Pukul 7 malam, seorang pegawai hotel datang mengetuk kamar Aira, pegawai itu memberitahukan bahwa mereka semua saat ini ditunggu oleh Marcela untuk makam malam bersama di tempat yang sudah disediakan.
"Masih punya hati dia?". Sabiru menanggapi dengan sinis.
"Sudahlah Biru... Kita kesana yuk, jadi kita makan gak perlu keluar uang". Bela Marcela.
"Kalau cuma makan, aku juga ada uang Ai...". Jawab Sabiru yang tersinggung ucapan Aira.
"Iya iya... Aku tau kamu gak mungkin ngebiarin aku kelaparan, padahal aku makannya banyak lho".
"Banyak apanya, porsi makan kamu terlalu sedikit Ai... Aku kan udah bilang gak usah diet dietan, tapi kamu masih ngotot aja".
"Please Sabiru, gak usah bawa bawa diet segala, semua yang aku lakukan hanya supaya aku terlihat cantik dimata kamu".
"Kamu kan udah cantik Ai". Sabiru menurunkan nadanya menjadi lembut.
"Biru, pembahasan ini sensitif bagi wanita. Kita mau bertengkar sekarang?".
"Lho kok bertengkar sih, aku ini kasih tau kamu supaya sehat".
Tanpa satu pun kata Aira langsung pergi meninggalkan Sabiru. Mengapa Sabiru tidak bisa mengerti bahwa dia berubah mati-matian menjadi feminim hanya demi dirinya. Kenapa masih saja menyalahkannya. Dasar Sabiru egois.
Sabiru menggaruk kepalanya karena kesal. Novan yang jadi penonton dari tadi, mendekati Sabiru lalu menepuk bahunya "Sudah dikasih tau kalau ini pembahasan yang sensitif, kok masih lanjut dibahas. Jelas Aira ngambek lah bro".
"Sialan loe".
Novan tak menanggapi ejekan Sabiru, dia berjalan keluar kamar mengikuti Aira. Ternyata Aira menuju tepi pantai. Tak disangka disebuah tempat dekat sana ada sebuah meja makan dengan empat kursi berhias lampu kuning dan bunga. Mirip candle light dinner di tepi pantai untuk pasangan yang honeymoon, tapi ini kursinya untuk empat orang.
"Lho Ai... Mana yang lainnya?". Tanya Marcela yang hanya melihat Aira seorang diri ke tempat makan.
"Masih sibuk sendiri-sendiri, entar juga kesini". Balas Aira cuek.
"Ya udah duduk dulu, bentar lagi makanannya datang".
Sikap Marcela biasa saja justru membuat Aira curiga, tadi jelas jelas dia sangat bossy, tapi sekarang ramah sekali. Mumpung gak ada orang lain Aira mengumpulkan seluruh keberanian untuk bertanya "Cel, kenapa sih kita gak sekamar aja". Sebenarnya dia mau tanya kenapa Marcela mau sekamar dengan Sabiru? Tapi diganti dengan kata yang lain yang lebih sopan.
Marcela tersenyum, "Kita kan sudah dewasa Aira.... Aku mau mendapatkan Sabiru dengan cara orang dewasa".
"Cara orang dewasa?".
"Hai.. para gadis cantik". Sapa Novan yang tiba-tiba datang.
"Lho mana Biru?". Tanya Marcela pada Novan.
"Masih mandi".
"Owh".
Aira sebenarnya ingin bertanya lebih detail lagi dengan Marcela, namun keburu Novan datang, jadi Aira gak berani ngomong. Gak enak sama Novan, bagaimanapun juga Novan sahabat Sabiru, meskipun sikapnya kayak Tom and Jerry tapi friendshipnya ngalahin lem alteco.
Tak lama Sabiru juga datang, masih dengan sikap yang dingin. Melihat Aira sekilas, dia hanya sibuk makan saja. Aira kini tak memperdulikan Sabiru, ia masih kesal dengan Sabiru. Karena dia dilarang diet. Semua makanan di meja dicicipi semua oleh Aira, malam ini dia akan makan sepuasnya. Persetan dengan kalori atau bentuk tubuh. Saat ini Aira menumpahkan seluruh kekesalannya dengan makan.
Justru Novan mengambil kesempatan ini untuk mencuri perhatian Aira. Dari tadi Novan sibuk mengupas udang, kepiting dan lobster untuk Aira. Sampai-sampai Novan makan hanya sedikit.
Kini Sabiru sudah tak marah lagi, justru dia jadi cemburu melihat Novan dan Aira. Dilihat lihat justru Novan dan Aira seperti pasangan kekasih. Dengan kesal kepiting di meja banyak yang diremukkan oleh Sabiru, ia anggap kepiting itu adalah Novan.
Sebelum makan malam selesai, Marcela mulai menggaruk badannya, dan mengeluh gatal dan mual.
"Biru, aku kayaknya alergi kerang, dan perutku gak enak banget, rasanya pengen muntah terus". Ucap Marcela pada Sabiru.
"Emang kamu alergi kerang?". Tanya balik Sabiru.
"Sepertinya sih gitu, soalnya aku pernah makan udang dan kepiting gak ada reaksi apa-apa kok".
"Trus kamu bawa obat gak?".
"Bawa, ada di kamar, kamu tolong anterin aku ya ke kamar, please". Ucap Marcela dengan tampang yang memelas dan kesakitan.
Sabiru tak tega, sehingga ia berniat membantu Marcela, apalagi dia adalah dokter, gak mungkin membiarkan orang di sekitarnya sakit dan dia diam saja.
"Ya udah ayo".
Marcela kemudian berpamitan pada Aira dan Novan. Lagi pula wajah Marcela agak merah dan dia terus menggaruk tangannya. Tanpa berpikir panjang, Aira dan Novan menyetujuinya.
Di jalan menuju kamar Marcela masih terus menggaruk tubuhnya, Sabiru sudah melarang tapi Marcela tidak mau dengar. Sabiru berinisiatif memegang tangan Marcela supaya tidak menggaruk lagi. Marcela jadi senang.
Sampai dikamar Sabiru langsung menuju kamar mandi dan mencari handuk, dibahasi ujung handuknya dengan air panas lalu di bawa keluar.
"Sini yang gatal dilap pakai handuk dulu biar gak gatal". Kata Sabiru.
"Iya ". Marcela duduk di sofa dan menerima handuk dari Sabiru.
"Obatnya kamu taruh mana?".
"Di meja rias, ada pouch kecil warna putih".
Sabiru lalu mencarinya dan ketemu. Disana ada beberapa macam obat dalam botol kecil tapi tidak ada merek dan keterangannya sehingga Sabiru tidak bisa mengetahui obat apa saja. "Obat gatal yang mana?".
"Yang warna kuning".
Sabiru mengambil air mineral dan memberikannya pada Marcela begitu juga obatnya.
Marcela langsung meminumnya.
"Makasih ya Biru,..".
"Sama-sama Cel".
"Kamu benar-benar teman yang baik Biru, aku beruntung bisa kenal dengan kamu".
Sabiru diam. Pouch yang berisi banyak obat menarik perhatian Sabiru, kemudian ia bertanya pada Marcela "Kok kamu bawa banyak obat Cel?".
Raut wajah Marcela berubah sedih dan menjadi panik, "emm emmm itu...".
"Ada apa Cel?".
"Aku dulu pernah dianiaya".
Hah? dianiaya? "Maksudnya?". Biru sama sekali gak ngerti.
Marcela lalu mulai menceritakan masa lalunya "Dulu waktu SMA, usaha papa aku bangkrut Biru".
"Kok kamu gak cerita?". Sabiru baru tahu hal ini, padahal dulu Marcela pacarnya, dan dia sama sekali gak tahu hal ini.
"Aku malu kalau cerita soal ini".
"Terus?".
"Jadi dulu, usaha papa aku bangkrut. Papa minta uang sama kakek untuk modal usaha lagi. Kakek mau kasih asal papa menyetujui syarat dari kakek, yaitu aku dan adikku harus pindah ke Australia. Karena kakek memang warga Australia".
Sabiru diam, sedangkan Marcela mulai menangis.
"Waktu itu kebetulan aku udah ujian akhir dan lulus SMA. Jadi papa menyetujui permintaan kakek, lagi pula biaya kuliah juga dari kakek. Kalau aku menolak aku gak bisa kuliah Biru... Sebab papa memutuskan untuk menetap di Australia".
Marcela semakin menangis, "Aku gak tahu harus jelaskan apa ke kamu, karena papa bilang akan menetap di Australia, jadi kemungkinan aku balik ke Indonesia kecil banget. Sebenarnya aku gak mau tinggalin kamu waktu itu, tapi aku terpaksa, jadi ini lah alasan sebenarnya aku putusin kamu waktu itu hiks hiks hiks".
Ada rasa sakit di hati Sabiru, dulu ia sangat marah sekali pada Marcela karena memutuskan hubungannya begitu saja tanpa alasan yang gak masuk akal, dan kini semua sudah jelas. "Kenapa dulu kamu gak cerita sama aku sih Cel".
"Maaf Biru maaf... Aku gak mau ngebebanin kamu. Mangkanya aku tanggung sendiri.. hiks hiks maaf...".
Tangis Marcela semakin menjadi, dan air matanya semakin banyak yang keluar.
Sabiru melihat Marcela juga kasihan dan tidak tega, ia salah selama ini menganggap Marcela mempermainkannya. Tak sadar Sabiru memeluk Marcela yang menangis, mencoba menenangkan dengan mengelus punggungnya.
"Terus soal obat itu?". Pertanyaan ini masih belum dijawab Marcela.
"Demi untuk bisa melupakan kamu, aku pacaran dengan anak bule sana. Tapi ternyata sifatnya 180° berbeda dengan kamu Biru, dia sukanya party dan mabuk, dia selalu memaksa aku untuk ikut kemana pun dia pergi. Lambungku waktu itu bermasalah karena terlalu banyak minum alkohol dan masuk rumah sakit. Jadi sampai sekarang aku masih minum obat".
Tangan Sabiru di belakang Marcela mengepal erat, Sabiru merasakan marah mendengar cerita Marcela. Secara tidak langsung dia ikut andil menjadikan Marcela seperti ini.
"Aku sudah berulang kali meminta putus, tapi dia tidak mau, setelah aku masuk rumah sakit, akhirnya aku putus. Dan papa mengancam akan melaporkannya ke polisi jika masih saja mengganggu aku, akhirnya dia pergi. Sejak saat itu aku gak mau punya pacar lagi. Aku mau kamu Sabiru. Aku cinta sama kamu".
Marcela balik memeluk Sabiru erat. Dan Sabiru kali ini tidak menolak justru balik memeluk Marcela. Di sela tangisnya, Marcela tersenyum bahagia. "Sedikit lagi kamu pasti jadi milikku". Kata Marcela dalam hati.
Tangis Marcela mereda, tubuhnya sangat dekat sekali dengan Sabiru. Marcela berinisiatif menatap wajah Sabiru, dengan perlahan menyentuh bibirnya yang dingin.
Marcela it's a good kisser. Keahlian ini ia dapat dari latihan bersama pacarnya di Australia. Selama ini tak ada satupun yang mampu menolak pesona Marcela. Apalagi ciuman mautnya.
Termasuk Sabiru, jangan kira dia dokter tapi tidak mengerti hal semacam ini. Dulu waktu SMA dia pernah berciuman dengan Marcela sekali. Semenjak itu dia juga bertekad untuk lihai dalam hal ini.
Ditambah lagi perasaannya terhadap Marcela mendadak lunglai, tak ada rasa marah maupun kesal, justru dia ingin menyalahkan diri sendiri karena membuat Marcela seperti ini.
Karena terbawa suasana Sabiru juga membalas ciuman Marcela. Keduanya hanyut dalam ciuman yang dalam dan panas.
"Biru, I love you".
000
Aira mondar mandir di dalam kamar, sudah pukul 11 malam, Sabiru belum kembali. Aira jadi kuwatir. Handphone Sabiru tertinggal di kamar hotel sehingga Aira tak dapat menghubunginya. Telpon Marcela? Takut...
"Tidur dulu aja Ai.. mungkin Sabiru masih lama disana?" Kata Novan sambil lihat TV.
"Ini udah lama lho Van, dari waktu makan malam tadi. Masak minum obat lama banget".
Novan menertawakan Aira yang polos. "Ha ha ha".
"Apaan sih Van". Aira tak terima dia ditertawakan. Aira jadi cepat tersinggung karena sedang bingung.
"Gak mungkin cuma minum obat lah Ai, pasti Sabiru memeriksa yang lainnya juga".
"Memeriksa yang lain? Oh ya Sabiru kan dokter. Pasti Marcela sakit parah".
"Kamu umur berapa sih Ai? Masak gak ngerti cara orang dewasa?".
Cara orang dewasa, rasanya ia pernah mendengar kata-kata ini? Tunggu! Marcela juga tadi waktu makan malam juga berkata begitu.
Aira melotot dan histeris. "Oh tidak!". Otaknya mengarah ke pikiran yang aneh-aneh. Dua orang di kamar yang sama. Apakah mungkin Sabiru dan Marcela kembali bersama?.
Lalu bagaimana dengan dirinya?.
Aira mendadak punya ide konyol "Van apa kita kesana aja?".
Ampun deh Aira... Bisa terjadi perang dunia ke tiga nantinya. Novan memijat keningnya "No Aira, wait and go to sleep now".
"Tapi Van". Tolak Aira. Dengan keadaan seperti ini bagaimana bisa tidur sih.
"Please, kali ini kamu nurut kata kataku Ai.. ini demi kebaikan kamu".