Mendapatkan beasiswa sarjana pendidikan kedokteran bukanlah harapan Nahda, dia yang sedang mencoba mendaftar program sarjana matematika di Universitas Leiden dan Queensland University harus mengubur mimpinya menjadi matematikawan dan beralih menjadi seorang dokter.
Dengan tekad yang bulat dan demi sang kakek yang sangat dia cintai, Nahda memilih fokus dengan kuliahnya dan meninggalkan masa mudanya yang biasa teman-temannya isi dengan berpacaran ataupun nongkrongdengan teman-teman namun Nahda memutuskan untuk fokus pada pendidikannya danterbukti di akhir tahun ketiga Nahda mendapatkan gelarnya dengan di tambah menjadi dokter muda selama 2 tahun. Namun 6 bulan sebelum masa koasnya selesai Nahda sudah mendaftarkan diri di dua universitas di Eropa dan keduanya diterima.
Satu hari sebelum keberangkatannya ke Eropa, Nahda dikagetkan denga kedatangan mantan pacarnya saat SMA, Gaozan. Gaozan datang dengan keluarganya untuk melamar Nahda. Namun Nahda hanya meminta jika Gaozan bersedia menunggu silahkan menunggu Nahda kembali dalam jangka waktu dua tahun namun jika dalam waktu dua tahun ada seseorang yang dirasa lebih baik dari dia silahkan jika memang memilih orang tersebut.
Janji tinggallah janji, meski sakit hati namun bagi Nahda hidup haruslah tetap berjalan. Tujuannya kembali ke Indonesia adalah panggilan dari rumah sakit tempatnya menjalani koasnya dahulu dan kesehatan sang nenek yang semakin menurun karena kanker yang menggerogotinnya.
Nahda tetaplah Nahda, meski sedang merasakan sakit hati namun dia tetap menajadi gadis periang dan selalu menebar senyum kepada siapapun. hingga meski baru dikatakan 1 minggu bekerja sudah ada rekan kerjanya yang menyatakan ketertarikannya. Melalui kedua orang tua mereka coba mengenal satu sama lain
Dua tahun dengan cepat berlalu, gelar magister sudah Nahda terima hanya tinggal menunggu prosesi dan turunnya ijazah.Nahda kembali ke Indonesia, menjadi salah satu dokter spesialis radiologi disalah satu rumah sakit swasta. Meski diawal kepulangannya dia dikejutkandengan pernikahan Gaozan tapi Nahda tetap bisa menjalani harinya seperti tidakada masalah apapun.
Dua tahun tinggal di Negara dengan Islam sebagai agamaminoritas membuat Nahda mempertebal keimanannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)
Menuntut ilmu itu wajib bagi Muslim maupun Muslimah. Ketika sudah turun perintah Allah yang mewajibkan suatu hal, sebagai muslim yang harus kita lakukan adalah sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taat. Sesuai dengan firman Allah Ta ‘ala:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An-Nuur [24]: 51).
Allah Ta’ala berfirman:
…يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ..
“…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Allah Subhanahu wa Ta ‘ala berfirman,
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk : 10).
Karena dalil itulah Afila giat belajar hingga memiliki motto hidup "Long Life Education"