"Papa pulang..!" seru Yogas ketika langkahnya bermuara di teras rumahnya sendiri. Pintu depan meringkik pelan, seperti ada yang menyibak dari dalam. Tapi siapa? Cepat-cepat Yogas lesatkan tangannya ke belakang, menyembunyikan tiga bungkus belanjaan di balik tubuhnya. Namun setelah ditunggu beberapa saat, tidak ada wajah yang menyembul dari balik pintu. Yogas pun beranjak masuk. Penasaran, kenapa tidak ada yang menyambutnya tapi pintu malah terbuka.
Saat membuka pintu, mendadak empat buah tangan mungil memeluk erat pinggangnya. Bibir Yogas tersenyum tipis, begitu pula dengan kedua anaknya yang masih belia. Walau tinggal di sebuah rumah mungil, mereka berempat hidup berpayungkan kebahagiaan. [ceritakan hidup polisi yang jujur, tidak kaya]
Seorang wanita 27 tahun datang merapat, memberi salam, membuka tangannya lebar-lebar menyambut kedatangan suaminya. Yogas tertegun sejenak. Matanya terus menilik satu demi satu wajah anggota keluarganya secara mendalam. Dia merasa hari ini adalah hembus detik terakhir memoar kebersamaan ini. Sebab esok pagi, rencana operasi 'Party in the Jail' akan mulai berjalan.
"Papa, apa itu?" tunjuk Ratu ke belakang tubuh ayahnya.
"Aku mau, aku mau! Itu pasti untukku..!" teriak Ratu ikut kegirangan.
Yogas melelehkan senyuman manis kepada kedua anaknya. Tangannya mengeluarkan berbungkus-bungkus belanjaan ke hadapan mereka bertiga. Di ruang tengah, Ratu yang tidak sabar lekas menyibak pemberian dari ayahnya. Mulutnya ternganga, ia terperanjat, sebuah barbie cantik menyapa ceria dirinya. Sementara anak pertama Yogas, Ratih, ikut memajang muka gembira karena dibelikan beberapa baju baru.
Salima menghampiri Yogas, yang duduk sambil memperhatikan kedua anaknya menyibak bingkisan. Dengan penasarannya, Salima juga membuka sebungkus belanjaan miliknya. Matanya mendelik kaget, suaminya membelikan benda berkilauan yang terlihat mahal. "Apa ada yang ulang tahun?" tanya Salima heran, sebab tidak biasanya Yogas pulang dengan menenteng belanjaan.
"Oh, tadi aku lewat mall. Kurasa aku harus membelikan barang kesukaan kalian." tukas Yogas cepat. Ia pegangi perutnya, sengaja mengalihkan benak Salima. "Aku lapar.."
"Tunggulah... masakan kesukaanmu sebentar lagi matang." balas Salima, lalu ia beringsut masuk ke dalam dapur.
Sambil menunggu masakan matang, Yogas bergeser menuju kamar kecilnya. Bangku di depan meja kamar ia duduki. Meja itu adalah tempat ia biasa menaruh laptop dan menulis berkas-berkas. Ia duduk merenung, batinnya mulai tersulut emosi. Dia bingung. Bagaimana keadaan rumah jika ia tinggalkan, bahkan bila ia mendadak menjadi seorang residivis? Bisakah canda tawa yang ia lihat di rumah ini akan padam?
"Maafkan aku Permana. Aku mengkhianatimu.." Yogas berucap dalam batin. Kertas di sudut meja dia raih, lalu dituliskannya surat yang menyatakan bahwa ia terlibat dalam secabik misi rahasia. Walau bagaimana juga, keluarganya harus tahu mengapa dia berganti lakon menjadi seorang penjahat.
Kepala Yogas menggeleng. Bukankah ini adalah resikonya sebagai seorang intel? Dia menggeleng lagi, mencoba menyingkirkan kelemahan diri. Kertas yang selesai ditulisi itu ia remas hingga menjadi bulat, tak jadi ia serahkan kepada keluarganya. Ini adalah misi rahasia, tidak boleh tersibak meski untuk anggota keluarganya sendiri.
Yogas angkat kaki dari kamarnya, hendak membuang kertas itu ke tempat sampah di depan ruang dapur. Salima mendadak mencuat dari dapur, menggemparkannya seketika.
"Apa itu?" tanya Salima memasang tampang curiga.
Yogas terbeliak. Bibir gemetarnya menepis kecurigaan Salima, "Oh, ini hanya kertas surat penilangan.." balasnya bersuara tenang, berusaha membangun kepercayaan diri agar tidak tambah dicurigai. Tanpa berpikir panjang, ia melempar kertas itu ke mulut tempat sampah. Membungkam sebuah bukti yang menudingnya sebagai salah satu intel rahasia negara.
Yogas berkedip lagi. Pandangannya menangkap Salima terus melirik ke arah si kertas. "Apa mungkin ia curiga?" tebak Yogas membatin.
Tangan kanan Yogas menelusup cepat ke saku celananya. Sebuah amplop cokelat menyembul dari lorong sakunya. "Oh ya, ini untukmu!" kejutnya sengaja memancing perhatian Salima.
Saat menyibak amplop itu, Salima terbeliak tajam, "Banyak sekali uangn..."
"Jangan boros ya, ini untuk persediaan kalian," potong Yogas sekejap, "Aku akan dinas keluar kota. Jadi, jaga baik-baik Ratih dan juga Ratu."
Sekali lagi, untuk mengusir rasa curiga dalam benak Salima, Yogas memeluk tubuh Salima erat-erat. Gores wajah Salima terkejang, hatinya berdegup kencang tidak karuan. Wajahnya pun merah padam, tertekan getaran emosi yang berlebihan. Yogas merengkuh tubuhnya sangat kuat, seolah besok adalah akhir. Hari ketika mereka tidak akan berjumpa lagi.
Hati Salima mulai dijalari firasat buruk. Ia tahu, kini suaminya tengah dilanda sebuah permasalahan, tapi apa? Namun, bahasa tubuhnya tidak menunjukan gejala kecurigaan apapun di hadapan Yogas. Ia kembali memasak, berpura-pura juga tidak memperdulikan kertas itu. Namun, ketika suaminya tidak memperhatikannya lagi, sesekali tatapannya menerobos masuk ke tong sampah. "Kertas itu, apa ya isinya?" pikirnya makin menimbun rasa janggal.
***
Mata Yogas berkaca-kaca, air mata sedikit menggenang di kantung matanya. Gurat mukanya kusut, melihat istrinya memaki sambil mengacungkan telunjuk padanya. Sementara kedua anaknya yang masih belia, Ratih dan Ratu, bersembunyi di belakang tubuh ibunya dengan menumpahkan isak tangis. Anak berusia enam dan delapan tahun itu mencengkeram kuat celana ibunya, menahan air mata kesedihan. Mereka tidak menyangka, ayah yang dikenal hangat dan ramah, ternyata terlibat kasus pencurian. Sontak saja Yogas dicap sebagai pencuri, dan kejadian ini menciderai nama baik keluarganya.
"Aku tidak mau melihatmu lagi.. pergi..!" pekik Salima melemparkan kekecewaan kepada suaminya, Yogas. Wanita itu tidak tahu, suaminya berlaku demikian demi menyingkap tirai kejahatan kasus penggelapan pajak. Bersandiwara menjadi penjahat, satu-satunya cara bagi Yogas untuk menemukan siapa saja tikus-tikus berdasi yang terlibat.
Yogas berpaling dari keluarganya. Langkahnya tergeret, ditarik paksa kedua polisi yang memegang tangan kanan dan kirinya. Perlahan, lelaki berwajah tegas itu merenggangkan jarak dengan rumah dan keluarganya. Malu yang dirasa Salima. Kecewa karena semua tetangganya menyaksikan suaminya diseret ke mobil polisi. Sungguh ironis, polisi yang seharusnya menjaring penjahat malah tertangkap. Yogas, selama ini dia dikenal sebagai seorang polisi lalu lintas.
Satu di antara dua polisi itu berbisik pelan kepada Yogas, "Sebenarnya aku tidak tega padamu, ndan. Tapi kau bersalah, kau harus ikut kami." ungkap polisi yang jabatannya berada di bawah Yogas.
Yogas duduk di bangku pada bagian belakang mobil polisi. Kedua tanggannya diborgol. Satu ransel hitam mendekap di pinggangnya. Ransel itu berisi kelengkapan saat nanti ia meringkuk di jeruji besi. Sekali lagi, tatap tajamnya mengarah ke kaca spion mobil. Terpantul jelas Salima dan kedua anaknya yang berdiri dengan memaparkan raut sedih. Mobil pun melaju, sama seperti warna wajah Salima yang perlahan pergi.
Ketika senja menumpahi ufuk langit, mobil polisi pun berlabuh di kantor tempat Yogas bekerja. Dengan memampang paras malu, Yogas berjalan pelan memasuki tubuh bangunan kantornya. Kedua pipi malunya memerah, sebagian besar rekan-rekannya terus memandanginya. Beberapa dari mereka enggan melihat kedatangan Yogas. Mereka muak, karena kelakuannya telah menampar keras kewibawaan pihak kepolisian.
Yogas digiring pelan, diseret menuju denah paling selatan bangunan. Dia berdiri, menghadap semua rekan-rekan polisi yang berbaris di sebuah lapangan kecil. Sebagai aparatur negara yang melanggar aturan, dicabut dari jabatannya adalah hal yang pantas. Jubah kepolisian dilucuti, begitu pula dengan pangkatnya. Setelah itu, dia beringsar ke sel tahanan di polres tersebut. Hanya seorang diri, ia dikucilkan.
Selang dua jam, seorang polisi muncul ke dalam kamera mata Yogas. Orang itu berdiri di luar sel, menginjak bayangan Yogas yang bersimbah pada permukaan lantai. Yogas lekas bangkit, merapat ke jeruji besi untuk berbincang dengan pria yang datang. Sebelum menghampiri Yogas, kepala pria itu menoleh ke sekeliling penjuru. Dia mondar-mandir sejenak, mengawasi keadaan sekitar. Berharap pula tidak ada yang memasang telinga, menyadap pembicaraan mereka.
"Pak Roni," bisik Permana kepada Yogas, "Dia bilang, sebentar lagi kau akan dipindahkan ke Lapas Kali Duren, tempat Kuncoro dikurung."
"Kapan?" tanya Yogas gemetar. Kepalan tangannya menjeramah tiang jeruji dengan lebih kuat.
"Dua hari lagi. Jangan biarkan napi dan tahanan disana tahu kau adalah polisi. Ingat, kau adalah pegawai yang mencuri uang perusahaan," tegas Permana memberi arahan, "Kami sudah mengurusnya, jadi disana kau akan tercatat sebagai pegawai swasta, bukan polisi!"
"Oh ya," bisik Permana lagi, "Kau harus cari tahu identitas tiga pemimpin 'Surga Biru' selain Kuncoro."
Yogas bergumam dalam tanya, "Pemimpin Surga Biru?"
"Benar, mereka adalah para tikus penggali gorong-gorong di dalam penjara. Mereka berempat adalah kunci, untuk menyibak siapa saja dalang dalam kasus penggelapan uang pajak. Kita harus menangkap mereka!"
Ya, Surga Biru, adalah fasilitas mewah rahasia di beberapa penjara besar. Biasanya mereka ditanam di penjaranya para koruptor. Tempat yang tersembunyi, hanya diketahui segelintir pihak saja, yakni koruptor dan orang kaya. Mereka yang menjadi anggotanya dapat merasakan pijaran kenyamanan bagai di hotel berbintang lima. Sungguh kontras dengan remang kehidupan narapidana lainnya.