"Mel, sini lo sini," panggil Anin histeris lantas langsung menarik pergelangan tanganku untuk masuk ke ruangan Nathan. Nathan yang terlihat baru datang langsung meletakkan tas laptop dan ikut mendelik ke arahku. "Kalian kenapa sih?" "Elo yang kenapa?" sahut Nathan sembari menyilangkan tangan di depan d**a saat duduk ujung meja kerjanya. Aku menautkan kedua alis. "Gue nggak kenapa-napa kok," "Kabar tentang lo berantem sama Raisa dan Nela kemaren sore itu bener?" Aku mendebas napas panjang. Ternyata karena kejadian kemarin sore. Anin memang sedang ada meeting di luar kantor, sedangkan Nathan sibuk meliput event writers expo di PIK. Jadi wajar saja kalau mereka berdua tak tahu menahu perihal kejadian sehari lalu. "Oh itu?" jawabku mendesah malas. "Gitu doang tanggapan lo?" kejar Anin m

