LFU 6

1355 Kata
Leon bukannya tidak tahu apa yang terjadi pada Rere saat ini. Ia melihat semuanya, mendengar dengan jelas apa yang Rere perbincangkan dengan laki-laki itu. Kalau tidak salah namanya Mahesa, dan jika tidak salah tebak, dia adalah calon suami Renata. Dan yang mengejutkannya lagi, laki-laki itu ternyata adalah laki-laki dari masa lalu Rere. Tadi pagi, Leon memang sengaja mendatangi rumah Rere karena ia tahu gadis itu begadang semalaman untuk menyelesaikan lukisannya. Laki-laki yang mengenakan jaket hitam itu memang sengaja membawakan Rere bubur. Rencananya ingin mengajak gadis yang sudah resmi menjadi pacarnya itu sarapan. Namun sayang, apa yang ia lihat membatalkan rencananya. Awalnya Leon terkejut dan mengira Rere diculik saat melihat gadis itu dibopong oleh seorang laki-laki dan dimasukkan ke dalam mobil. Leon yang sempat emosi dan hendak turun dari motor mengurungkan niatnya. Karena ia mengenali laki-laki yang sedang mengitari mobilnya itu. Dan lagi, saat di dalam mobil Rere tidak terlihat meronta meski berusaha untuk keluar. Selanjutnya malah keduanya terlihat saling diam. Leon akhirnya memutuskan untuk mengikuti mobil yang membawa Rere hingga ke taman ini. Laki-laki itu berhasil bersembunyi dan mendengarkan semuanya. "Yon!" "Ya?" kata Leon pelan. Tangannya masih mengusap lembut rambut panjang Rere yang nampak berantakan. Bahkan Leon yakin Rere belum mandi. Malah kalau tidak salah gadis ini belum menyentuh air sama sekali. "Gue laper," kata Rere tanpa melepaskan pelukannya. Leon nyaris tertawa mendengar itu. Iapun mengurai pelukannya dan menatap wajah Rere yang nampak basah. "Yono! Nggak usah cengengesan! Gue beneran laper!" Leon makin tergelak, "Oke-oke, ternyata orang patah hati bisa laper juga?" Rere hanya berdecak dan menyikut perut Leon saat akhirnya mereka berjalan beriringan. "Gue traktir, tapi abis makan lo janji harus cerita semuanya, oke?" "Nggak janji, gue males bahasnya, Yon!" Leon menghentikan langkahnya, menatap serius mata Rere yang masih sembab. "Lo beneran anggep gue pacar, kan? Lo nggak lagi main-main sama gue, kan?" tanyanya penuh dengan keseriusan. Rere menunduk, menggigit bibirnya. Sebenarnya ada rasa penyesalan dalam hatinya. Ia menyesal, karena menjadikan Leon pelarian. Bagaimana, jika pada akhirnya nanti dia tidak bisa menulis nama Leon dalam hatinya. "Re." Leon menunduk, memegang kedua pundak Rere untuk bisa melihat wajahnya. Rere menghela napas panjang, mendongakkan wajahnya untuk membalas tatapan Leon. "Ya, gue serius! Tapi, sebenernya gue juga takut," cicitnya di ujung kalimat. "Takut kenapa?" tanya Leon meski sebenarnya ia sudah bisa menebak apa ketakutan yang Rere maksud. "Gue takut bakal nyakitin Lo, maaf," kata Rere kembali menundukkan wajahnya. "Hei! Ini bukan Rere yang gue kenal!" kata Leon sembari tersenyum. Rerepun kembali mendongakkan wajahnya. "Rere yang gue kenal, nggak pernah menyesali keputusannya. Rere yang gue kenal, nggak lemah dengan keadaan. Rere yang gue kenal, bakalan tetep maju ... walaupun pada akhirnya dia akan hancur." Mata Rere mengerjab, mengamati mata sipit Leon yang terlihat seperti garis lurus, karena laki-laki itu tengah tersenyum. "Tapi kali ini, kemungkinan besar yang bakalan hancur itu lo, Yon!" "Gue terima resiko itu. Gue nggak takut!" katanya yakin. "Tapi ...." Leon menggeleng, merangkul pundak Rere dan sedikit memaksanya untuk melanjutkan langkah. "Yang terpenting buat gue itu kesempatan, Re. Gue seneng, karena lo udah ngasih itu ke gue. Dan sekarang, gue akan berjuang. Kita memang nggak akan tahu ke depannya nanti akan seperti apa. Tapi jika memang nanti gue harus dinyatakan gagal. Gue nggak akan pernah menyesal. Karena gue gagal setelah berjuang. Gue bukannya kalah sebelum melakukan apa-apa," katanya begitu yakin. Seolah apa yang akan ia hadapi adalah hal kecil. Rere mendesah kecil, kembali mendongakkan wajahnya. Menatap wajah Leon dari samping. Dia masih tidak yakin dengan keputusan ini. Tapi jika Leon saja seyakin itu. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah mencoba membuka hati. * "Jadi, dia pindah ke Australi karena ayahnya dipindah tugas ke sana?" Rere mengangguk, tidak langsung menjawab karena mulutnya sedang penuh dengan makanan. Kedua orang itu memutuskan makan di MCD karena kebetulan lokasinya tidak jauh dari taman kota. "Terus, dia janji bakalan pulang dua tahun kemudian?" Rere kembali mengangguk, lalu menyeruput air mineral. "Ayahnya pensiun, dan rencananya sekeluarga bakalan menetap di Indonesia lagi," katanya. Ia pamit untuk mencuci tangan sebentar, lalu tak berapa lama kembali. Rere kembali meneguk minumannya sebelum kembali bercerita. "Tapi dia nggak kembali di hari yang dijanjikan," kata Rere pelan, lalu mengembus napas kasar untuk menghapus semua kesedihan yang tiba-tiba hadir lagi. "Dan cerita selanjutnya, lo udah denger sendiri kan tadi?" Leon meringis sembari mengusap lehernya. Dia memang sudah menceritakan apa yang ia lakukan tadi. Tidak sengaja mendengar perdebatan Rere dan mantan pacarnya. Mantan pacar? Leon tersenyum sendiri saat mengucapkan dua kata itu. Akhirnya, Rere sudah tidak terikat oleh siapapun sekarang. "Tadi, gue pikir lo bakalan diculik orang," kata Leon sembari terkekeh. "Kenapa lo nggak nyamperin gue? Kan gue nggak harus ngobrol sama dia!" sungut Rere tanpa mau menyebut nama Mahesa yang sering ia panggil Eza. "Masalah kalian harus diselesaikan, Re. Biar nggak ada ganjalan. Lagian gue nggak mau disebut pebinor!" Leon tertawa geli mendengar kalimatnya sendiri. "Korban medsos," cibir Rere yang hanya ditanggapi cengengesan Leon. "Tapi sekarang udah lega, kan?" Rere menghela napas panjang, lalu mengangguk. Meski hatinya masih terasa sakit, namun ia akui ada rasa lega yang hadir. Ia seolah baru saja lepas dari sebuah tali tak kasat mata. Leon menarik jemari Rere yang berada di atas meja. "Cuman butuh waktu, buat nyembuhin luka kamu." Rere tak menjawab, ia menatap lekat mata Leon yang kini menampakkan senyum. "Gue akan coba bantu lo buat move on," kata Leon sembari meremas jemari kecil itu. Rere tersenyum tipis. Meski tak yakin hatinya akan semudah itu sembuh, dan berpaling pada yang lain. Namun tidak ada salahnya untuk mencoba. Setelah selesai meneguk sisa menumannya. Keduanya pun bangkit untuk pulang. Rere baru sadar, jika mereka dari tadi menjadi perhatian banyak orang. Jika biasanya dia tidak peduli. Namun entah kenapa untuk saat ini ia merasa risi dipandangi dengan bisik-bisik seperti itu. Leon yang menyadari hal itu segera menggandeng tangan Rere. Seperti biasa, Rere berusaha menarik tangannya. Tapi kali ini Leon tidak melepasnya. Ia makin mengeratkan genggamannya dengan senyum mengembang. Rere hanya bisa menunduk dan berjalan mengikuti langkah Leon. * "Makasih, ya," kata Rere saat turun dari motor besar Leon. Laki-laki itu malah tertawa geli. "Kenapa ketawa?" "Lo sadar nggak, si? Baru kali ini gue denger kata itu dari bibir lo Rere." Gadis itu malah nampak berpikir. "Terima kasih, gue harus nunggu jadi pacar lo dulu buat denger kata itu!" Leon menepuk kening Rere pelan. Rere malah mengerucutkan bibirnya. "Jadi lo nggak iklhas selama ini nolong gue?" Laki-laki yang masih duduk di atas motor itu makin tertawa geli. "Ya nggak gitu juga!" "Udah gih pulang!" kata Rere pura-pura marah. "Bener nih, ngusir? Jangan kangen loh," godanya sembari mengenakan kembali helmnya yang tadi sempat dilepas. Rere mencibir, "Nggak usah ngimpi!" Leon tertawa kecil, lalu mengembuskan napas pendek. Ia menatap lembut mata Rere yang kali ini nampak bingung karena Leon berubah serius. "Ada saatnya, lo bakalan kangeeenn banget sama gue. Dan jika saatnya itu tiba, gue harap nggak ada air mata yang keluar dari sini." Leon mengusap kedua mata Rere. Gadis itu tak merespon. Ia hanya mengerjabkan matanya bingung. "Biasa aja nggak usah bengong!" kata Leon sembari mendorong pelan kepala Rere dengan telunjuknya. Lalu melajukan motornya dengan gelak tawa saat Rere menampakkan wajah kesal. "Yono! Awas lo, ya!" decak Rere gemas. Namun laki-laki itu sudah menghilang dengan deru motor besarnya. Rere mengembus napas pendek. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sembari merogoh saku celananya. Di mana ponselnya bergetar menandakan satu pesan masuk. Mata Rere langsung melebar saat membaca isi pesan dari ibunya itu. Mama :  Jangan ke mana-mana, bentar lagi mama pulang. Katanya Mahesa mau dateng ke rumah. Mau ngomong penting. Gadis itu menggigit bibir. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi cemas. Apa yang diinginkan laki-laki itu? Mengacaukan kehidupannya lagi? Rere mengerang kesal. Lalu mengetikkan pesan balasan untuk memastikan sesuatu. To Mama : Emangnya ada perlu sama aku? Bukannya entar malem aja kalau Rena udah pulang. Rere kembali menggigit bibir. Jantungnya seketika jumpalitan. Takut membaca pesan balasan dari mamanya lagi. Mama :  Katanya ada perlunya sama kamu. Rere berdecak kesal. Lalu dengan menghentakkan kakinya, ia kembali melangkah untuk masuk ke dalam rumah. Entah apa yang akan terjadi nanti. Semoga saja, Mahesa tidak nekad dengan membatalkan rencana perjodohannya dengan Renata. Karena Rere yakin. Jika itu terjadi, maka dia yang akan disalahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN