Panik (KAMELIA POV)

911 Kata
Jantungku rasanya berhenti berdetak saat ini. Katakanlah aku begitu berlebihan namun ini sungguh-sungguh mendebarkan. Seperti lari maraton dan akulah sang pemenang. Ku akui, selama menikah dengan Mr. Brayen kami belum melakukan hubungan intim. Ya, aku juga tidak mengharapkannya. Namun, sore ini menjadi senja yang begitu dingin dan panas. Aura di kamarku terasa berbeda, bukan karena adanya sosok mistis namun pria dingin yang telah kemari. Ya Tuhan. Aku berharap malam ini akan menjadi malam yang panjang. Maksudku, jangan cepat bertemu dengan pagi hari. Aku bahkan bergidik ngeri membayangkan itu semua. Belum saatnya bahkan tidak akan pernah menjadi momen yang kutunggu-tunggu. Dalam pencahayaan minim, lampu berkelap-kelip membentuk sebuah pola yang kupasang di dinding kamar. Ku pikirkan banyak hal untuk menolak walau mustahil. Sadarlah Kamelia, kamu sudah di bayar oleh Tuan Brayen. s**t! pria kaya dengan segala kemudahannya. Jujur saja, aku sedikit geram dengan semua ini, jalan hidup yang tak normal harus menjadi istri ketiga dari pria yang tak kucintai. Meski Mr. Brayen adalah pria yang tampan dan kaya. Setelah ini apa? Lalu bagaimana dengan Joes? Haruskah aku benar-benar mengkhianatinya. Air mataku bahkan tak bisa terbendung lagi. Besok akan menjadi hari yang sial bagiku, bertemu dan melayani si pria dingin. "Ya Tuhan, aku harus lari bagaimana lagi?" Sangking frustasi, aku bahkan sampai mengobrol di depan cermin. Ku akui, aku bukanlah gadis yang begitu bodoh, untuk hal seperti itu aku pernah mempelajarinya saat di bangku sekolah menengah atas. Aku masih ingat dengan jelas, ketika guru Biologi menerangkan tentang semuanya. Hal itu membuatku bergidik ngeri membayangkan. "Nyonya, ayo kita makan malam. Mr. telah menunggu sedari tadi." Astaga! Aku memukul dahiku sendiri begitu keras. Karena hal yang tidak-tidak aku sampai melupakan makan malam yang seharusnya terjadi dua puluh menit yang lalu. "Iya, tunggu saja." Kataku. Sebelum benar-benar menjumpai mereka aku mematut diri di depan cermin. Menarik napas dalam dan menghembuskannya setelah itu siap untuk makan malam bersama Mr. Brayen dan segala kegugupanku. Benar dugaanku, saat menuruni anak tangga mata Mr. Brayen bahkan tak berkedip menatapku. Aku tidak gede rasa, hanya saja itu terlihat nyata. Sumpah, aura panas dan tenggorokan yang kering mulai menjalari ku. "Selamat malam sayang." Ya Tuhan, drama apa lagi yang Mr. Brayen buat. Apakah dia sengaja merayuku agar aku ingin melakukannya besok? "Malam." Tak bisa kupingkiri, mulutku tetap membalas "Malam ini khusus untuk kita berdua." Katanya, kedua tangan Mr. Brayen mengibas-ngibas mengusir para dayang-dayang yang sedari tadi menyiapkan diri. "Mr. Ini terlalu berlebihan. Bagaimana jika kedua istri Mr. cemburu?" Mr. Brayen justru tertawa. Entah mengapa melihat pria itu tertawa aku semakin tak karuan "Mereka cemburu karena mereka sayang denganku. Lalu bagaimana denganmu?" "Aku cemburu?" Pertanyaan itu benar-benar membuatku tertawa "Ya? Apa kau tidak cemburu dengan mereka yang lebih banyak mendapatkan waktu denganku?" Jujur, lebih baik aku tidak menjadi mereka agar tak selalu bertemu dengan pria dingin tersebut. Sedikit bersyukur menjadi istri muda, dimana Mr. Brayen tak begitu peduli padaku. "Mr. aku mengenalmu bukan karena cinta. Bahkan sebelumnya kita tak pernah dekat." "Jadi kau tidak cinta denganku?" Aku mengangguk dengan pasti. "Bagaimana bisa aku mencintai orang yang baru ku kenal beberapa Minggu." Tukasku "Oke. Kita makan malam." Tanpa menunggu lama aku ahkirnya menyantap hidangan yang disajikan diatas meja. Menghilangkan kecanggungan dan rasa malu yang menghantuiku sedari tadi. Sekarang giliran perutku untuk di manja, bukan otak yang sedang ribet. Sesekali aku menatap Mr. Brayen, lelaki itu begitu tenang namun... Sedikit berbeda dari biasanya. Aura wajahnya seperti marah, dan tegas entahlah apa yang terjadi dengannya. Yang jelas, itu tidak mungkin karenaku kan? Aku tidak mempunyai salah sedikitpun. "Apa kau benar-benar tidak mencintaiku?" Tiba-tiba saja Mr. Brayen membuka suara di sela-sela mengunyah "Iya. Apa aku kurang jelas?" Tanyaku. "Baiklah." Katanya lalu mengunyah makanannya. Ada apa dengan Mr. Brayen? Apa aku salah berucap? Atau justru Mr. Brayen suka dengan apa yang ku katakan? Bukankah seperti itu? agar Tuan itu bisa melepaskan ku secepat mungkin. ___________________________________________________________ Setelah menyantap hidangan yang nikmat, ku putuskan untuk menikmati udara luar di malam hari. Karena rumah ini luas, aku memilih untuk duduk di taman dengan bunga-bunga dan langit yang dipenuhi bintang. Malam ini begitu cerah, ceria namun berbeda denganku yang justru merindukan keluarga kecilku. Apa kabar adik lucu dan cerewet? Aku benar-benar merindukan bermain dengan mereka. "Bibi Elsa?" Aku sedikit terkejut, saat Bibi Elsa memegang pundak ku dari belakang. "Sendiri saja, Mr. Brayen dimana?" Mengedikkan bahu tak tahu. Lagi pula aku tidak peduli dengan keberadaanya. "Harus dengan Mr. Brayen?" "Dia suamimu." "Aku mengerti, hanya saja aku tidak terbiasa dan aneh." "Awalnya memang seperti itu. Tapi, seorang istri memang harus begitu. Kau harus hormat dan patuh padanya." Aku menggeleng kuat. "Aku tidak bisa Bi." bagaimana mungkin aku harus patuh kepadanya yang sering semena-mena padaku? Menyanjungnya yang sering membuatku naik darah. "Belajarlah mencintainya, dia adalah pria yang baik." Jika kuhitung Bibi Elsa sudah beberapa kali mengatakan bahwa Mr. Brayen adalah orang yang baik. Namun sampai sekarang aku tak menemukan itu. "Jika memang Mr. Brayen adalah orang yang baik, mengapa dia mengurungku?" Aku memperhatikan Bibi Elsa, wanita paruh baya itu terpegun mendengar pertanyaanku. "Ini sudah malam, sebaiknya lekaslah tidur." Kata Bibi Elsa sebelum berlenggang pergi. Sepertinya ada sesuatu antara Mr. Brayen dan Bibi Elsa. Mereka seolah menyembunyikan sesuatu dariku. Selama ini aku salah, menganggap Bibi Elsa akan membantuku. Namun, sepertinya beliau berpihak pada Tuannya. Ya, bisa apa aku hanya gadis malang yang tinggal di rumah besar namun seperti penjara. Oh ya Tuhan, pelik sekali rasanya harus bertemu dengan orang-orang baru dan begitu mengengkang. Bagaimana aku keluar dari sini? Dan bagaimana aku menolak Mr. Brayen besok? Hari sudah semakin malam, rasanya waktu begitu cepat berjalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN