Evan membuka beberapa amplop yang di berikan kepada mata-mata nya, "nikmati saja kebahagiaan mu Larry... Aku akan menjamin tidak akan bertahan lama." Terlihat foto kemesraan antara Larry dan Fusya yang saling berpelukan, ia menyobek lalu membuang begitu saja. "Tuan.. apa yang harus kita lakukan?" tanya lelaki tadi yang membawa amplop coklat. "Diam lah aku sedang berpikir.." Evan menyuruh orang itu untuk pergi dari hadapannya, bagaimana pun juga perasaan rasa sakitnya sangat memborgol di dalam hati. Varen pun datang dengan hanya memakai handuk putih dililitkan, "apa yang kau pikirkan?" "Tidak ada.. aku hanya memikirkan si k*****t itu." "Kau menyukai istrinya?" Tanya Varen. Sudah pusing dengan masalah ini, pertanyaan Varen menjadi pusing yang bertambah di kepala Evan, "apalah yang ka

