan sosok 'dia' untuk bersanding denganku di pelaminan. Tidak lebih dari itu.
Terdengar sangat jahat, tapi itu realitanya.
Ketika aku dan 'dia' tidak mungkin bersatu, dan keadaanku sudah mengharuskan aku untuk memiliki seorang istri, Bunda menyebutkan nama Ara. Teman masa kecilku yang aku lupa wajahnya. Hingga kemudian Bunda memperlihatkan ku fotonya dan aku pun langsung mengiyakan. Alasannya simple, karena Ara cantik seperti 'dia'.
Kepribadian dan kerja keras Ara, menjadi faktor lain kenapa aku memilih Ara menjadi pengganti 'dia'. Hal itu aku lihat setelah beberapa kali bertemu dengannya. Apalagi ketika kami ke taman sari. Aku bisa melihat Ara sudah jatuh cinta padaku. Dan itu akan mempermudah semuanya. Dan benarkan? Tanpa meminta penjelasan kenapa aku menikahinya, Ara sudah mau menikah denganku. Saat ini aku tak memikirkan sampai kapan Ara akan menggantikan 'dia'. Yang aku pikirkan hanya satu, menikah dengan siapapun itu.
"Ciyee berduaan terus ya gue lihat!" Jo menghampiri kami berdua.
Ucapan Jo itu, aku anggap angin lalu yang tidak penting. Namun lain halnya dengan Ara. Wajahnya kini merah merona.
"Ra, kamu tadi dipanggil Ningsih tuh!" Kata Jo, setelah duduk di sampingku.
"Ngapain?"
"Gatau Ra, kayaknya dia mau ngajak kamu cari kuliner di deket sini deh!" Kata Jo lagi.
Itu pasti bohong. Jika memang ningsih mau mencari kuliner, dia pasti akan mengajak Jonathan. Kenapa dia harus mengajak Araaa? Lagian Jonathan sudah sering kok datang ke sini, dia tidak Buta-buta amat tentang Jogja.
Aku pun mulai curiga ada apa gerangan sampai Jo menyuruh Ara pergi dari sini. Pasti ada sesuatu hal penting yang ingin dia katakan.
Setelah merapikan bajunya yang sejak tadi ia gunakan untuk duduk, Ara membawa piring yang habis dan beranjak dari duduknya. Sebelum menuju ke tempat ningsih berada, Ara ke penjual Pentol untuk mengembalikan piring itu. Aku menatap setiap gerak gerik nya dari jauh. Entahlah, mataku seolah tak bisa lepas dari sosok Ara.
"Bro," Jo menyenggol bahu kananku dengan bahu kirinya.
"Hm.." Sautku.
"Gue mau nanya serius."
Aku melirik Jo yang terlihat sangat serius. Sebelumnya aku jarang melihatnya seserius ini. Terakhir kali aku melihat Jo serius, ketika dia berhasil menikahi Ningsih enam bulan yang lalu.
"Apaa?" Tanyaku penasaran.
"Lo beneran mau nikah sama Ara?" Pertanyaan Jo itu membuatku tertawa kecil.
Sudah kupastikan pasti Jo disampingku sudah memasang raut wajah kesal. Salah sendiri, pertanyaannya itu terlalu lucu.
"Kok lo ketawa si? Gue sama empat pilar yang lain beneran penasaran cok! Lo malah ketawa!" Kata Jo. Sekarang kata Cok yang terdengar dari mulut Jonathan tidak membuat kupingku gatal. Sudah nyaman dan terdengar fasih. Beda ketika dulu, ketika awal-awal mondok. Jo yang dari jakarta, dengan logatnya yang sangat berbeda dengan orang jawa, mendengarnya mengucapkan kata Cok membuatku ingin membungkamnya. Karena kata Cok seolah tak pas ketika keluar dari mulut Jo.
"Beneran lah Joo, Bunda uda pesen gedung buat nikahan. Pokoknya koen harus dateng, entar aku kirim seragam buat kalian bertiga. Lengkap deh sama istri. Masalah transportasi dan tempat tinggal juga entar aku yang tanggung. Pokoknya kalian bertiga harus dateng." Kataku.
"Dam, lo nggak lagi bercanda kan?"
"Emang aku ketawa ta Jo? Nggak kan?"
Jo terlihat bingung, dia pun diam sebentar. Di kepalanya kini ia sibuk menyusun kalimat-kalimat agar bisa menyampaikan maksud dari hatinya.
Adam pun tidak berniat memecahkan keheningan, membuat diantara mereka hanya ada sepi. Mata Adam kini sibuk mencari sosok Ara yang tadi pergi ke tepi alun-alun bersama Ningsih.
"Dam, lo jangan mainin hatinya Ara. Dia terlalu baik Dam." Kata Jo.
Aku tidak berniat mengatakan apapun. Apa yang dikatakan Jo itu benar-benar terdengar jahat. Di sini, aku tidak mempermainkan hati siapapun. Sejak awal aku sudah bertanya pada Ara dan dia bilang dengan mulutnya sendiri jika dia mau menikah denganku.
"Gue tau, lo masih cinta banget sama Ning Kia, tapi nggak gini caranya Dam."
Ah, setelah aku menghindari menyebut nama 'dia' karena takut semakin tidak bisa melupakannya, si Jo malah mengatakan itu tanpa merasa bersalah.
Kia..
Syauqiah Nur Salma, nama yang cantik secantik wajahnya. Seketika rasa rindu itu menyeruap ke dalam d**a. Sudah lama aku tak melihat fotonya. Melihat senyuman manis yang membuat jantungku berdetak sangat cepat.
"Dam, lo harus selesain masalah perasaan lo sama Ning Kiaa! Sebelum lo membuka lembaran baru dengan Ara."
"Apa yang harus diselesaiin sii Jo? Sejak awal aku nggak pernah memulai apapun dengan Kia."
"Iya gue tauu, tapi apa yang lo lakuin ini juga nggak bener joo! Sama aja lo bohongin Araa!"
"Jonathan dengerin aku, perasaanku ke Ning Kia nggak akan bisa berubah. Dia akan selamanya ada di sini, di hatiku." Kataku mantap. "Dan urusan pernikahan ini, aku rasa aku tidak melakukan kesalahan. Aku benar-benar ingin menjadikan Kia istriku, sekalipun aku tidak mencintainya. Tapi aku akan tetap memperlakukannya selayaknya seorang istri. Memberikan hak-haknya dan melakukan kewajibanku sebagai seorang suami."
"Gendeng koen, pernikahan bukan mainan Dam!"
"Uda tah aku Jo, aku nggak main-main kok."
"Sumpah Ara pasti kecewa kalau tau."
"Dia kecewa karena ekspektasi nya sendiri. Selama ini aku nggak pernah kok janjiin dia apa-apa. Aku nggak pernah juga bilang akan memberikan hatiku padanya. Aku hanya bilang ingin menikah dengannya, dan tidak lebih dari itu."
Jo menghembuskan nafas panjang. Dia menatapku dengan tatapan kesal namun kemudian menepuk bahuku. "Terserah koen ae lah Dam, tak dunggakno uripmu seneng dan ga sedih mane." (Terserah kamu Dam, saya Do'akan hidupmu bahagia dan tidak sedih lagi).
Aku mengangguk, sembari tersenyum miring. Doa Jo itu terlalu tidak mungkin. Apa katanya? Bahagiaa? Setelah tau istriku bukan Ning Kia, akun sudah bisa menebak hari-hariku setelahnya. Yang tidak akan merasakan bahagia karena bagiku bahagiaku adalah dia.
Tbc
Jahat banget adam! :(
Xx, muffnr