Bagas berlari kencang di sepanjang koridor rumah sakit. Beberapa pasien yang sedang berjalan hampir saja tertabrak olehnya. Untung Kinan yang berlari mengikutinya, selalu meminta maaf. Bagas sangat takut Mami pergi secepat ini. Dia akan benar-benar menyesal, selama ini belum bisa berbakti. Bagas membuka ruang perawatan VVIP. Bagas meneteskan air matanya, melihat wanita yang sangat dia hormati dan sayangi sedang terbaring lemas di ranjang dengan bantuan alat pernafasan juga selang infus di tangannya. Bagas melangkah perlahan, menahan air matanya. Bagas menyeret bangku agar lebih dekat dengan ranjang Mami. Bagas duduk di bangku itu. Tangannya langsung menggemgam tangan Mami dan sesekali menciumnya. "Mi, maaf" lirih Bagas. "Mi, jangan tinggalin Bagas. Bagas belum membuat Mami bahagia. Bagas

