7. LISA

2420 Kata
                                                                                              *** Lisa pulang ke rumah Hyena dengan menaiki transportasi umum. Jarak sekolah ke rumah hyena hanya 6 km saja, sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai. Hyena dan Rey mampir ke toko buku dan jalan-jalan ke mall. Lisa tidak ingin mengganggu keasikan mereka dan menjadi pengganggu, makanya ia lebih memilih pulang sendiri. Sesampainya di rumah, Lisa meletakan tasnya kedalam kamar. Kamar Lisa terletak di dekat dapur, sehingga ketika menuju kamarnya ia dapat melihat kesibukan ibunya yang sedang memasak. "Kamu sudah pulang rupanya, Nak. Bantuin ibu menata makanan ini ya. Tapi kamu letakan tas dulu dan ganti baju dulu sana," ucap Rita, Ibu Lisa sambil memasak Gulai ayam. "Baik bu," jawab Lisa sopan. Ketika Lisa sudah selesai berganti baju dan meletakan tasnya, ia keluar kamar dan menghampiri ibunya yang sudah selesai memasak. Ia mengambil piring dan menata masakan ibunya dengan cantik ke piring tersebut. Sudah sejak Lisa umur 7 tahun, ia sudah mahir hampir semua pekerjaan rumah tangga dan membantu pekerjaan ibunya. Lisa seperti asissten ibunya didalam pekerjaan. "Memang siapa yang akan makan siang dirumah, Bu? Hyena pergi ke mall hari ini sama Rey. Tuan dan Nyonya juga kerja, mana mungkin makan siang disini, Bu," kata Lisa heran. "Meja makan tetap gak boleh kosong, Nak. Bagaimana jika mereka tiba-tiba pulang ke rumah, dan ternyata gak ada makanan. Ibu jadi gak enak." "Iya juga sih, Bu," ucap Lisa sambil mulai menata makanan di meja makan. "Kamu harus ingat betapa keluarga ini begitu baik sama kita. Ketika ayahmu wafat, ibu bingung bagaimana membesarkanmu. Ibu hanya memiliki ijasah SMP. Untung keluarga ini memberikan gaji yang baik untuk ibu, sehingga ibu bisa membesarkanmu." Rita membelai rambut Lisa dengan penuh kasih sayang. "Iya, Bu. Lisa akan selalu ingat kok," kata Lisa sambil menata sendok dan garpu di atas meja. "Bagaikan mimpi melihatmu sekolah ditempat itu, Nak. Ibu tidak akan mampu membiayaimu disana. Ibu benar-benar sangat berterima kasih kepada keluarga ini, karena membiayaimu untuk sekolah disana sama seperti Hyena." Rita mulai berlinang air mata penuh haru. "Aduh ibu! Jangan nangis dong. Lisa akan bahagiakan ibu dimasa depan. Lisa janji," ucap Lisa sambil mengecup kening ibunya. "Iya. Makasi ya udah bantuin ibu. Kamu istirahat di kamar aja. Semua pekerjaan rumah sudah ibu kerjakan. Ibu mau membaca resep makanan dulu. Supaya bisa masak yang lebih enak untuk keluarga ini," ucap Rita dengan tersenyum. "Baik, Bu. Lisa ke kamar ya." Lisa menuju kamarnya dan berbaring di kasurnya. Ia menghela nafasnya. Apa yang diucapkan ibunya seakan seperti alarm pengingat baginya. Keluarga Hyena memang telah banyak berjasa membantu keluarganya. Oleh karena itu, Lisa menyadari bahwa keputusannya dimasa lalu adalah tepat. Keputusan untuk melepaskan cintanya dan merelakannya bersama Hyena. Lisa memejamkan matanya dan mengingat kenangannya ketika masuk ke SMA Pelita Abadi awal tahun lalu.                                                                                              *** Satu setengah tahun yang lalu... "Hai, Lis," sapa Rebecca "Hai, Bec. Kenapa?" tanya Lisa yang sedang membereskan buku-bukunya. "Lis, dari semua siswa dikelas ini, cuma lo yang gue ngerasa misterius banget. Background keluarga lo apa sih? Gue penasaran," tanya Rebecca sambil menatap Lisa dengan penuh selidik. Sejak Lisa masuk ke sekolah ini, tidak pernah sekalipun ia menceritakan keluarganya. Ia tidak seperti anak lainnya yang begitu membanggakan pekerjaan dan perusahaan keluarganya. Lisa menutup rapat latar belakang keluarganya. Ia takut akan dihina oleh teman-teman sekolahnya jika mereka tau statusnya yang hanya sebagai anak pembantu. Lisa mulai keringat dingin ketika memikirkan jawaban dari pertanyaan Rebecca. Lisa tidak pandai berbohong, sehingga ia tidak tahu bagaimana mengarang jawaban yang bagus agar Rebecca percaya. 'apa aku bilang sejujurnya aja ya ke Rebecca. Pasti semua orang juga cepat atau lambat akan tau.' kata Lisa didalam hati. "Bec.. sebenarnya gue itu... ehmm... sebenarnya..." "Sebenarnya Lisa itu sepupu gue, Bec. Background keluarga dia yah pasti sama kayak gue lah hahaha," kata Hyena tiba-tiba muncul. "Oh ya? Serius? Wah Lis, kok lo rahasiain sih. Gue pikir lo itu orang susah hahaha. Sorry ya, Lis." Rebecca terlihat percaya dengan perkataan Hyena. "Emang kalo gue orang susah kenapa?" tanya Lisa dengan polosnya. "Yah mana mungkin orang susah bisa bergaul sama kita, Lis. Gak mungkin bisa mampu nongkrong bareng kita," ucap Rebecca. Hyena merasa kawatir kalau Lisa akan membocorkan latar belakang keluarganya kepada Rebecca. Jadi ia memutuskan membawa pergi Lisa dari sana secepatnya. "Lis, gue pengen ngomong sama lo sebentar dong," kata Hyena sambil menarik Lisa keluar dari kelas. Hyena membawa Lisa pergi menjauh dari Rebecca dan anak-anak lain. Ia mengajak Lisa berbicara didekat toilet wanita. Ia berusaha berbicara dengan nada suara pelan agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Lis, lo sebaiknya jangan jujur tentang background keluarga lo. Sekolah ini kejam Lis untuk anak-anak yang background keluarganya kurang mampu. Mereka gak akan berempati sama lo. Mereka malah akan mencari kesenangan dengan nge-bully lo. Dan gue tau, lo gak akan kuat menghadapi itu. Jadi lo harus hati-hati. Jangan sampai keceplosan juga," kata Hyena dengan tatapan serius. "Iya, Hyen. Makasi banyak ya, Hyen. Gue beruntung ada lo disini," kata Lisa sambil merangkul Hyena dengan penuh kasih. "Santai aja, Lis. Hahahaha," kata Hyena.                                                                                              *** Satu setengah tahun yang lalu... Anak-anak sekolah biasanya menggunakan waktu istirahat untuk makan dikantin dan berbicang dengan temannya, tapi hari ini Lisa lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya dengan membaca buku fisika yang belum sempat dipelajarinya tadi malam. Ia membaca buku sambil mengunyah sandwich buatannya sendiri. "Hai, Lis, " sapa Rey tiba-tiba. Lisa tampak kaget dihampiri oleh cowok idola kelasnya itu, bahkan mungkin idola satu sekolah. Ia bingung kenapa seorang Rey menghampiri dan mengajaknya bicara. "Oh hai, Rey. Ada yang bisa gue bantu?" tanya Lisa sopan. "Lo pinter banget kan nih. Nah besok kita harus mengumpulkan tugas matematika yang dikasih sama Bu Jenner. Nah lo ngerti gak cara jawab soal ini? Gue gak paham," tanya Rey sambil menunjukan buku tugas matematika nya. "Oh. Ini gini cara ngerjainnya..." kata Lisa sambil menunjukan cara menjawab soal yang ditanyakan Rey. Setelah beberapa menit Lisa menjelaskan dengan detail, Rey terlihat mengerti bagaimana cara menjawabnya. "Yah ampun, ternyata begini toh caranya. Gue kira bakalan susah. Taunya cuma begini doang toh," ucap Rey sambil menganggukan kepalanya. "Mungkin karena lo terlalu fokus sama kesusahan soalnya, bukan fokus mencari solusinya," kata Lisa sambil tersenyum. "Itu quotes of the day banget ya hahaha. Oh ya, Lis nanti temani gue ke toko buku ya. Ada beberapa buku yang mau gue beli. Gue mau minta rekomendasi lo," pinta Rey. Lisa tersenyum senang dan langsung mengiyakan ajakan Rey, "Boleh Rey. Nanti sepulang sekolah gue temenin." Ini merupakan pertama kalinya ada seorang pria yang mengajak Lisa pergi selain urusan tugas sekolah. Lisa terlihat senang dan antusias dengan ajakan Rey itu. Seperti yang telah direncanakan, sepulang sekolah Rey dan Lisa pergi ke toko buku yang tidak jauh dari gedung sekolah mereka. Mereka selama hampir dua jam berada didalam toko buku untuk "Makasi ya, Lis. Lo udah nemenin gue beli buku," kata Rey. "Iya sama-sama, Rey," jawab Lisa sambil tersenyum. "Gue anterin lo pulang ya?" tanya Rey. Namun dengan cepat Lisa menolak tawaran Ret tersebut. "Gak usah Rey. Gue pulang sendiri aja. Gue mau ambil buku di rumah teman dulu," kata Lisa berbohong. Lisa ingat kata-kata Hyena yang mengingatkannya supaya jangan sampai latar belakang keluarganya terbongkar. Jika Rey mengantarnya pulang, ia akan curiga melihat dirinya yang tinggal di rumah Hyena. Lisa akan kesulitan untuk mencari alasan agar rahasianya terjaga. "Oh yaudah kalau gitu. Lo hati-hati di jalan ya. Kabari gue kalo udah sampai rumah," kata Rey dengan tersenyum dan masuk kedalam mobilnya. "Iya. Bye... Rey," kata Lisa sambil melambaikan tangannya.                                                                                              *** Beberapa kali Lisa pergi jalan bersama dengan Rey. Entah untuk pergi membeli buku atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Karena banyaknya kesempatan untuk bersama, Rey dan Lisa merasa semakin dekat dan nyaman satu sama lain. Mereka juga sering bertukar pesan ketika memiliki waktu yang kosong. Lisa berbaring di kasurnya. Ia menutup muka nya dengan bantal dan tersipu malu setiap kali membaca chat Rey. Lisa terlihat begitu senang dan bahagia. Ini pertama kalinya ia dekat dengan seorang pria dan begitu menyukainya. "Lisa! Gue masuk ya?" teriak Hyena dari depan pintu kamarnya. Tanpa menunggu jawaban dari Lisa, Hyena langsung membuka pintu kamar dan ikut duduk diranjang Lisa. Lisa yang masih menutupi wajahnya dengan bantal, terlihat tenggelam dalam lamunannya tentang Rey. Ia menikmati debaran jantung yang dirasakan berdetak dengan cepat karena efek jatuh cinta. Hyena menyingkirkan bantal yang menutupi muka Lisa. Ia menatap aneh sahabatnya itu karena bertingka tidak seperti biasanya. "Lo kenapa sih? Aneh banget hari ini. Lo pacaran ya?" tanya Hyena penuh curiga. "Hah?! Gak kok, Hyen. Aku gak pacaran," kata Lisa berusaha menutupi kebohongannya. "Bohong lo! Keliatan kok dari muka lo itu hahaha." Hyena mencolek pinggang Lisa dan menggodanya. "Enggak, Hyen. Beneran sumpah! Gue emang gak pacaran," kata Lisa yang berusaha meyakinkan Hyena. 'Gue dan Rey kan emang belum pacaran. Masih deket doang.' kata Lisa dalam hati. "Yaudah deh gue percaya hahahaha. Lis, gue mau minta tolong dong," pinta Hyena tiba-tiba. "Minta tolong apa, Hyen? Akhirnya ada yang bisa gue bantu juga buat lo!" kata Lisa antusias. "Lis... gue kayaknya tertarik deh sama seseorang. Kayaknya gue suka deh sama dia," cerita Hyena dengan wajah tersipu malu. "Hah?! Suka sama siapa lo, Hyen! Cieeee Hyenaaaa!" teriak Lisa histeris. Hyena tersipu malu setelah mengakui perasaannya kepada Lisa. Memang Hyena tidak pandai menyimpan rahasia apapun kepada sahabatnya itu. Semua ia ceritakan termasuk soal perasaan dan kisah asmaranya. "Dia ganteng, Lis! Ganteng parah! Gue langsung tertarik pas ngeliat dia pertama kali. Kayaknya sih dia baik. Gue belum tau banget karakternya. Makanya gue mau kenal dia lebih dekat. Lo bisa bantuin gue gak, Lis?" pinta Hyena dengan ekspresi memohon. "Hah?! Gue? Emang gue kenal orangnya? Kalo kenal mah, gue pasti mau bantuin lo. Apa yang gak sih buat lo, Hyen." "Gue gak tau sih lo itu dekat atau gak sama dia, Lis. Tapi lo satu kelas sama dia," kata Hyena. "TERUS NAMANYA SIAPA?! JANGAN BIKIN GUE PENASARAN!" Lisa terlihat mulai gemas dengan Hyena yang dari tadi belum menyebutkan nama pria itu. "Ehm.. namanya Rey, Lis. Lo akrab gak sama dia? Bantuin gue dong, Lis. Gue bingung nih gimana caranya deket sama dia," cerita Hyena. Lisa terdiam dan terkejut. Nama yang terucap dari bibir Hyena benar-benar tidak diduganya. Dari sekian banyak pria yang ada di sekolahnya, mengapa justru nama Rey yang disebut oleh Hyena. "R... Rey?" "Iya Lis. Bisa gak? Tapi gimana caranya ya gue bisa deket sama dia. Lo punya ide gak? Atau lo bantuin kenalin gue ke dia gitu," pinta Hyena dengan tatapan memohon. Selama beberapa saat Lisa terdiam. Bibirnya kelu untuk menjawab permintaan Hyena itu. Disatu sisi Hyena adalah sahabat dan orang yang berjasa bagi hidupnya. Disisi lain Rey adalah cinta pertamanya. Pria pertama yang begitu Lisa sayangi. Takdir terasa begitu kejam terhadapnya. Lisa diperhadapkan pada situasi yang berat dan sangat sulit. Jika ia melepaskan cintanya, rasa sakit dan penyesalan pasti akan menghantui dirinya. Namun bila ia menolak permintaan Hyena, ia akan menjadi orang yang paling tidak tau diri di muka bumi ini. Bagaimana mungkin ia menolak permintaan Hyena, sementara keluarganya telah membiayai sekolahnya dan mempekerjakan ibunya dengan upah yang layak. Lisa pada akhirnya memang harus melepaskan cintanya. Merelakan Rey untuk Hyena. "Ehm.. Bisa sih. yaudah, besok gue bakalan buat lo jalan sama Rey. Lo siap-siap aja," kata Lisa dengan berat hati. "Serius, Lis?! KYAAAA! MAKASIH LISA!" teriak Hyena sambil memeluk erat Lisa dan mencium pipinya. "Udah-udah. sana balik ke kamar lo. Gue mau tidur. Udah jam 9 malam ini," pinta Lisa "Oke siap. Makasi Lisa. Muuuuaaach!" Hyena berpamitan sambil mencium Lisa untuk terakhir kalinya. Setelah Hyena keluar dan menutup pintu, Lisa berbaring di tempat tidurnya. Ia mengambil handphonenya dan mulai mengirim pesan ke Rey. Lisa  Rey, besok temani aku ke toko buku yuk. Rey  Oke. Sampai jumpa besok. Met tidur Lisa memandangi layar handphone dengan berlinang air mata. Ia telah mempersiapkan skenario pertemuan Hyena dengan Rey, pria yang disayanginya. Ternyata rasa sakit yang dirasakannya melebihi yang diperkirakannya. Meskipun Lisa merasa tidak sanggup untuk melakukannya, namun ia sadar harus menahannya. Lisa menghela nafasnya ketika membayangkan situasi yang harus dijalaninya. Baru sebentar hatinya berbunga-bunga, akan tetapi harus secepat ini dia melepaskan Rey.                                                                                              *** Besoknya sepulang sekolah. Rey menghampiri Lisa sambil membawa tas sekolahnya. Ia terlihat sudah siap untuk pergi bersama Lisa. "Jadi beli buku?" tanya Rey. "Jadi kok, tapi kayaknya si Hyena mau ikut deh. Kebetulan dia mau beli buku juga. Gak papa ya?" tanya Lisa sambil melirik ekspresi Rey. "Oh.... oke. Gak papa. Yaudah, ayo kita samperin Hyena," ajak Rey. Mereka pun ke kelas Hyena untuk menjemputnya. Lisa terlihat menghela nafas berat. Ia berusaha menahan rasa sakit di hatinya. Meskipun hasrat hatinya menginginkan langkah kakinya berhenti menuju ke kelas Hyena, akan tetapi otaknya melarang untuk melakukan itu. Ia tidak bisa mengikuti keegoisan hatinya. Lisa melihat ke dalam kelas Hyena, terlihat sahabatnya itu sudah bersemangat dan siap untuk pergi. Apalagi ketika Hyena melihat Rey berdiri didepan pintu kelasnya, terlihat wajah Hyena semakin sumringah. "Hai, Hyen," Sapa Rey. "Hai juga, Rey," ucap Hyena dengan tersenyum. "Yaudah kita langsung jalan aja ya," ajak Lisa. Mereka bertiga pergi menuju toko buku yang biasa dikunjungi oleh Lisa dan Rey. Tidak memerlukan waktu lama untuk sampai kesana, karena jaraknya memang dekat dari sekolah. Ketika mereka keluar dari mobil Rey, Lisa tampak berusaha mencari alasan untuk meninggalkan Rey dan Hyena berdua. Ia masih ingat misi yang harus dijalankan olehnya yaitu mendekatkan Hyena dengan Rey. "Ehm guys. Nyokap baru sms nih. Gue disuruh pulang sekarang. Nyokap minta gue untuk temenin dia jenguk orang sakit. Maaf banget ya. Kalian tetep lanjut aja, tapi gue pamit pergi dulu," kata Lisa. "Oh yaudah. Gak papa, Lis. Hati-hati di jalan ya," kata Hyena sambil mengedipkan mata. "Bye semuanya..." Lisa langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Rey serta Hyena. Rey terlihat bingung dengan situasi yang dihadapinya. Ia terlihat ingin menahan Lisa untuk tidak pergi. Namun hal itu tidak sempat Rey lakukan, karena Lisa dengan cepat berbalik badan dan pergi meninggalkannya bersama Hyena. Sementara Lisa sepanjang perjalanan berusaha menahan air matanya. Rasa sakit menyerang hatinya begitu kuat. Mengalah dan merelakan adalah respon yang tepat. Namun, harus ia akui hal itu tidak mudah untuk dilakukan. Melawan hasrat dan ego hatinya benar-benar begitu berat dirasakannya.                                                                                          *** Lisa tersenyum mengenang kenangannya satu tahun yang lalu. Kenangan Cinta pertamanya dan rasa sakit pertamanya karena seorang pria. Meskipun kejadian itu sudah lama, akan tetapi rasa perih dan sakitnya masih bisa ia rasakan sampai sekarang. Karena sesungguhnya perasaan Lisa terhadap Rey belum benar-benar hilang. Rasa itu masih ada. Namun ia tahan dan kesampingan. Ia memasang topeng yang canggih sehingga tidak ada satupun yang dapat melihat kondisi hatinya yang sebenarnya. Lisa memejamkan mata, memasang earphone di telinganya, dan mendengarkan lagu "Aldy Maldini - Biar Aku yang pergi" sambil tersenyum. Seolah setiap syair lagu itu benar-benar mewakili perasaannya.     CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN