Kamar Langit seketika di sulap seperti sebuah kamar rawat inap dengan berbagai peralatan medis yang disewanya dari sebuah rumah sakit. Dia tidak ingin mengambil risiko dengan membuat Alaina menginap di rumah sakit selama waktu yang tidak ditentukan. Digenggamnya pergelangan tangan Alaina sementara dia duduk di kursi putar yang dia bawa dari ruang kerjanya. “Na, bangun.” Langit berbisik pelan. Dia tidak meninggalkan Alain sedikitpun. Semua pekerjaannya dia bawa ke rumah. Dia tidak bisa berkonsentrasi jika berjauhan dengan Alaina walau satu menit. Alaina masih sama seperti sebelumya. Tidak mau membuka mata walau kata dokter yang menjaga, semua tanda vital Alaina sudah membaik. Dokter berasumsi bahwa Alaina mengalami trauma dan itu yang membuat Alaina dalam keadaan koma. Tidak sadarnya

