Jejak Kedua puluh sembilan

1684 Kata

Anyir darah memenuhi ruangan ini. Waktu berlalu, tak ada satu pun suara yang bisa terdengar. Bahkan tikus-tikus nakal di dapur pun enggan mengeluarkan suara. Rumah yang biasanya selalu terasa hangat oleh canda tawa Eiji, hari ini untuk pertama kalinya terasa begitu hampa. Jika mengingat kembali beberapa hari ke belakang, Zin sempat memikirkan hal gila. Bagaimana jika sehari saja hidupnya tenang tanpa perlu terganggu oleh sikap sang adik yang selalu merengek padanya? Hari ini, saat ini juga. Zin menyesali pemikirannya itu. Bersama satu selimut putih yang langsung berubah warna ketika ia meletakkannya di atas tubuh gempal sang adik yang telah mendingin. Menutupi luka-luka mengerikan di tubuh Eiji, berharap dengan itu dia bisa menutupi sebuah kenyataan pahit bahwa adik laki-lakinya itu tak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN