Adrian memandangnya dengan rasa khawatir yang tak bisa ia ungkapkan. Erina demam dan penyebabnya sudah pasti karena dirinya mengalami shock berat setelah kejadian semalam. Diambilnya segelas minuman dan ia menyuapinya yang masih terpejam. Diberinya dengan sesendok air. Berharap bisa meredakan demam di tubuhnya. Agak susah juga saat ia harus memasukkan air dalam mulut Erina. Bibirnya sedikit terbuka dan menerima air yang ia suapkan. “Bangunlah, Erin! Aku minta maaf atas perbuatanku,” ucap Adrian. Tiba-tiba, Erina membuka matanya dan memandang berkeliling. Mungkin ia terkejut karena telah berada disini dalam keadaan berbaring. Ia menatap tajam padanya. Adrian merasa cemas sekaligus akan menerima semua yang akan diluapkan Erina padanya. "Erin, kamu sudah bangun?" Adrian menghampirinya,

