-Rumah orang tua Anjarani. Malang, Jawa Timur- “Pah, kok perasaan Mamah gak enak ya? Tiba-tiba kepikiran Rani terus.” Ucap seorang ibu berusia hampir kepala lima itu meremas tangannya khawatir. Diana Mahardian, ibu dengan dua orang anak yang tampak gelisah berjalan mondar mandiri di belakang sofa. Raut wajahnya yang sudah sedikit menua dengan lingkar mata yang sedikit menghitam. Diana menghela nafasnya sambil terus berdoa untuk putrinya yang sedang ia khawatirkan. “Percayakan Rani sama Feri mah. Berdoa saja selalu untuk kesehatan dan keselamatan Rani disana.” Lantuan suara berat Bona, suaminya tidak menenangkan hatinya sama sekali. Sejak kepergian Anjarani kembali ke Balikpapan untuk bersekolah disana, rumah terasa begitu hampa. Biasanya ia selalu bersama putrinya itu di ruang tengah s

