212021

1206 Kata

"Adil, bukan artinya saya mau mampir ke ranjangmu, Ajeng. Adil itu luas maknanya." "Siapa yang mikir ke sana juga Pak? Saya enggak ya!" Ajeng meninggikan suaranya. Dalam hatinya, dia mengumpat Panji yang sebenarnya tak salah juga kalau menyangka Ajeng berpikir begitu. Ajeng sendiri sebal pada dirinya karena sempat berpikir ke sana. Geli rasanya memikirkan otaknya yang nhista ini. "Ayo kita ke apartemen. Sudah semakin larut. Kasihan janin di kandunganmu." "Pak, saya pulang ke rumah keluarga Pradana saja. Saya nggak mau ke apartemen." "Mama sudah menyuruhku untuk memindahkanmu ke apartemen semalam. Dia juga sudah bilang padamu langsung kan? Kamu lupa?" Yah, Ajeng tak pernah lupa tadi juga saat dia bekerja dia terus berpikir alasan yang tepat supaya dia tidak pindah ke apartemen malam i

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN