Sebelum mereka pergi, Adrian mengajaknya mampir ke rumah kakek. Disana mereka duduk menghadap kakeknya yang tersenyum menyapa dengan hangat, Erina sudah tidak lagi canggung bahkan sudah terbiasa dengan pria tua yang menyayangi Adrian itu. “Adrian ... kakek ingin memberimu ini," "Apa ini, Kek?" "Terimalah, ini sebuah tabungan yang bisa kamu gunakan sewaktu-waktu nantinya. Jangan boros dan gunakan dengan sebaik mungkin," Adrian menerimanya yang berupa sebuah buku, kertas berisi tulisan surat kuasa untuk mengambilnya dan juga beberapa barang berharga lainnya. Erina tampak melirik Adrian yang menerima banyak sekali barang dari sang Kakek. Padahal warisannya juga sudah lumayan banyak. Ia menghitung jika Adrian banyak sekali menerima warisan yang tak diketahui oleh keluarga besarnya. "Erin

