'Hanasuka' adalah restoran Jepang yang dipilih oleh Aira untuk mempertemukan Sabiru dan Marcela.
Aira sendiri yang memilih tempat, waktu bahkan makanan yang akan dihidangkan di restoran itu.
Sengaja Aira memilih tempat ini karena restoran ini mempunyai ruang makan berkonsep bilik tertutup seperti tempat makan private yang ada di Jepang. Diharapkan ketika sedang berbicara tidak terganggu dengan suara bising di luar.
Aira menertawakan dirinya sendiri, sampai segitunya ia mempersiapkan ini semua demi seorang sahabat dan kekasihnya yang akan bertemu. Mengenang masa-masa indah ketika sekolah.
"Kamu lemah Aira". Katanya pada diri sendiri. Ia tidak punya kekuatan untuk mengaku pada Marcela jika Sabiru adalah pacarnya sekarang. Dan akibatnya, ia yang merasakan sakit sendiri.
Dimana Aira yang dulu?, Aira yang cuek dan pemberani, tegar dan optimis. Yang punya cita-cita konyol yaitu ingin berpacaran dengan Sabiru. Sekarang semua sudah bisa ia raih, namun keberanian dan optimisnya menjadi hilang setelah mendapatkannya. Kini yang tersisa hanyalah ketakutan.
Sudah pukul 5 sore, Aira bergegas menuju restoran untuk mengecek sekali lagi apakah sruangan yang ia pesan sudah sesuai dengan permintaannya atau tidak.
Aira memilih menggunakan taksi untuk menuju ke restoran, ia menolak Sabiru yang ingin menjemputnya. Takut ketahuan. Meskipun Sabiru berjanji akan menurunkannya di halte sebelum restoran, tapi Aira tidak ingin mengambil resiko.
Di tengah jalan Aira mampir ke toko bunga, ia membeli seikat rangkaian bunga. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, ia ingin Sabiru membawakan bunga untuk wanita lain. Sungguh murah sekali hati Aira...
Setelah mengecek ruangan yang telah ia booking, dan mendekornya seperti yang ia minta, Aira merasa puas. Sekarang hanya tinggal menunggu Marcela dan Sabiru datang.
Kurang setengah jam ternyata Marcela yang datang terlebih dahulu. Marcela berjalan bak model penuh percaya diri saat memasuki ruangan.
Marcela menggunakan rok sekpan pendek diatas lutut berwarna coklat, memperlihatkan kaki panjangnya yang putih mulus tanpa lecet sedikitpun, dipadukan dengan blouse tanpa lengan motif bunga-bunga kecil. Sungguh feminim. Riasan natural dan rambutnya yang dibiarkan terurai membuat kesan fress, dandanan Marcela malam ini sungguh chic dan muda, jika tidak tahu umurnya mungkin orang akan mengira ia masih anak SMA.
Dan Aira makin merasa insecure...
"Aira... Gimana penampilan ku sekarang?". Tanya Marcela sambil berputar di depan Aira.
"Cantik".
"Apa aku terlihat tua?".
"Tidak, justru kamu seperti anak ABG".
"Masa sih... Asal kamu tau Ai. Aku sudah susah payah memilih banyak baju biar terlihat masih anak SMA. Hemmm semoga Sabiru suka".
Aira saja yang perempuan setuju bahwa Marcela memang cantik, apalagi Marcela dimata pria.
"Tentu dia menyukainya". Jawab Aira.
Marcela tersenyum dan mengambil kaca kecil dari dalam tas Selempangnya.
"Aku ke toilet sebentar ya Cel". Pamit Aira.
"Ok" Marcela membalas tanpa melihat Aira.
Di toilet wanita, Aira ingin sekali menangis tapi ia tahan. Aira tidak mau jika Sabiru sampai mengetahui dirinya menangis takutnya Sabiru mengkhawatirkannya sehingga mengacaukan acting mereka di depan Marcela. Meskipun Aira insecure tapi ia tahu sifat Sabiru, dan Aira merasa bahwa saat ini sepertinya Sabiru masih menyukainya. Jadi dia tidak boleh menangis malam ini.
Setelah menenangkan dirinya, Aira menelpon Sabiru, ingin tahu dia sudah sampai atau belum namun tidak diangkat.
Aira memperbaiki penampilannya sebentar di depan cermin kemudian kembali ke ruang makan.
Aira melihat sepatu kets putih milik Sabiru di depan pintu ruang makan yang saat ini sedang tertutup, 'rupanya Sabiru sudah datang' kesimpulan Aira, Aira berniat masuk ke dalam dan membuka pintu geser perlahan-lahan, baru terbuka sedikit Aira mengintip dari balik pintu, ternyata...
Marcela dan Sabiru berciuman!
Nyawa Aira rasanya langsung lepas dari raganya, menyisakan tubuh yang kaku dan aliran darah terhenti. Organ yang masih bekerja hanya kedua buah mata, yang memproduksi kristal bening tanpa permisi langsung terjun ke pipi.
Harusnya dia tahu akan begini tapi mengapa masih saja dia sedih.
Di pertemuan pertama mereka berdua sudah berciuman. Bukankah ini tanda jika hubungan mereka membaik.
Aira kemudian berjalan bagaikan zombi ke pintu keluar restoran, meninggalkan Sabiru dan Marcela berdua di dalam. Lebih baik Aira pergi daripada menjadi obat nyamuk disana. Masih dengan derasnya air mata Aira menuju jalan raya untuk mencari taksi. Ia ingin segera pulang.
Tin tin tin
Suara klakson berbunyi tepat di samping Aira.
Aira menoleh ke jendela mobil yang baru saja terbuka "Dokter Novan".
Melihat Aira bercucuran air mata membuat Novan terkejut, ia baru kali ini melihat Aira menangis. Ada apa ini?.
"Aira.. Kamu kenapa? Mau kemana?".
"Pulang".
"Kok nangis? Mana Sabiru, katanya ngajak makan malam disini?".
Aira menatap Novan dan menghapus air matanya.
"Sabiru ngajak dokter Novan makan malam disini?". Tanya Aira.
"Iya, kata Sabiru aku mau dikenalin sama seorang cewek cantik disini, lumayan kan Ai, biar aku gak jomblo terus". Dan barang kali mirip kamu juga Aira, kata Novan dalam hati.
Siapa yang akan dikenalkan oleh Sabiru? Bukankah acara makan malam ini untuknya dan Marcela.
"Sabiru bilang gak siapa nama cewek yang akan dikenalin ke dokter Novan?". Tanya Aira.
"Enggak tuh, katanya sih temen SMA nya yang baru pulang dari Aussie".
Marcela!. Ya siapa lagi kalau bukan dia? Tapi mengapa Sabiru mengundang Novan?.
"Aira... Ai..." Panggil Novan yang tiba-tiba sudah turun dari mobil dan berada di depan Aira.
"Dokter Nov...".
"Panggil Novan aja Aira kalau di luar rumah sakit".
"Novan". Ucap Aira sesuai permintaan.
"Ya udah, masuk yuk. Sabiru pasti udah nungguin. Tapi oh ya kenapa kamu keluar? Mau kemana sih kamu Ai?". Novan tiba-tiba teringat Aira yang tadi keluar dari restoran sambil menangis.
"Kita cari makan diluar ya Van? Jangan disini, aku yang traktir deh". Kata Aira mengalihkan pembicaraan.
"Lho kenapa?".
"Soalnya....".
"Aira, Novan".
Teriak Sabiru dari belakang. Kemudian berjalan cepat kearah Aira dan Novan.
"Bro, kayaknya gue gak jadi masuk deh, gue mau ditraktir Aira makan di tempat lain". Ucap Novan langsung pada Sabiru. Jelas sekali Novan pasti lebih memilih makan dengan Aira daripada menghadiri undangan makan dari Sabiru meskipun nantinya akan dikenalkan kepada seorang wanita cantik, dimata Novan yang paling cantik saat ini tentu Aira.
Sabiru merasa kebingungan, tapi ia akhirnya paham tujuan Aira. Aira pasti ingin memberikan waktu untuk dirinya dan Marcela tapi Sabiru juga tidak tega melihat Aira pergi, meskipun hanya makan dengan sahabatnya sendiri.
"Kamu kenapa keluar? Mana Marcela?" Dengan menundukkan kepalanya Aira bertanya pada Sabiru.
Suara Aira sedikit sumbang, Sabiru kemudian mengangkat kepala Aira ke atas menghadap wajahnya, Aira menolak tapi sudah di pegang erat oleh Sabiru. Mata Aira merah dan basah, masih tersisa jejak air mata yang belum dihapus di pipi.
Hati Sabiru remuk melihat Aira seperti ini, karena ini bukan air mata bahagia. Tapi air Aira kesedihan.
"Novan, cepet bawa mobil loe parkir di dalam, gue tunggu di receptionis". Pinta Sabiru.
"Lho... Aira mau anjak gue makan di luar".
"Gak usah banyak omong, cepet masuk". Suara Sabiru sedikit tegas dan keras.
Novan merasa ada sesuatu tapi ia tidak tahu, mungkin Sabiru dan Aira sedang bertengkar sehingga Novan menuruti kemauan Sabiru dan masuk ke mobil.
Selepas Novan pergi, Aira berusaha melepas tangan Sabiru di pipinya, gimana kalau Marcela menyusul ke luar dan melihat ia dan Sabiru?.
"Lepas". Pinta Aira.
"Kamu kenapa nangis?". Tanya Sabiru.
Butiran bening keluar lagi dari kedua mata Aira. Tak sanggup rasanya mulut ini menjawab pertanyaan itu.
Sabiru langsung memuluk tubuh Aira dengan erat. Hanya ini yang bisa ia lakukan saat ini.
"Ini kamu yang minta sayang, apa kamu menyesal?". Tanya Sabiru.
'Ya Biru, aku sangat menyesal' ucap Aira dalam hati. Air mata Aira semakin banyak dan sesenggukan. Aira membalas pelukan Sabiru dengan pelukan yang erat seolah melarangnya untuk pergi.
"Atau kita pulang aja sekarang?". Sabiru memberi saran, sebenarnya ia juga gak tega melihat Aira seperti ini.
Aira menggeleng, "Jangan biru, gimana dengan Marcela dan Novan, mereka pasti tungguin kamu".
"Nunggu kita berdua sayang". Sabiru membetulkan.
"Aku gak papa kok, cuma kelilipan tadi, kamu masuk gih". Aira mendorong pelukan Sabiru.
"Kamu pinter ya kalau bohong" ucap Sabiru sambil mencubit hidung Aira. "Ayo aku antar ke toilet".
"Gak usah, aku mau pulang".
"Kalau gitu kita pulang bareng".
"Jangan".
Sabiru POV
Masih kurang 15 menit dari janji waktu yang sudah ditentukan oleh Aira, aku ingin melihat keadaan Aira dulu di restoran sebelum bertemu dengan Marcela.
Jika ditanya apakah aku ingin bertemu dengan Marcela? Jawabannya adalah tidak. Aku dan dia sudah selesai sejak lama, sudah tidak ada rasa dendam, sedih atau menanti kabar dari dia. Ini semua aku lakukan hanya karena Aira.
Aku masuk ke ruangan yang sudah diberitahukan oleh Aira. Ruang VIP no 8. Pintunya terbuka separuh. Dan ada sepatu wanita di depan.
"Halo".
Wanita itu menoleh dengan tersenyum, "Marcela".
"Hai Biru, apa kabar?". Tanyanya.
"Baik, mana Aira?".
"Oh dia masih di toilet". Kemudian Marcela menarikku untuk duduk. Dan menuangkan segelas teh di cangkir kecil khas negara Jepang.
"Aku senang kamu datang Biru".
Aku tersenyum tak menanggapi.
Marcela menarik tubuhku agar berhadapan dengannya. "Biru, aku minta maaf atas semua kejadian 7 tahun lalu".
"Maksudnya?". Aku tidak benar-benar mengerti.
"Kamu tau kan kalau aku suka sekali masak? dari kecil aku pingin banget jadi koki. Berhubung ada kesempatan untuk studi di Australia, jadi kesempatan itu tidak aku sia-siakan". Marcela menghembuskan napas dan melanjutkan perkataannya "Aku terpaksa memutuskan hubungan kita waktu itu Biru, aku pikir agar aku fokus untuk belajar tapi ternyata aku salah".
Marcela mulai meneteskan air mata " Hari-hari disana terasa kosong tanpa kamu Biru, aku ternyata tidak bisa melupakan kamu, bahkan sampai sekarang.sekarang". "Biru, aku cinta sama kamu".
"Apa?".
Marcela kemudian maju dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.
Aku yang masih shock masih tidak tahu harus merespon apa?.
Bibir Marcela semakin bermain dengan bibirku sambil menyesapnya pelan, lidahnya yang licin bermain main di rongga mulutku dengan nakal. She is good kisser. Instingku berkata aku mempunyai lawan yang sepadan dalam berciuman.
Tapi otakku punya pendapat yang berbeda. Bayangan wajah Aira diselipkan dalam benakku. Wajah ayu dengan pipi sedikit chubby yang sama sekali tidak jago berciuman.
Ohh God, di depan mataku ini bukan Aira!. Wake up.
Aku tersadar dari buaian dan segera mengakhiri ini dengan mendorong Marcela.
"Kenapa Biru?".
"Stop it".
Aku segera berdiri dan menuju pintu keluar.
"Biru tunggu". Marcela mencoba menahanku.
"Aku ke toilet sebentar". Kataku tanpa menoleh, kakiku sudah tidak sabar meninggalkan ruangan ini.