06 MPH

848 Kata
"Terimakasih atas kerja sama saya harap kalian semua bisa berkerja dengan baik," ucap Bara dan disambuti oleh tepuk tangan para karyawan yang berada didalam ruangan rapat tersebut, tak kecuali Dewi dan anaknya. Semua berjabat tangan satu sama lain, di saat putri hendak menjabat tangan Bara, pria itu terlebih dahulu keluar dari ruang rapat tersebut. Putri langsung berdecak kesal dan mengadu kepada ibunya atas tindakan Barat tadi. "Ma. Liat deh Tuan tampan itu ngesselin banget sih, masa dia nggak mau megang tangan putri yang mulus nan bersih ini," adu Putri kesal. "Jangan mudah menyerah sayang, cepet kejar Tuan Bara!" sahut Dewi kepada anaknya. "Oke mah," balas Putri lalu ia berjalan keluar dari ruangan itu dengan meliuk-liukan badannya kekanan dan kekiri. Bara berjalan cepat menuju ruangannya ia tidak sabar ingin melihat wajah istrinya. Setiap langkahnya Bara selalu tersenyum ia memikirkan betapa gemasnya nanti wajah istrinya saat sedang kesal gara-gara ditinggal lama olehnya. Ceklek Benar saja disaat ia membuka pintu ruangannya. Sudah terlihat Meisya yang sedang menekuk wajahnya dengan kesal. Meisya menunggu kehadiran Bara di kursi kerjanya bukan di sofanya lagi. Gadis itu memutar kursi tersebut secara random saking bosannya. "Ck lama," decak Meisya kesal lalu memalingkan wajahnya kearah lain saat melihat Bara yang ternyata sudah datang. Bara langsung menghampiri wanitanya yang saat ini sedang kesal. "Kan kerja sayang," balas Bara. "Terserah kamu deh, aku mau pulang aja," sahut Meisya kesal. Pilihannya untuk kembali ikut ke perusahaan suaminya adalah ke salahan besar, duduk di satu ruangan lebih membosankan dari pada menunggu bara di mansionnya yang lebar. Meisya akhirnya Berdiri, ia mengambil tasnya dan berniat untuk pergi. Belum sampai tiga langkah Meisya kembali memutar badannya lalu melihat Bara yang dengan santai menatap ia pergi dengan menyandarkan punggunya dimeja kerjanya. "Ih Bara kalau aku ngambek tuh ya di bujuk jangan di diemin," kesal Meisya lalu ia kembali meletakkan tasnya dan ia kembali duduk dikursi kerja milik suaminya. Percuma saja ia berakting tadi klo suaminya tidak peka-peka. Niatnya untuk pulang ia urungkan, meski ia bosan tapi ia tidak rela jika suaminya berdekatan dengan wanita lain. Lihat? Jadi sekarang siapa yang terlihat posesif. "Terus kamu mau gimana hm?" tanya Bara dengan mengangkat sebelas alisnya sambil berjalan mendekati Meisya. "E-ee itu--" gugup Meisya saat Bara sudah dekat dengannya. Kedua tangan Bara memegang kursi Meisya dari sebelah kanan dan kiri agar gadis itu tidak bisa memutar kembali kursinya. "Ba-bara," panggil Meisya gelisah saat Bara semakin mendekatkan wajahnya hingga Meisya dapat merasakan hembusan napas Bara yang mengenai wajahnya. Bara terus mendekatkan wajahnya hingga Meisya memejamkan matanya rapat-rapat. Tok tok Sebelum sempat wajah Bara menyentuh wajah Meisya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Meisya dengan sigap langsung menjauhkan wajahnya dari Bara dan menyuruh Bara untuk bersembunyi di bawah meja kerjanya. "Jangan keluar sebulum aku suruh keluar!" peringat Meisya. "Tap--" Bara sebelumnya menolak, tapi disaat melihat tatapan tajam dari istrinya ia pun langsung menurutinya dan berjongkok di bawah meja kerjanya. Bara tidak mau Meisya semakin marah jika ia tidak mau menuruti keinginanya. "Ma--" sebelum Meisya menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba orang tersebut langsung membuka pintunya. Ceklek "Tuan Bara," panggilnya sesudah membuka pintu tersebut. "Ck tidak sopan sekali, saya belum menyuruh Anda untuk masuk," decak Meisya kesal menirukan gaya suaminya. "Siapa kamu? Beraninya duduk di tempat karja Tuan Bara," tanya Putri yang berjalan mendekati meja Bara dengan wajah angkuh. Bara menggeram kesal dibawah mejanya, ingin sekali ia keluar lalu memberi hukuman kepada wanita s****n itu. "Aku istrinya. Memang kenapa?" tanya Meisya. "Oh ternyata kamu yang namanya Meisya," ucap Putri meremehkan Meisya dengan menatap penampilan Meisya dengan tatapan nilai. "Ternyata kamu udah tahu namaku. Jadi sekarang apa alasan kamu masuk ke sini?" tanya Meisya. "Aku ke sini cuman mau ngucapin selamat kepada Tuan Bara, atas kerja sama kami," jawab Putri. "Bara sedang keluar, nanti aku sendiri yang bakal sampaiin ke suamiku, jadi bisa bisa langsung keluar!" balas Meisya dengan menekan kata 'suami'. Terdengar Putri yang berdecak kesal lalu ia pergi meninggalkan ruangan Bara tanpa mengatakan terima kasih kepada Meisya. "Ck tunggu saja pembalasan dari ku wanita s****n," decak Putri saat sudah berada diluar. "Huh," ucap Meisya lega saat Putri sudah keluar. "Sebelas dua belas kayak Tante Siska," gerutu Meisya. Siska yang dimaksud Meisya adalah sekretaris Bara. Bara menggigit lutut istrinya, memberi kode kepada Meisya agar menyuruhnya untuk keluar. Puk Meisya menepuk jidat saat sadar jika Bara masih berada dibawah mejanya. "Keluarlah!" titah Meisya. Bara pun keluar dari persembunyiannya. "Siapa tadi?" tanya Meisya langsung. "Dia Putri, anak tunggal Dewi," jawab Bara seadanya. "Hah!" ujar Meisya terkejut,"Jadi dia sepupuku?" tanya Meisya tidak percaya. "Hmm." "Cantik sih tap--" Meisya masih menggantungkan kalimatnya. "Tapi pakaiannya kayak b***h," sambung Bara spontan. Bara meringis saat Meisya mencubit pinggangnya. "Eh punya mulut tuh di jaga," nasehat Meisya. "Tapi kan kenyataan, Sayang," balas Bara. Meisya memutar bola matanya dengan malas. "Hmm jadi gimana, mau lanjutin yang tadi?" tanya Bara lalu mendekati wajah Meisya kembali. Meisya langsung berdiri dan mendorong d**a bidang Bara agar menjauh darinya. "A-aku mau ke toilet bentar," ucap Meisya lalu langsung buru-buru pergi dari hadapan Bara. Bara tersenyum miring saat melihat tingkah wanitanya, ia pun berjalan ke kursi dan duduk di sana sambil melepaskan dasinya yang terasa sangat mencekal lehernya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN