sama(4)

2023 Kata
Ara ingin berteriak pada dunia jika dia bahagia. Dia ingin menunjukkan pada semua orang jika dia tengah hidup di mimpi yang menjadi kenyataan. Dia tidak menyangka perasaannya waktu kecil bisa kembali lagi memenuhi hatinya. Atau sebenarnya perasaan itu tidak pergi ke mana-mana? Selama ini Ara saja yang sibuk pergi mencari, tanpa menyadari di dalam hatinya masih tersisa perasaan yang belum selesai. Dan bisa Ara pastikan, perasaan itu semakin besar sekarang. Karena sejak mendengar namanya disebut oleh Adam dalam sebuah kalimat ijab qabul, disaat itulah hati Ara jatuh semakin dalam padanya. Pada pesona Adam yang selalu membuatnya jatuh. Maka tidak heran jika hanya dengan memandang wajah Adam seperti sekarang saja sudah membuat hati Ara penuh dengan kebahagiaan. Jarum jam menunjukkan angka tiga ketika Ara terbangun dari tidur. Sudah menjadi kebiasaan Ara bangun pagi-pagi buta, sebab itu kebiasaan itu tidak bisa ia hilangkan sekalipun sudah menikah. Dulu ketika masih lajang dan terbangun di tengah malam, Ara langsung mencari ponsel sembari mengumpulkan niat untuk pergi ke kamar mandi. Namun sekarang lain lagi. Ara tidak mencari keberadaan ponselnya, ia bahkan tak penasaran sama sekali dengan notifikasi apa yang ia dapatkan. Yang ada di pikirannya ketika membuka mata hanya Adam. Karena wajah lelaki itu yang pertama kali ia lihat ketika membuka mata. Ah..Ara masih sulit percaya lelaki yang sedang tertidur pulas di hadapannya itu sudah menjadi suaminya. Sungguh Ara beruntung sekali karena mendapatkan lelaki setampan Adam. Selain tampan, Adam juga lelaki shalih, sopan, berilmu dan pekerja keras. Sekalipun akhir-akhir ini sikap adam membuat Ara kecewa, bagi perempuan itu di matanya Adam masih sosok yang sempurna untuk dijadikan suami. Tapi...apakah Ara pantas menjadi istri Adam? Tiba-tiba saja perasaan tidak percaya diri memenuhi relung hati Ara. "Mas.." Ara berniat membangunkan Adam untuk melakukan shalat malam bersama. "Mas Adam.." Suara Ara terdengar sangat lembut di telinga Adam. Membuat tidur Adam yang sejak tadi pulas pun terganggu. osisinya. "Mas Adam bangun," kata Ara lagi. Adam pun dengan keadaan setengah sadar membuka matanya. Sosok Ara dengan jarak yang cukup dekat adalah yang pertama kali Adam lihat. Ia kemudian menggeliatkan tubuh dan mencoba mengambil alih nyawanya. "Iya Ra, kenapa?" Suara Adam parau dan itu terdengar sangat menyenangkan bagi Ara. Ara tersenyum, "mas mau shalat malam nggak? Kalau mau, ayo kita jamaah." Mendengar jawaban Ara, Adam terpejam sebentar. Hingga kemudian mengangguk tanda mengiyakan ajakan Ara. Ara pun segera bangun dari posisinya, "Ara ambil wudhu dulu." Jujur ini juga salah satu impian Ara. Shalat malam dengan kekasih halalnya. Menghadap Allah di sepertiga malam yang katanya waktu mustajabah—dimana setiap doa yang diucapkan pasti terwujud. Selepas mengambil wudhu, Ara dan Adam pun melakukan shalat bersama. Rasanya berbeda sekali dengan shalat sendirian. Ada perasaan haru yang menjalar ke dalam diri Ara ketika setiap gerakannya di pimpin oleh Adam. Usai shalat, Ara mengaminkan setiap doa yang diucapkan Adam. Ia pun turut berdoa dalam hati. Do'anya malam ini, semoga pernikahan mereka selalu dilimpahkan keberkahan. Dia juga memohon pada Allah semoga dia bisa bersama Adam selamanya. Agar rasa bahagianya tidak mengenal kata kadaluarsa. "Makasi ya Mas," Ujar Ara selepas mencium tangan Adam. "Makasi buat apa?" "Makasi mas uda mewujudkan salah satu mimpiku. Bisa melakukan shalat tahajud dengan suami adalah salah satu harapanku selama ini." Adam tersenyum singkat, kemudian mengangguk. "Mas yang harusnya makasih, kalau nggak karena kamu mungkin mas nggak shalat tahajud pagi ini." "Besok mau dibangunin tahajud lagi?" "Boleh," Kata Adam dengan cepat. Sekalipun belum mandi, Adam tetap terlihat tampan. Ara melirik sosok Adam sekilas sebelum melanjutkan kegiatannya "Kamu rutin shalat tahajud?" Tanya Adam sembari menatap Ara yang sedang berada di area almari. Entah apa yang perempuan itu cari. "Iya mas, tahajud amalan yang istiqamah yang selalu aku lakukan beberapa tahun terakhir." Kata Ara. Oh, ternyata sejak tadi dia sibuk mencari selimut. Karena di tangannya itu kini ada selimut berwarna merah. Mungkin selimut itu dibawa Ara dari rumahnya. sembari membawa selimut itu, Ara menaiki tempat tidur mereka. Duduk di samping Adam. Di tangannya yang lain juga membawa ponselnya. Kurang satu jam lagi adzan subuh terdengar, jadi dia memutuskan untuk berselancar di dunia maya sembari mengecek i********: kafe dan toko kuenya. "Aku pernah denger ceramah seorang ustadz, katanya kita harus punya satu amalan yang dilakukan istiqamah. Siapa tau amalan itu yang bikin kita terlihat sepesial di mata Allah." Kata Ara sembari sibuk menatap ponselnya. Ara memang selalu merasa haus akan ilmu agama. Dia merasa hidup di dunia ini tidak ada gunanya jika tidak menjadi hamba Allah sepenuhnya. Sebab itu, sekalipun bukan lulusan pondok, Ara cukup religius. Satu minggu sekali dia selalu mengikuti pengajian di dekat rumah bersama ibu-ibu majlis taklim. Jika tidak bisa hadir, Ara akan ganti dengan melakukan pengajian online dengan melihat kanal youtube yang menyediakan cermah dengan guru yang terpercaya. Dan harapan Ara setelah menikah dengan Adam adalah dia bisa lebih mendalami agama tanpa melihat kanal YouTube lagi. Harapan Ara, Adam yang akan membimbingnya untuk lebih mengenal agamanya sendiri. Sehingga bisa menjadi muslim yang lebih taat dari sekarang. "Keren kamu ra," Ucap Adam dengan senyum manisnya. Ara sontak menoleh ke samping, menatap Adam dengan tatapan bingung. "Keren kenapa mas?" "Ya keren aja punya amalan sendiri, shalat tahajud lagi. Ga semua orang bisa kayak kamu." Puji Adam dengan menatap Ara lembut. Mendengar itu tentu saja membuat Ara senang, ia juga malu karena dipuji Adam. "Ara masih punya banyak dosa mas." "Semua umat manusia di dunia ini punya banyak dosa Ra, yang jadi pembeda, kita mau meminta maaf dengan tulus atau tidak kepada Allah. Mas dulu pernah denger kata guru mas, katanya orang yang shalat tahajud itu orang-orang pilihan. Karena tidak semua orang mau bangun disaat sedang enak-enaknya tidur. Dan mas rasa, kamu salah satunya." Ara tersenyum, kemudian mengangguk. "Amin Mas." Adam mengelus kepala Ara, kemudian mendekat dan mencium puncak kepalanya. Jantung Ara sontak berdegub dengan kencang. "Mas tidur dulu, nanti aku bangunin kalau uda masuk subuh." "Makasi Ra," Kata Adam sebelum merebahkan dirinya dan memejamkan mata. Inilah kehidupan pernikahan yang diharapkan Ara. Ternyata, Adam suami yang baik. Dia bisa memenuhi ekspektasi Ara selama ini. Benar saja, beberapa hari yang lalu pikiran Adam mungkin masih kalut dengan kematian Bapak. Karena siapapun orangnya, pasti akan merasa hancur ketika melihat salah satu orang tuanya tiada. tbc Zara POV "Life goes on.." ------------------- Malam ini aku dan Mas Adam tidur di rumah Bunda. Makan malam bersama Bunda berjalan lancar, sekalipun dadaku masih terasa sesak karena Mas Adam. Meja makan itu terasa hangat. Semua karena keramahan keluarga Mas Adam. Adik-adiknya yang baru aku kenal kemarin dan ada Bu dhe Mas Adam yang sejak Bapak meninggal tinggal di rumah ini untuk menemani Bunda. Sebenarnya berada di tengah-tengah keluarga Baskara adalah hal yang sempurna. Semua orang di keluarga ini penuh kasih sayang dan ramah padaku, hanya saja anak pertama keluarga Baskara yang merupakan suamiku itu menyebalkan sekali. Setelah insiden marah dan menangis di pelukannya aku masih enggan melihat wajahnya. Sekalipun saat ini kami berada di kamar yang sama dan hanya berdua. "Ara, mau mandi dulu?" Tanya mas Adam. Aku menggeleng, sembari menghembuskan nafas kesal. Teringat kejadian kemarin malam saat aku semangat mandi dan membayangkan malam pertama. Tapi ternyata... Ah! Aku tidak mau mengingatnya lagi! Hatiku masih sakit. "Mas mandi dulu," Katanya lagi. Dan selang beberapa menit, kudengar pintu kamar mandi tertutup. Pintar sekali Adam. Di saat aku tidak marah, dia bersikap cuek seolah aku tak ada. Di saat aku marah seperti ini, dia mengajakku bicara lebih dulu. Bahkan mandi saja dia bilang padaku. Kemarin-kemarin kenapa ga gituu bosss? Baru punya mulut ya? Stresss, aku merasa stress sekarang! Pernikahan yang ku impikan kenapa tidak berjalan lancar? Apa aku menikahi orang yang salah? Tapi ini Mas Adam loh. Seseorang yang kusukai sejak dulu. Tetangga sebelah rumah yang sejak aku kecil sudah mencuri perhatianku. Yang tanpaku ketahui memiliki sifat b******k seperti ini. Memang betul ya, kita tidak boleh menilai orang hanya dengan latar belakangnya. Mas Adam yang uda mondok bertahun-tahun aja nggak jamin bisa jadi suami yang baik. Atau ini terlalu awal untuk mengecap Mas Adam bukan suami yang baik mengingat aku dan dia baru menikah tiga hari yang lalu? Ahhh, aku tak tau. Kepalaku rasanya ingin pecah memikirkan fakta yang baru kuketahui hari ini. Satu, Mas Adam membohongiku. Dua, Mas Adam meninggalkan rumah semalam karena tak ingin serumah denganku. Ketiga, Mas Adam tidak menghargaiku sebagai istrinya. Tiga fakta ini yang membuatku merasa terganggu dan kecewa pada Mas Adam. Ketika aku hanya berguling ke sana kemari di atas kasur, dengan mata terpejam dan pikiran yang jalan kemana-mana, ku dengar sisi lain dari kasur berbunyi. Ada seseorang yang merebahkan tubuhnya di sampingku. Yang sudah pasti kutebak itu Mas Adam. Sontak saja aku tidak berani berkutik, mataku pun tidak berani membuka. Karena bisa dipastikan, sosok pertama kali yang kutatap ketika membuka mata adalah Mas Adam. "Ra," Suaranya pelan, tapi terdengar seperti bom di telingaku. Astaga..benar-benar ya Adam ini?? Kenapa dia memanggil namakuuu???? Apa Adam yang dua bulan aku kenal kini kembali lagii?????? Aku tidak berani menyaut, tetap berada di posisi semula dan pura-pura tidur. "Aku tau kamu belum tidur Ra," katanya. Bisa kurasakan hembusan nafasnya di tubuhku. Apa posisi kami sekarang sangat dekat??? Aku semakin takut untuk membuka mata. Takut ketika membuka mata dan jantungku tidak baik-baik saja. "Ra, maafin aku." Andai aku bisa menghilangkan kata di bumi ini, aku ingin menghilangkan kata Maaf! Kesal sekali rasanya mendengar kata itu dari mulut Adam. Sebelumnya aku kesal karena tidak tau kesalahan Mas Adam apa, sampai-sampai harus minta maaf. Kali ini aku kesal karena aku tau sakit hatiku tidak hilang hanya dengan kata itu. "Ra, maaf kalau dua hari ini buat kamu nggak nyaman." Nyadar juga dia. "Maaf kalau sikapku uda nyakitin kamu." Suasana hatiku mendadak berubah. Mas Adam kamu kenapa sih? Kamu kenapa pekek minta maaf segala?? Aku lemah, getaran suara Mas Adam yang terdengar menyedihkan itu seolah menggoyahkan hatiku. "Dua hari ini aku uda kayak orang linglung Ra, semuanya masih seperti mimpi. Kehilangan Bapak adalah satu fakta yang sampai saat ini masih sulit kuterima. Aku masi ga percaya bapak nggak ada di dunia ini lagi.." Aku sontak membuka mataku. Kulihat Mas Adam sudah meneteskan air matanya. Jarak kami yang begitu dekat, membuatku mudah untuk mengusap pipinya. "Mas.." Entah kemana perginya rasa kesal ku. Yang ada hanya rasa kasihan yang menjalar dalam hati. Melihat Mas Adam membuatku tak tega. "Maafin aku raa," Ia menatapku dalam. Kulihat ketulusan di matanya. Aku pun mengangguk dan membawanya ke dalam pelukan. "Maafin Ara juga, mas." Kataku sembari mengeratkan pelukan diantara kami. Kuhirup dalam dalam aroma tubuh Mas Adam yang membuat hatiku tenang. Tampaknya aku yang salah faham. Mas Adam tak seburuk yang kukira. Atau selama ini aku yang kurang pengertian?? "Mas besok mau makan apa? Ara masikin!" Kataku sembari mengelus pipinya dan menghapus jejak sisa air mata yang ada di wajahnya. "Nasi cumi bakar kamu kemarin enak banget Ra," "Beneran enak? Bukan enak yang karena laper?" "Enggak, beneran enak kok." "Yauda besok Ara masakin itu." "Makasih Ra.." "Sama-sama Mas, maafin Ara yang uda mikir jahat tentang Mas Adam." "Gpp." Mata kami saling menatap, dan kami saling tersenyum. Astaga..Mas Adam ganteng banget malam ini..rasanya aku ingin mencubit pipinya. Tatapanku jatuh pada bibir Mas Adam. Teringat semalam bibir itu mencium setiap inci wajahku. Ah— Aku sontak mengalihkan tatapanku. Jantungku berdebar sangat kencang membayangkan kegiatan kami semalam. Dan aku semakin dibuat gila karena tiba-tiba saja bibirku menghangat. Mas Adam menciumku lembut, lama hingga kami berdua merasakan desakan gairah yang tak bisa ditahan lagi. Setelah puas mencium bibirku, mas Adam menatapku dalam. "Pelan-pelan ya Ra, aku masih butuh waktu." Katanya sembari mengusap pipiku. Ya..aku akan menunggu sampai Mas Adam siap. "Ya mas." "Aku masih butuh waktu untuk healing kematian Bapak." Aku mengangguk, mencoba mengerti apa yang Mas Adam rasakan saat ini. Pasti berat. Mungkin dia ingin menyembuhkan luka kepergian Bapak sendirian. "Ya Mas." Dan malam itu, kami tertidur saling berpelukan. Melepaskan segala masalah yang ada diantara kita. Aku ingin menarik perkataanku yang bilang Mas Adam bukan suami yang baik. Mungkin kemarin hanya trial yang tidak tepat. Aku ingin memberi Mas Adam kesempatan. Apa yang terjadi diantara kami, hingga titik ini adalah karena semesta. Jadi bagaimana pun ke depannya aku hanya bisa berpasrah. Untuk sekarang aku ingin menikmati setiap waktu menjadi istri Mas Adam. Tbc, Xx, muffnr Apakah ada yg baca cerita ini? Yg baca coba komen dong:( Terima kasih
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN