***
Malam ini terasa tidak biasa bagi Andrew. Karena saat ini ia sedang berada satu meja makan dengan orang tuanya. Pagi ini papanya menghubungi dirinya dan meminta untuk makan malam bersama dirumah. Mungkin lebih tepatnya memerintah, karena sebuah ancaman selalu terlontar jika ia tidak mengikuti perkataan papanya.
Andrew memilih untuk datang mengikuti perkataan papanya, meskipun sebenarnya ia masih enggan untuk menginjakkan kaki ke rumahnya dan bertemu dengan orang tuanya. Rasa sakit dihatinya masih terasa karena keputusan papanya mengisolasi dirinya selama hampir tiga tahun di Bali dan melarangnya bertemu dengan Devina.
"Bagus kamu menuruti perkataan papa dan datang ke sini. Kamu tentu tau, tidak sulit untuk membuatmu kembali ke rumah ini. Jadi turuti perkataan papa jika memintamu untuk makan malam bersama di rumah ini," kata Royen tegas sambil memotong daging steak yang ada di piringnya.
"Mama rindu kamu, Nak. Senang rasanya kamu ada di rumah ini. Setiap malam mama selalu membujuk papamu untuk membawa kamu ke rumah ini," kata Clarissa sambil menatap Andrew.
Mendengar perkataan kedua orang tuanya, Andrew tertawa. Ia tersenyum mencibir dan memandang sinis kedua orang tuanya. "Kalian lucu. Bertindak seperti orang tua yang telah menderita karena jauh dari anaknya. Seolah-olah kalian gak bisa jauh dariku," kata Andrew sambil tertawa.
"Andrew, seperti itukah caramu memperlakukan orang tua? Dimana sopan santunmu itu?!" kata Royen dengan nada penuh emosi.
Andrew kembali tertawa mendengar perkataan papanya. Ia merasa saat ini keluarganya sedang bermain drama komedi yang begitu menggelikan. "Hahaha papa lucu. Ah, jangan-jangan papa amnesia ya. Sudah periksa ke dokter, Pa?" kata Andrew dengan nada menyindir.
"Apa maksud kamu?!" tanya Royen penuh emosi.
"Kalian lupa bagaimana kalian memperlakukan ku sebagai anak. Kalian lupa bagaimana kalian mengisolasiku di Bali selama 3 tahun. Puluhan bodyguard mengawasiku setiap harinya selama tiga tahun. Bertemu kalian saja dalam setahun bisa dihitung pakai jari. Sekarang kalian bertindak seolah-olah merindukanku dan menyayangiku. Ini begitu lucu. Sangat lucu," sindir Andrew. Andrew tertawa dan kembali menyantap steak yang ada di hadapannya.
"Kami menyayangimu dengan cara kami. Kami gak ingin kamu terluka karena anak itu. Siapa namanya. Ah, Devina. Kami gak ingin kamu terluka sayang," kata Clarissa sambil menggenggam tangan Andrew.
Mendengar nama Devina keluar dari mulut mamanya, membuat emosi Andrew menjadi naik. Ia mengibaskan tangan mamanya dan menatapnya dengan tajam, "aku gak paham bahasa kasih kalian. Aku gak paham bagaimana tindakan kalian itu bisa disebut cara untuk menyayangiku. Aku gak bisa ngerasain rasa sayang kalian."
"Nak, kami bekerja untukmu. Semua yang kami perjuangkan dan kumpulkan itu untuk kamu. Rumah, mobil, perusahaan, dan semua asset yang kami punya itu untuk kamu. Itu semua untuk kamu," kata Clarissa.
"Tidak ada orang tua yang tidak sayang anaknya, termasuk kami. Cara papa memang tidak selalu benar untuk menunjukkan rasa sayang kami sebagai orang tua, tapi hal itu kami anggap tindakan terbaik untuk melindungimu. Kamu coba pahamilah," kata Royen dengan nada lembut. Royen mencoba untuk melunakkan hati anaknya yang sudah begitu dikuasai rasa amarah.
"Aku masih belum bisa melupakan Devina. Aku masih menyimpan rasa amarah ke kalian. Karena kalian aku gak bisa disamping Devina. Bahkan untuk datang ke pemakamannya saja aku gak bisa!" kata Andrew.
"Maafkan kami, Nak," kata Clarissa.
"Aku kesini cuma mau bilang satu hal. Aku tau kalian menyewa seseorang untuk mengawasi gerak-gerikku. Tolong hentikan itu. Cukup tiga tahun aku terkengkang dan diawasi oleh puluhan bodyguard. Suruh semua orang sewaan kalian itu untuk pergi!"kata Andrew tegas.
"Mereka itu ada untuk menjagamu Andrew. Kamu pewaris Hamston Group. Kamu anak papa satu-satunya. Gak mungkin papa biarin kamu diluaran sana sendirian. Bagaimana jika ada musuh bisnis papa yang ingin menjahati kamu?! Gak bisa! Papa gak bisa melepasmu begitu saja diluaran sana."
"Sayang, sebaiknya kamu kembali ke rumah. Benar kata papamu, terlalu berbahaya kamu hidup sendirian. Papa dan mama akan menuruti kemauan mu, asal permintaanmu itu masuk akal. Tapii kamu harus tinggal di rumah ini, Nak." Bu Clarissa kembali menggenggam tangan Andrew dan berusaha membujuknya.
Namun, Andrew kembali mengibaskan tangan mamanya. "Aku masih mau hidup sendirian. Tanpa kalian. Aku masih nyaman tinggal sendirian diluaran sana, dibandingkan di rumah ini. Sudahlah, percuma aku berbicara panjang lebar. Kalian tidak akan pernah mau mendengarkan aku. Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang." kata Andrew.
Andrew langsung meletakkan pisau dan garpu makannya. Kemudian ia bangkit berdiri dan langsung berjalan pergi meninggalkan orang tuanya begitu saja di ruang makan.
"Andrew! Jangan pergi! Papa belum selesai bicara!" teriak Royen penuh emosi. Namun, Andrew mengabaikan teriakan papanya dan tetap berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.
Royen memberikan kode kepada penjaga kemanan rumahnya yang sejak tadi bersiaga didepan ruang makan. Dua orang Pria berbadan tegap langsung menghadang langkah Andrew untuk pergi meninggalkan rumah itu. Satu Pria kepala botak dengan luka sayatan pisau dipipi kirinya dan satu lagi pria dengan lima tindik ditelinga kanannya. Mereka berusaha menghentikan Andrew keluar dari rumah itu.
"Menyingkirlah... sebelum kalian terluka," kata Andrew dengan tatapan tajam dan menantang. Namun kedua pria itu tidak mau menyingkir dan tetap menghadang Andrew.
"Baiklah jika itu mau kalian," kata Andrew. Andrew mulai memukul pria botak yang berada dihadapannya. Namun, tentu saja mereka juga menguasai bela diri seperti Andrew. Setiap pukulan dan tendangan Andrew, berhasil mereka hindari. Kemudian pria tindik itu merangkulnya dan mengunci tubuhnya, sehingga Andrew tidak dapat berkutik.
"Sudahlah, Nak. Ikuti saja kemauan papamu itu. Anak bau kencur sepertimu gak usah sok-sokan kabur dari rumah," kata Pria botak itu dengan senyuman mencibir.
Namun, Andrew dengan sekuat tenaga memukul perut pria botak yang sekarang berdiri dihadapannya dengan kakinya. Kemudian Andrew memukul perut pria tindik itu dengan siku lengan kirinya dengan keras, sehingga rangkulan tangannya melonggar. Andrew mengambil kesempatan itu dan melepaskan diri dari pria tindik itu.
Ketika pria tindik itu sedang merintih kesakitan, Andrew memukul dengan keras pria botak yang berdiri tegap didepannya, hingga akhirnya ia terbaring di lantai dan mengerang kesakitan. Kemudian pria tindik yang berdiri dibelakangnya, menarik kasar tubuh Andrew dan mulai memukul wajah dan perut Andrew. Darah mengalir dari bibir Andrew yang sobek karena menerima pukulan. Terlihat beberapa memar yang mulai menghiasi wajahnya.
"Sudahlah, Nak. Menyerahlah... kembali ke dalam rumahmu," kata Pria tindik itu.
Andrew masih menolak menyerah dan akhirnya memulai kembali serangannya dengan penuh amarah. Andrew memukul pria itu sekuat tenaga dan bertubi-tubi bagaikan orang yang sedang kerasukan. Pria itu akhirnya tidak mampu mengelak dan menahan pukulan Andrew yang bertubi-tubi. Andrew melampiaskan kemarahannya pada setiap pukulannya, hingga akhirnya pria itu pingsan.
Andrew bangkit dan berjalan kembali ke dalam rumahnya. Ia berjalan menuju orang tuanya yang masih duduk di ruang meja makan. Andrew mengelap darah yang mengalir dari bibirnya. Mamanya terkejut melihat kondisi Andrew yang penuh dengan memar dan darah.
Andrew berjalan mendekat ke arah papanya dan berbisik dengan nada pelan tapi tajam. "Suruh pergi semua orang sewaanmu atau aku habasi mereka sampai mati. Apa papa ingin anakmu ini menjadi seorang pembunuh?" kata Andrew dengan tatapan penuh emosi dan Amarah. Kemudian Andrew pergi dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terdiam menatapnya.
***
Pagi ini Hyena merasa heran dengan suasana sekolahnya. Sepanjang lorong sekolah yang ia tapaki, banyak anak yang terlihat sedang berbisik-bisik. Hyena merasa ada sebuah trending topic yang ia lewatkan. Ia mulai memperlambat langkah kakinya dan berusaha menajamkan pendengarannya.
"Eh lo udah liat belum tuh kondisi si anak baru pagi ini?" kata Mirna.
"Hah? Si waiter itu ?" tanya Imel.
"Iya! Wajahnya dia penuh memar. Kayak abis berkelahi gitu. Kok gue ngeliatnya dia malah keren yah. Tampilan dia kayak bad boy banget. Ganteng pula," kata Mirna kagum.
Hyena masih bingung dengan apa yang baru saja di dengarnya. 'Maksud mereka itu Andrew?' tanya Hyena dalam hati. Kemudian ia mempercepat langkah kakinya agar bisa segera sampai ke kelas.
Hyena langsung terkejut ketika mendapati wajah Andrew yang penuh dengan bekas luka memar. Hyena dapat menebak kalau Andrew kemarin terlibat dalam sebuah pertengkaran yang hebat. Hyena menaruh tasnya dan duduk dengan tenang. Ia enggan untuk mengajak Andrew berbicara, apalagi menanyakan penyebab luka memarnya. Andrew pasti akan menatapnya tajam, jika berani mencoba menanyakannya.
Walaupun Hyena mencoba duduk dengan tenang dan tidak mengganggu Andrew, akan tetapi suasana kelas tetap saja berisik. Anak-anak di kelasnya tetap membicarakan Andrew dengan berbisik-bisik. Mereka menatap Andrew dengan aneh dan mencoba menebak alasan dibalik luka memarnya.
Andrew terlihat mulai tidak tahan dengan suasana di kelasnya. Andrew tentu saja tau bahwa ia sedang dibicarakan oleh teman-temannya dan ia tidak suka hal itu. Andrew paling benci ketika ada orang membicarakannya dibelakang punggungnya.
Andrew menendang mejanya dengan keras, sehingga menabrak meja dan kursi lainnya yang ada didepannya. Suasana kelas seketika menjadi hening dan semua pandangan mata tertuju pada Andrew.
"Kalau berani, ngomong didepan gue! Gak usah berbisik-bisik dibelakang gue!" teriak Andrew sambil menatap semua anak-anak yang ada di kelasnya.
Semua orang seketika langsung terdiam dan berpura-pura sibuk dengan buku pelajaran. Aura Andrew terasa begitu menakutkan untuk mereka lawan. Mereka lebih memilih untuk menghindar dan mengabaikan amarah Andrew.
"Andrew... udah! Bentar lagi guru datang. Jangan buat keributan. Udah duduk lagi lo!" kata Hyena sambil menarik Andrew untuk kembali duduk dikursinya.
Hyena kemudian bangkit berdiri dan mengembalikan posisi meja yang tadi di tendang oleh Andrew. Ia juga merapikan susunan tempat duduk yang menjadi berantakan karena dampak tendangan Andrew.
Kemudian Hyena berdiri dihadapan Andrew. Ia menarik wajah Andrew mendekat ke arahnya dan memperhatikan memar yang ada disana. "Ya ampun Andrew! Ini pipi atau samsak tinju. Kenapa pada mukul dipipi lo sih," kata Hyena.
Andrew kaget melihat wajah Hyena dari dekat. Ia terdiam ketika Hyena memperhatikan dengan seksama kondisi wajahnya yang memang penuh memar bekas perkelahiannya tadi malam.
"Kayaknya di tas gue ada salep buat memar deh. Coba gue liat dulu, siapa tau masih ada," kata Hyena sambil melepaskan tangannya dari wajah Andrew. Hyena mulai sibuk merogoh tasnya.
"Nah ini dia! Sini muka lo. Biar gue olesin salep," kata Hyena sambil menarik kembali wajah Andrew ke arahnya.
Hyena mengoleskan salep disetiap memar yang ada di wajah Andrew dengan penuh ketelitian dan perhatian. Sementara Andrew masih terdiam menerima perhatian Hyena terhadapnya. Ia menatap wajah Hyena dari dekat.
'Dia cantik juga kalo diliat-liat. Mungkin itu kali ya yang bikin si Rey mau jadiin dia pacar," kata Andrew dari dalam hati.
"Udah noh. Baik kan gue." Hyena mendorong keras pipi kanan Andrew menjauh darinya.
"Aw... kasar banget sih. Sakit tau !" kata Andrew kesal.
"Ih! Udah bagus gue mau bantuin ngobatin luka lo. Bilang apa harusnya sama kakak?!" canda Hyena.
"Terima kasih kakak. Baik banget sih kakak sama aku," kata Andrew sambil mencubit pipi Hyena dengan sedikit keras.
"Aw! Sakit Andrewww!" teriak Hyena dengan tatapan melotot kearah Andrew.
Andrew tertawa karena melihat reaksi Hyena. Andrew memang senang mengusili Hyena. Teman sebangkunya itu memang terkadang bisa menjadi tempat hiburan baginya.
"Jadi lo mau cerita gak kenapa muka lo babak belur gitu?" tanya Hyena.
"Kasih tau gak yah," kata Andrew sambil mengelus kepala Hyena dengan kasar, sehingga rambutnya menjadi berantakan.
"ANDREW!!!!" teriak Hyena.
CONTINUED