Aku tak ingin lebih lama melihat Hana bersama pria yang akhir - akhir ini membuatku repot dengan meminta banyak laporan itu. Segera aku berdiri dan menghampiri keduanya.
"Sayang," panggilku pada Hana. Tak perduli dia sedang bicara dengan siapa
"Hai, Mas." Hana menoleh ke arahku dengan senyum terkembang.
"Oh, jadi Andrian suami kamu." Pria itu menyebut namaku.
"Pagi, Pak Bima. Maaf Arga tidak memberitahu kalau ada manajer area yang akan datang." Aku mengulurkan tangan, harus tetap bersikap manis meski aku tak suka.
"Memang nggak direncanakan, kebetulan pas aku ada acara di sini saja." Pria itu menyambut uluran tanganku.
"Saling kenal?" tanyaku kemudian.
"Hana adik kelas waktu SMA." Pria itu langsung menyahut.
"Mas tahu? Mas Bima Ini idolanya anak cewek pas SMA, kapten basket." Hana menepuk lengan pria itu, lantas keduanya tertawa bersama. Apanya yang lucu?
"Nggak semua …." Bima menimpali ucapan Hana, pria itu melirik Hana. Aku tidak suka caranya menatap istriku.
"Pak Bima, kami permisi dulu. Mumpung bisa kumpul sama keluarga, mau nemenin anak - anak main sambil nunggu sarapan." Aku berpamitan sambil menarik tangan Hana dan menggenggamnya.
"Oh, iya. Silahkan." Bima mempersilahkan.
"Mas, Hana kesana dulu." Hana ikut berpamitan, Bima mengangguk dan tersenyum.
"Akrab banget," ucapku pada Hana.
"Iya."
"Iya apa?" tanyaku pada Hana.
"Iya … akrab. 'Kan temannya Bang Ifan juga." Hana memperjelas, Bang Ifan adalah kakak sepupu Hana.
"Mas, nggak suka." Aku langsung to the point.
"Cie … cie, cemburu ya?! Nyesek …???" Aku menoleh ke Hana, nada suaranya terdengar berbeda. Senyumnya juga terlihat getir.
"Itu tandanya, Mas cintanya cuma sama Hana. Makasih ya." Hana menoleh ke arahku, senyumnya berganti manis. Aku yang sekarang tersenyum getir.
Aku memaksakan senyumku, namun tak mampu memandang kembali binar mata Hana. Ada perasaan bersalah, karena selama ini telah menduakannya.
▪▪
Panitia meminta semua berkumpul, ada senam pagi. Aku tak melihat keberadaan Raya, mataku mengedar mencarinya.
"Mereka berteman?" Hana menunjuk ke suatu tempat. Tampak Raya dan Amalia salah satu staff gudang di kantor.
"Kurang tau," jawabku sambil menggeleng, rupanya Raya berdiri di belakang agak jauh dariku. Celana ketat dan kaos ketat lengan panjang semakin memperlihatkan lekuk tubuhnya. Kaos dengan potongan leher rendah itu tak mampu membungkus penuh aset yang Raya miliki. Aku menelan saliva, pasti bukan hanya aku saja.
"Seksi ya, yahud banget body-nya." Hana menyadari kalau aku tak melepas pandanganku dari Raya, dia menyindirku.
Hana terlihat menurunkan resleting jaket warna putih yang dia kenakan. Nampak dia mengenakan kaos yang berleher rendah juga. Meski tak sebesar milik Raya, Hana memiliki aset yang kencang. Aku bisa melihat sebagian saat resleting itu diturunkan.
"Apa - apaan?" Aku menaikkan kembali resleting jaket Hana.
"Kenapa? Mas suka kan? Lihat ginian."
"Jangan gila, mau kamu obral? Biar semua mata nikmatin tubuh kamu."
Hana terdiam, salahku juga tak bisa mengendalikan diri tadi. Sampai Hana menyadari perbuatanku.
"Maaf." Aku coba menenangkannya, tak nyaman juga kalau sampai karyawan lain menyadari pertengkaran kami. Tak ada jawaban dari Hana, dia mengalihkan fokus pada Al dan Luna.
Baru saja membaik, sudah ngambek lagi. Aku meraup wajah kasar, aku tak rela pria lain melihat Hana dengan tatapan berbeda. Tapi, aku tak bisa mengendalikan diri pada perempuan lain. Ketika, pria lain melihat Raya dengan m***m, aku biasa saja. Tapi, Hana … dadaku panas seketika. Jangan tanya kenapa, aku juga tak mengerti …
Sepanjang acara senam pagi, Hana mengabaikanku. Tapi, dia cukup bisa menempatkan diri. Hanya saat kami berdua dia cuek. Bila ada karyawan lain dia bersikap biasa. Sesekali melihat ke arah Raya yang juga melihat ke arahku. Dia juga memasang wajah masamnya.
•••
"Tau gini, mending di rumah." Aku berpapasan dengan Raya di jalan menuju toilet. Lebih tepatnya dia sengaja mengikutiku.
"Sudahlah, jangan marah seperti itu. Mas lagi banyak pikiran, mengertilah sedikit." Aku mencoba memberi Raya pengertian dan memintanya untuk bisa mengendalikan dirinya.
"Tapi, janji … nanti malam mas buat aku. Mas buat alasan apa kek … masak gitu aja nggak bisa. Raya kangen, Mas." Raya merajuk manja. "Mas, nggak kangen." Raya menggodaku dengan membusungkan dadanya. Aku menelan saliva ada yang mulai tergugah oleh ulah manja istri keduaku ini. Syahwatku …
"Iya, sudah sana. Nanti ada yang lihat," pintaku ke Raya.
Aku bergegas masuk ke kamar mandi, saat akan menutupnya terasa ada dorongan dari luar. Raya nekat masuk menyusulku, dan mengunci pintunya kemudian.
"Raya, jangan gila. Kita akan dalam masalah. Cepat keluar sebelum ada yang melihat." Aku mendekat ke arah pintu, Raya menutup pintu dengan tubuhnya.
"Ish, kenapa ketakutan gitu. Raya cuma mau di kiss aja, sama Mas." Raya tersenyum menggoda. Tapi, aku tidak tergoda. Ini gila, aku akan dalam masalah besar kalau sampai ada yang tahu.
"Iya, mas janji. Nanti malam mas kasih semua. Sekarang keluar dulu, atau Mas akan mendapat masalah." Aku bicara lirih.
"Ih, justru seru, Mas. Raya merasa tertantang …." Raya menarikku, tangannya merangkul leherku. Dengan cepat menekan tengkukku, bibir sensualnya membekap cepat bibirku. Antara takut ketahuan dan hasrat yang tersulut menjadi perpaduan yang tak bisa digambarkan.
Hanya saja, aku merasakan hal yang sama seperti semalam. Hanya hasratku saja yang tersulut, ada yang tetap tenang terdiam tanpa pergerakan. Ini tidak normal, hasratku terbakar tapi kenapa tak ada pergerakan.
"Mas, kenapa. Kayak nggak suka gitu?" tanya Raya. Dia sadar ketika frekuensiku mulai menurun.
"Ayolah, sudah ya. Kita lanjutkan nanti malam. Sekarang keluar dulu." Aku memohon pada Raya. Dengan bibir manyun dia bergeser dari depan pintu. Aku membuka pintu dan melihat keadaan luar. Untung tak ada siapa - siapa.
"Cepetan," perintahku ke Raya. Segera dia berjalan ke pintu dan keluar.
'Kritt'
Baru beberapa langkah Raya berjalan keluar dari kamar mandi, aku bahkan masih mengawasinya. Bima muncul dari balik pintu toilet sebelah ujung. Pandangannya mengarah ke Raya yang berjalan menjauh.
Sial …
Semoga dia tak tak curiga, kalau Raya baru keluar dari sini. Pandangan kami bertemu, darahku seakan berhenti mengalir. Aku segera menarik kepala masuk kembali kedalam kamar mandi. Bima terlihat curiga, terlihat dari matanya saat kami bertatap tadi.
Aku mengacak rambut, harusnya aku dengarkan Hana. Raya tak terduga, dia tak peduli dengan apapun. Justru merasa semakin tertantang dengan kondisi seperti sekarang.
Setelah beberapa saat, aku keluar juga dari kamar mandi. Tatapan Bima masih terlihat jelas dalam benakku.
"Pak, saya cari dari tadi. Ditunggu untuk memberi sambutan, dan juga membuka kegiatan pagi ini." Arga menghampiriku, yang sedang berjalan ke meja Hana dan Raya, yah kedua istriku duduk dalam satu meja.
"Sekarang?" tanyaku kemudian, Arga mengangguk.
Aku mengikuti langkah Arga, menuju ke depan. Melewati meja dimana Hana dan Raya duduk bersama Al serta Luna. Arga menyerahkan contekan untukku memberi sambutan.
Selesai memberi sambutan aku kembali ke meja. Baru saja akan duduk, Bima mendekat ke mejaku.
"Boleh gabung?" tanyanya kemudian. Suka atau tidak, karena urusan kerja dan juga kejadian tadi. Aku bersikap ramah kepadanya
"Silahkan!" Aku menjawab, Bima menarik kursi dan duduk di dekat Hana. Aku tidak suka. Hana tersenyum melihat ke arah Bima, dia senang sekali sepertinya.
Bersambung
•°•°•