10

1687 Kata
"Boleh aku bicara sebentar?". Tanya Novan saat Sabiru baru saja masuk ke ruang periksanya di rumah sakit. "Lu udah lama disini?". Tanya Sabiru balik lalu duduk di kursi kebanggaannya. "Heh" Novan menyengir karena pertanyaan Sabiru. "Langsung aja kalau gitu. Sebenarnya ada apa sih antara elu, Aira sama Marcela?". Tanya Novan serius. Sabiru menatap wajah Novan, Novan adalah orang yang cukup pintar, dokter lulusan luar negri dengan nilai cumlaude, tidakkah dia tahu dari kondisi semalam apa yang sebenarnya terjadi?. "Seperti yang ada di pikiran lu!". Jawab Sabiru enteng. "Jangan bilang cinta segitiga?". Sabiru manggut- manggut, "bisa juga seperti itu". Bruakkkkkk Novan menggebrak meja Sabiru dan mengumpat "s**t!". "Dan elu, melibatkan gue ke dalam segitiga bermuda itu?. Gila loe!". Teriak Novan karena kesal. "Gak perlu sehisteria itu bro. Aku menawarkan win win solution Van. Elu dapat pacar, dan gue bisa bersama Aira". Kata Sabiru dengan santai. Novan mendelik mendengar ucapan Sabiru. "Apa yang loe bilang? Ha ha ha... Maksud loe bukan gue dijadikan tameng supaya hubungan elu dan Aira aman dari Marcela kan?". Ucap Novan dengan sinis. Dengan ekspresi datar Sabiru pun pasrah "Sorry bro". "What? Sorry? Cuma ini?". "Gue gak mau kehilangan Aira Van, gue udah cinta mati sama Aira. Apalagi setelah gue tahu Marcela masih menyukai gue. Gue jadi takut. Gue menyetujui pertemuan kemarin hanya demi Aira. Ia sudah didesak oleh Marcela. Sepertinya Aira juga sudah tahu kalau Marcela punya niatan untuk balikan sama gue. Tapi Aira gak ngomong. Mangkannya Aira ngajak backstreet. Tapi jujur sulit buat gue untuk menutupi hubungan gue dengan Aira dari Marcela, jadi gue perlu bantuan loe supaya Marcela berpaling dari gue ke elu. Sehingga hubungan gue dan Aira gak backstreet lagi. Elu mau kan Van?". Sabiru menjelaskan situasinya dengan detail berharap Novan mau membantunya. "Tapi kenapa elu gak ngomong dari awal bro". "Gue takut elu gak mau". "Ohhh jadi elu ngejebak gue? Iya?". Sabiru mengangkat bahunya, "Gue kan udah bilang sorry tadi". Novan jadi frustasi, sungguh sulit berbincang dengan Sabiru secara baik-baik. Perlukah dia mengeluarkan senjata tajam?. Yang pasti koleksi pisaunya cukup lengkap. Dengan menahan emosi Novan berkata "Gue ini ngomong serius Sa.. bi.. ru..". "Udah siang Van, elu gak ada pasien apa?". Sabiru ingin menyelesaikan pembicaraan ini. "Elu tuh..." Novan yang tidak tahan dengan sikap Sabiru yang cuek dan dingin terpaksa menodongkan telunjuknya ke arah Sabiru. Novan ingin marah tapi jika ia marah Sabiru tetap cuek bebek. Gak ada artinya. Hanya membuang energi dia saja. Mungkin lebih baik bertemu dengan Aira, Aira dirasa masih waras ketimbang Sabiru. Terpaksa Novan melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan Sabiru dan menutup pintu hingga berbunyi keras. Banyak suster dan pegawai medis lainnya terkejut dan menoleh ke arah dokter Novan. Apakah dokter Novan sedang marah? Kemana senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya?. Pikir suster. Sedangkan di dalam ruangan Sabiru hanya menghembuskan napas dan menggeleng gelengkan kepalanya. "Novan... Novan...". 000 Aira melihat jam tangannya. Sudah pukul satu siang, Aira berencana makan siang dengan Sabiru di rumah sakit, meskipun semalaman dia dan Sabiru tidak saling memberi pesan atau kabar, namun kebiasaan makan siang dengan Sabiru masih sulit untuk tidak ia lakukan. Perasaan Aira berkata Sabiru pasti menunggunya untuk makan siang bersama. Setelah pulang mengajar, Aira segera menuju warung prasmanan dekat sekolah. Memesan 2 bungkus nasi campur plus sayur bening. Tak lupa 2 gelas jus jambu merah sebagai minumannya. Siang hari yang terik tak menghambat Aira melajukan motor matic kesayangannya ke rumah sakit tempat Sabiru bekerja. Tok tok tok Sabiru tersenyum sambil menoleh ke arah pintu yang diketuk. Ia sudah sangat menantikan Aira datang, terutama perutnya yang sudah minta diisi. "Masuk". Kata Sabiru lantang. Cekrek Pintu tersebut pelan pelan terbuka dan menampilkan sesosok wanita cantik berdiri disana. "Marcela". "Hai Sabiru...". Sapa Marcela dengan senyum manisnya. Sungguh terkejut Sabiru melihat Marcela tiba-tiba ada di depan ruangannya. Mau apa dia kemari?. "Boleh masuk?". Tanya Marcela melihat Sabiru masih terkejut. "Bo.. boleh..". Marcela masuk ruangan Sabiru sambil melihat sekeliling. Foto Aira dan Sabiru yang terpajang di sebuah pigora di atas meja kerja langsung Sabiru ambil dan dimasukkan ke dalam laci meja. "Ruangan kamu nyaman sekali ya?". Ucap Marcela basa-basi. "Semua ruangan dokter sama kok Cel". "Oh ya kamu kok tau aku kerja disini?". "Apa sih yang aku gak tau soal kamu Biru". Sabiru memutar mata keatas, ia mulai malas meladeni Marcela. "Oh ya aku bawakan makan siang spesial buat kamu". Kata Marcela sambil meletakkan sebuah kotak makan berwarna biru dongker di atas meja kerja Sabiru. Sabiru hanya melirik tanpa ada minat sedikitpun. "Aku tau kamu belum makan siang, aku tadi telpon rumah sakit dan suster yang kasih tau aku semua". Tangan Marcela dengan lihat membuat kotak makan bersusun tiga itu. "Ini aku semua yang masak". Imbuh Marcela. Sabiru memang lapar namun nafsu makannya tiba-tiba hilang, bahkan bekal yang di bawa Marcela seperti biasa saja baginya. Marcela menyodorkan sendok dan garpu ke arah Sabiru. "Ayo dimakan". "Aku sudah makan Cel". Sabiru menolak dengan halus. "Dicicipi aja dulu, aku sudah capek capek masak buat kamu dan bawa langsung kesini lho, masak gak dimakan walaupun sedikit?". Bujuk Marcela. Dengan terpaksa Sabiru mengambil sendok dan garpu dari tangan Marcela, Sabiru mencicipi tempura goreng, rasanya... Lumayan... Justru aneh jika makanan ini tidak enak, Marcela merupakan koki lulusan sekolah internasional, mustahil jika ia tidak bisa membuat makanan seperti ini. "Gimana rasanya?". Tanya Marcela yang penasaran apa penilaian Sabiru tentang masakannya. Marcela lebih ke spesialis desert waktu sekolah masak, tapi untuk makanan sehari-hari ia juga bisa. Karena hobinya memanglah masak. "Enak". Ucap Sabiru. Marcela cukup senang, ini baru pertama kalinya ia memasakkan makanan untuk Sabiru, dan hasilnya sesuai bayangannya. "Kalau gitu makan lagi, ada sup dan puding juga. Kamu pasti suka". Sabiru melirik jam tangannya di bawah meja, 'sudah jam segini mengapa Aira belum datang?'. 000 Setelah memarkirkan motor kesayangannya, Aira segera bergegas ke tempat pos jaga para suster. Aira menanyakan apakah Sabiru masih ada pasien atau tidak. Itu sudah kebiasaan baginya meskipun Sabiru sudah menyuruh suster untuk meluangkan sedikit waktu di jam prakteknya untuk urusan pribadi. "Selamat siang suster". Sapa Aira setelah tiba di pos penjaga. "Selamat siang mbak Aira". Jawab suster sedikit gugup. "Dokter Sabiru masih ada pasien?". "Emmm". Suster tersebut sedikit galau karena ia tahu ada wanita lain yang mengaku teman dokter Sabiru baru saja masuk ke ruangan dokter Sabiru. Bawa rantang makanan lagi. Pasti bukan hanya sekedar teman biasa. Tapi bagaimana ngomongnya sama mbak Aira ya??. "Aira?". Aira menoleh dan mendapati Novan sudah berada di belakangnya. "Selamat siang dokter Novan". "Selamat siang". Suster tersebut kemudian buru-buru menginterupsi "Mbak Aira, dokter Sabiru masih ada pasien". "Owh ya, ya sudah kalau gitu saya tunggu di kursi depan ruangannya" "Jangan mbak". Ceplos suster. "Kenapa?". "Soalnya.." suster tersebut kemudian memberi kode mata kepada dokter Novan untuk membantunya. Novan yang memang sudah tau bahwa Marcela datang, langsung mengerti kode yang diberikan suster. "Emmm Aira, boleh ikut ke ruangan saya, saya ada sesuatu hal yang perlu di bicarakan". "Ohhh baiklah". Kata Aira. Suster tersebut langsung lega, ia mengatupkan tangannya ke arah dokter Novan dan tanpa bersuara bibirnya mengucapkan terima kasih. "Silahkan duduk Aira". Novan mempersilahkan Aira untuk duduk di kursi pasien saat akan diperiksa. "Mau minum apa?". "Tidak perlu dokter Novan". Tolak Aira. "Oh ya ada hal apa yang perlu dibicarakan dengan saya?". "Buru-buru amat sih Ai...". "Lho bukannya kamu sendiri tadi bilang ada suatu hal yang perlu di bicarakan?". Novan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya itu cuma alasan. "Emmm gimana hubungan kamu sama Sabiru?". Aira sedikit terkejut dengan pertanyaan Novan, bukankah semalam sudah cukup jelas. "Baik". Jawab Aira singkat. "Maksudku... Kedepannya". Tanya Novan hati-hati. Aira menunduk, ia juga belum tau bagaimana kedepannya. Ia benar-benar tidak bisa jika harus disuruh memilih antara Marcela dan Sabiru. Aira ingin dua duanya. "Asal kamu tahu Ai... Kemarin Sabiru menyuruhku untuk mendekati Marcela, tujuannya supaya Marcela berpaling ke aku dan meninggalkan Sabiru. Itu tujuan sebenarnya mengajak aku ke makan malam kemarin". Hah!. "Apa?". Aira terkejut mendengarnya. Sabiru menyuruh Novan untuk mendekati Marcela. Pantesan kemarin Novan juga datang padahal acara makan malam itu untuk Marcela dan Sabiru. "Untuk apa Sabiru melakukan itu?". "Sebenarnya Sabiru sudah punya firasat Ai bahwa Marcela punya tujuan khusus mengajaknya bertemu. Tapi karena kamu gak ngomong apa-apa, makannya Sabiru membuat keputusan ini sendiri tanpa sepengetahuan kamu". Aira speachless. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. "Awalnya Sabiru cuma bilang mau kenalin seorang wanita ke aku, karena aku udah lama jomblo, jadi yaaa bolehlah. Tapi sungguh terkejutnya aku kemarin melihat situasi diantara kalian bertiga. Jujur aku shock Ai... Sabiru gak ngomong apa-apa sebelumnya. Nothing. Aku udah kaya orang b**o disana. Bahkan sekarang ingin rasanya mencincang tubuh Sabiru dengan pisau bedah ku. Sayang sekali dia sahabatku, sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa". Novan merasa geli karena tidak bisa berbuat apa-apa pada orang bren*sek seperti Sabiru. Aira tertawa mendengar ucapan Novan "ha ha ha kamu bisa aja Van". "Serius Ai,... Sikap cueknya itu lho gak ketulungan!. Seandainya dia ngomong baik-baik sama aku, Van kamu harus gini, kamu harus gitu soalnya begini, sebab begitu. Kan enak Ai..". Aira mengangguk. Novan adalah teman baik Sabiru saat menjadi koas hingga sekarang tapi rupanya Novan masih belum terbiasa dengan sifat Sabiru yang cuek dan dingin. Atau memang Sabiru sudah keterlaluan. "Bukannya tiba-tiba aku diceburkan ke dalam lautan segitiga Bermuda kalian bertiga". Sambung Novan. "Segitiga bermuda?". "Ya cinta antara kamu, Sabiru sama di Marcela itu". Keluh Novan. Aira tertawa semakin keras "ha ha ha". Novan melihat Aira yang sedang tertawa sungguh cantik luar biasa. Apakah Sabiru juga selalu membuatmu tertawa Aira?. Aku sungguh ingin merebutmu dari Sabiru. Biarlah Sabiru yang bersama Marcela. Dihatiku, hanya kamu yang paling istimewa. "Ya udah deh kalau gitu aku ke ruangannya Sabiru dulu ya Van". Pamit Aira tiba-tiba. "Eh eh tunggu dulu". Novan berusaha menahan Aira. Gawat kalau Marcela masih ada disana. "Apa lagi?". "Emmm..". Novan melirik sebuah bungkusan di tangan Aira. "Itu apa?". Tunjuk Novan. "Makan siang Sabiru". "Buat aku ya, aku lapar nih belum makan". Ivan sungguh berharap Aira memberikannya. "Tapi... Besok aja ya aku bawain". "Tapi Ai...". "Kamu kenapa sih Van kenapa hari ini aneh?". "Hah! Oh enggak enggak... Aneh apa sih". "Ya udah kalau gitu aku keruangan Sabiru, bye dokter Novan". "Bye". Novan kemudian mengambil handphone dari saku celananya "Bro gue tau Marcela ada disana, tapi Aira menuju ruangan elu sekarang".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN