Hafizh tidak akan bisa tidur jika pikirannya tidak tenang. Dan sekarang, pikirannya jauh dari kata tenang, membuat matanya terbuka lebar tanpa ada sebersit rasa kantuk sedikitpun. Di genggamannya, terselip ponsel miliknya yang tidak berniat ia lepaskan sedikitpun, berharap ada kabar baik tentang seseorang yang sedang menghilang. Namun, Hafizh tidak akan tahan jika hanya diam, dan menunggu, tanpa melakukan apapun. Maka dari itu, sekarang ia sudah keluar dari apartemennya, dengan sekaleng kopi di tangannya yang tidak menggenggam ponsel. Ia berjalan menuju atap gedung apartemen, tempat dimana biasanya ia tuju ketika ia sedang menginginkan ketenangan untuk berkonsentrasi. Dan Hafizh sedang butuh berkonsentrasi karena dirinya harus berpikir, sebelum bertindak untuk bergerak mencari gadis yan

