Prolog

697 Kata
Antara ditinggalkan atau diabaikan, ada yang lebih sakit lagi .... "Via, setelah bersihkan meja ini, kamu langsung ke kamar Chayra, ya? Besok dia harus bangun pagi-pagi, ada acara di sekolahnya. Jadi ... malam ini harus tidur lebih awal." Perintah Nyonya Erisha aku angguki penuh hormat. Kepalaku tetap menunduk dalam sampai terdengar suara derit kursi yang didorong. Sedikit melirik, Nyonya Erisha keluar dari ruang makan ini, membuat napasku sedikit lega. Segera, aku masuk ke dapur meletakkan piring-piring kotor bekas. Menghampiri wanita yang berseragam serupa denganku-khas pelayan. "Mbak Rista, saya tinggal, ya? Mau urus Nona Chayra dulu," ucapku meminta izin. "Iya. Cepetan gih! Sebelum kena amukan Nyonya Erisha lagi!" Mbak Rista terkikik geli, yang aku balas dengan senyuman tipis. Keluar dari dapur, aku melewati ruang tamu. Di antara patung-patung yang menjadi hiasan dalam rumah ini, aku bersembunyi. Menilik melalui lubang-lubang kecil. Memperhatikan keluarga besar yang sedang berkumpul itu. Bercengkerama begitu mesra. Idaman sekali. Di bawah sinar lampu mewah dan besar di atasnya. Hangat. Mereka tertawa, kecuali sosok pria yang selalu menjadi fokus mataku memandang. Pria yang tidak pernah menunjukkan emosinya secara berlebihan itu. "Althaf, kamu antar Selvy pulang, gih! Sudah larut malam." Ucapan Nyonya Erisha menghentikan obrolan tersebut, juga memberikan sejuta rasa di dalam dadaku. Ada sisi bahagia, meski lebih mendominasi rasa perih. Terlalu lama aku memperhatikan mereka, hingga lupa tugasku untuk menemui Nona Chayra di kamarnya. Dengan kepala tertunduk dan langkah cepat, aku meninggalkan tempat persembunyian barusan menuju sebuah lift yang akan mengantar ke lantai empat lebih cepat. Tidak lama, lift terbuka. Langkahku semakin cepat menuju pintu kedua dari yang paling ujung. Tempat Nona kecil berada. Mengetuk beberapa kali, sampai seruan mungil dari dalam terdengar. Mempersilakan untuk masuk. Wajah semringah Nona Chayra menjadi hal pertama yang tertangkap mataku, membuat sudut bibir ini ikut tertarik ke atas. Gadis kecil ini setidaknya bisa mengalihkan sejenak rasa aneh dalam dadaku. Di tengah-tengah ranjang dengan bed cover berwarna merah muda milik Nona Chayra, aku duduk. Bersandar pada kepala tempat tidur. Nona Chayra dengan semangat berbaring di atas pahaku. "Tante Via, mau dongeng. Mau dongeng!" seru Nona Chayra nyaring. Aku mengangguk mengiyakan, membuat giginya semakin terlihat karena senyuman lebar Nona Chayra. Sembari mengusap rambutnya yang agak pirang--warisan ibunya--aku memulai dongeng tentang Cinderella. Nona Chayra menyimak penuh antusias. Sampai dongeng selesai, Nona Chayra sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kantuk. Aku maklum, karena biasanya tidur satu jam lagi. "Nona Chayra tidak mengantuk?" Pertanyaanku dibalas dengan gelengan dari gadis kecil ini. Tanpa mengubah posisi, aku mengganti siasat. Tangan tetap menepuk-nepuk kepalanya ringan. "Ya udah, gini aja, Tante nyanyi, tapi Nona Chayra bobo ya?" Senyuman lebar beserta anggukan semangat Nona Chayra berikan. Sekitar dua lagu anak aku nyanyikan, mata Nona Chayra mulai terpejam. Aku tetap melanjutkan lagu sampai napas Nona Chayra terdengar teratur. Hati-hati, aku memindahkan kepala Nona Chayra ke atas tempat tidur. Selimut ditarik hingga menutupi tubuhnya hingga d**a. Sebelum pergi, aku mengusap lembut rambutnya. Lalu menunduk demi bisa mengecup singkat keningnya. "Selesai?" Tubuhku menegak seketika saat suara berat itu terdengar. Menoleh ke arah pintu, dan menyadari putra sulung Nyonya Erisha bersandar di sana. Aku menunduk saat tatapannya terhunus tajam. Tangan di atas paha saling meremas gugup. Ditambah detak jantung yang keras, membuat perasaanku semakin buruk. "Kamu lupa, Via? Setelah menidurkan Chayra, tugas kamu selanjutnya adalah melayani saya." Ludah aku teguk dengan kasar setelah ultimatumnya terdengar dingin. Bahkan, suara sepatunya mengetuk lantai yang kian mendekat memberikan suasana mengerikan di dalam hatiku. "Tuan ... tapi ... saya ...." Aroma parfumnya yang kuat semakin menyulitkan diriku meminimalisir perasaan aneh dalam hati. "Hukuman lagi, Via. Sudah saya bilang jangan panggil saya 'Tuan' saat kita hanya berdua," ucapnya dingin. Hanya butuh satu jarinya saja, ia mendongakkan kepalaku, menyatukan pandangan, juga bibir kami. "Jangan di sini, kita pindah ke kamar saya. Masih ada empat jam sebelum jam dua belas." Hatiku perih mendengar kalimat itu. Dalam kisah ini, aku memang menjadi Cinderella yang harus meninggalkan sang pangeran saat jam dua belas malam. Tapi kali ini, bukan ibu atau saudara tiri yang menyiksa sang Cinderella, melainkan pangeran itu sendiri. "C'mon, Little Wife. Atau mau saya gendong?" Aku bergerak malas turun dari ranjang. Dalam hati bergumam lirih. Antara ditinggalkan atau diabaikan, ada yang lebih sakit lagi ... yaitu disembunyikan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN