“Aku baik-baik saja,” kata Zin, lalu ia menyuruh Eva untuk berbaring di sampingnya. Wangi gadis itu adalah obat alami untuk jiwanya. Masalah sakit yang lain, Zin tidak peduli. “Tetap saja, kau harus memberitahuku jika ingin pergi dalam kurun waktu lebih dari satu hari” Zin tak menjawab ia membiarkan Eva berdumal sesuai dengan keinginannya. “Jika kau ingin mati, kau harus mati di hadapanku,” ucap Eva dengan air mata yang tak lagi bisa dibendung. Zin jadi tertawa karena raungan Eva barusan. Sebegitu tersiksakah dirinya tanpa Zin. Akhirnya Zin memaksakan diri menghadap Eva. Sekali saja Eva merubah posisi ke Zin. Ia bisa masuk dalam dekapan hangat Zin. “Aku berjanji;” lirih Zin sambil mendekap dan mengelus rambut Eva yang ada di dadanya. Sesekali ia juga menciumi puncak kepala Eva. *** E

