Terkadang, seseorang menjadi begitu berarti saat dia memutuskan untuk pergi. Kehadirannya yang dulu sering diabaikan, menjadi begitu penting setelah dia memutuskan untuk berhenti berjuang. Rere menggigit bibir, sesekali melihat layar ponselnya yang masih saja hening. Matanya mendongak, melihat jarum jam yang sudah menunjuk angka sepuluh. Lalu sambil menghela napas, ia mengamati pemandangan gelap di luar sana dari balik kaca jendela, yang tirainya sengaja ia buka. Rere segera mengambil ponselnya saat benda pipih itu berdenting. Tapi bahunya merosot dengan bibir mengerucut karena pesan yang masuk bukanlah dari seseorang yang ia tunggu. Rere kembali meletakkan ponselnya tanpa berniat membaca apalagi membalas pesan yang Mahesa kirim. Jangan salahkan Rere yang terkesan labil. Hati juga memil

