1. Minggu Yang Berbeda

722 Kata
Prolog ~~~~~~ Minggu pagi yang cerah. Jalanan masih lengang dan sepi. Udara dingin berembus menyegarkan rongga d**a siapapun yang menghidunya. Teeeeennng...! teng...teng .... Denting lonceng di sebuah Gereja terdengar lantang dan nyaring.  Pertanda akan waktu ibadat telah dimulai. Pemuda berbadan tinggi dan tegap itu memasuki katedral dengan senyumannya. Menyapa para pembantu pastor di gereja yang terletak di salah satu sudut ibukota itu. Lonceng terus menggemakan dentangnya dan semakin lama semakin melemah hingga suasana menjadi diam sunyi dengan sendirinya. Pemuda itu duduk bersidekap di depan altar. Matanya terpejam saat hatinya mengkutbahkan doa. Detik berikutnya suasana menjadi riuh dan ramai saat Romo Pasteur mulai memimpin  menyanyikan Madah Kemuliaan diikuti oleh seluruh jemaat yang hadir. Misa hari minggu yang tak akan pernah terlewatkan oleh Daniel. Bangun sepagi mungkin untuk mengikuti Misa minggu pagi dan tepat saat Misa dimulai ia sudah harus berada disana. "Hai Dan, lo emang yang paling rajin ya." gadis manis berlesung pipit datang menghampiri Daniel dengan napas ngos-ngosan seakan baru berlari ratusan kilo. "Telat lagi Di," gadis yang dipanggil 'Di' itu hanya menganggukan kepala sebelum mengambil tempat di sebelah Daniel dan memulai doanya dengan khidmat. Diana sama seperti Daniel, keduanya  aktif dalam kegiatan Gereja. Daniel dan Diana adalah salah satu anggota lektor-lektris. Tugas seorang lektor dan lektris biasanya merekalah yang membacakan Kitab Suci ataupun sabda-sabda di depan mimbar. Minggu pagi dengan segala suka citanya, minggu yang menjadi hari paling menyenangkan untuk seorang Daniel kala bisa berkumpul di tengah jemaat yang sudah seperti keluarga kedua baginya. ><< Syahdan di tempat lain .... Minggu pagi cerah selalu menjadi hari yang mendamaikan bagi gadis manis bermata teduh serta bertubuh mungil dalam balutan gamis dan heejabnya. Hari minggu adalah harinya keluarga. Di mana semua anggotanya akan berada di rumah menikmati waktu kebersamaan. "Assalamualaikum Ummi, masak apa Mi. Zahra bantu ya," ujar gadis itu. Sambutan dengan seulas senyum dari perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik kala sedang berkutat di dapur dengan masakannya. "Wa'alaikumsalam Sayang, yang lain mana Nak,?" "Kalau Abi lagi baca koran di ruang tengah, kalau Bang Ezar kayaknya belum bangun Mi, memang kebo banget abang rese satu itu Mi kalau tidur kayak orang mati." "Eh, siapa yang kebo! Aku denger lho ya. Dasar adik durhaka," sahut pemuda tampan masih dengan rambut acak-acakan -- yang hanya mengenakan kaos dan boxer melekat di tubuhnya. "Hehe ... Ampun Abang Sayang, cuma becanda kok," cengir Zahra. "Lihat tuh Mi, masa abang yang gantengnya maksimal begini dikatain kayak kebo! Penghinaaan itu namanya," protes Ezar. Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya sepintas. Melihat tingkah putra-putrinya. Si kembar sekarang telah dewasa. Ezar dan Zahra sudah memasuki usia yang ke dua puluh lima tahun,  itu berarti pernikahannya dengan Faidh sang suami juga sudah memasuki tahun ke dua puluh enam, waktu berjalan sangat cepat,  tidak terasa sama sekali bagi Fatimah. Bangga rasanya bisa mengantarkan dua buah hati menuju gerbang kesuksesan. Si kembar telah berhasil menyeleseikan pendidikannya dengan baik dan membanggakan. Ezar sudah lulus S2 dengan gelar magister yang diambilnya di salah satu universitas negeri, sama seperti Zahra. "Abang sudah, jangan jail sama adiknya," timpal Fatimah pada putra sulungnya. Meski kembar, Ezar terlahir lebih dulu dari Zahra. Jarak mereka hanya tiga menit. "Tuh dengerin Bang!" sahut Zahra penuh kemenangan merasa dibela oleh umminya. "Zahra juga, nggak boleh mengganggu abangnya, apalagi ngatain kayak kebo," peringat sang ummi. "Tuh dengerin juga, bocah kecil!" "Bukan bocah kecil lagi, Bang!" Zahra mencak-mencak. Mentang-mentang badannya mungil, Ezar selalu memanggilnya dengan sebutan bocah kecil. "Iya iya, yang sudah dewasa dan ada yang mau mengkhitbah," godaan Ezar sukses membuat kedua pipi Zahra bersemu merah. Masih tidak percaya rasanya jika sebentar lagi akan ada pemuda yang mengkhitbah dirinya. Pemuda yang sempat mengisi masa-masa kecilnya dulu. Yang selalu menghibur dan menjaganya, rasanya benar-benar di luar dugaan Zahra. Cinta memang tidak pernah memberi peringatan jika dia akan datang. Akan tetapi jodoh memang di luar nalar. Kadang orang terdekatmu malah yang bisa menjadi jodohmu. Dan sebelum waktu itu tiba, Zahra ingin menghabiskan minggu paginya di tengah-tengah keluarganya. Ayah seperti Faidh yang sangat memanjakannya. Ibu seperti Fatimah yang penuh cinta kasih. Dan Abang kembaran semata wayangnya yang meskipun jail tapi begitu sangat menyayangi Zahra. Minggu yang sama tapi dengan keadaan dan suka cita yang berbeda. Minggu milik Daniel yang penuh kedamaian saat berada diantara dentang lonceng katedral. Atau Minggu penuh tentram dan damai seperti Zahra saat berada di tengah luapan kasih sayang keluarganya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN