Afwan menghela napas panjang. Tak ada air mata yang mengiringi kata talak untuk Mirna. Tak ada seguratpun bulir sakit yang menghiasi episode hidupnya yang berakhir dengan seorang Mirna. Mantan terindah, perempuan masa lalu dan juga cinta pertamanya. Mengapa rasa sesal itu tidak ada? bukankah dia selama ini memuja Mirna? Bukankan kecantikan Mirna sempurna? bukankah dulu...ya, dulu. Hanya Mirna yang sanggup merubuhkan kebekuan hatinya yang sedingin es dan Sekokoh bongkahan karang. Jawabannya, betapapun manis masa lalu dan betapapun indah kenangannya, semua itu tidak berharga saat tak ada ketulusan cinta yang menyertainya. Sesaat Mirna terisak. Mendapati Afwan yang murka mengeluarkan semua isi lemarinya dengan kasar dan melemparkannya ke arahnya, membuat baju-baju mahal dan bermerknya ber

